Logo

Cara Memilih Barang Thrift yang Masih Layak Pakai

Harga murah akan terasa mahal jika barang yang dibeli tidak bisa digunakan dalam jangka panjang.
Reporter:,Editor:

Senin, 22 June 2026 05:00 UTC

Cara Memilih Barang Thrift yang Masih Layak Pakai

Ilustrasi: Memilih dengan Cermat. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Memilih barang thrift membutuhkan ketelitian yang berbeda dibandingkan membeli pakaian baru. Banyak orang tertarik dengan harga yang lebih rendah, tetapi tidak semua barang bekas memiliki kualitas yang masih layak digunakan.

 

Popularitas thrifting yang terus meningkat membuat semakin banyak anak muda mencoba berburu pakaian bekas sebagai alternatif belanja. Namun di balik peluang menemukan barang unik dengan harga menarik, terdapat risiko mendapatkan produk yang kualitasnya sudah jauh menurun.

 

Karena itu, kemampuan menilai kondisi barang menjadi faktor penting. Pembeli yang memahami cara memilih barang thrift biasanya mampu mendapatkan pakaian berkualitas dengan nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga yang dibayarkan.

 

 

Mengapa Pemeriksaan Kondisi Menjadi Sangat Penting

 

Dalam industri fesyen, umur pakai pakaian sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan dan intensitas penggunaan sebelumnya. Dua pakaian yang terlihat serupa bisa memiliki kondisi yang sangat berbeda.

 

Menurut data dari Program Lingkungan PBB (UNEP), rata-rata penggunaan pakaian secara global meningkat sekitar 36 persen dalam dua dekade terakhir, sementara siklus penggunaan banyak produk fesyen justru semakin pendek. Akibatnya, semakin banyak pakaian yang berpindah tangan sebelum benar-benar habis masa pakainya.

 

Fenomena tersebut menciptakan peluang besar bagi pasar barang bekas. Namun tidak semua produk yang masuk ke pasar thrift memiliki kualitas yang sama.

 

Pemeriksaan fisik menjadi langkah pertama yang menentukan apakah sebuah barang layak dibeli atau sebaiknya dilewati.

 

 

Perhatikan Kondisi Jahitan dan Struktur Pakaian

 

Salah satu indikator kualitas paling mudah dilihat adalah kondisi jahitan. Jahitan yang masih rapat menunjukkan bahwa struktur pakaian relatif terjaga.

 

Periksa bagian bahu, kerah, ujung lengan, serta sisi samping pakaian. Area tersebut biasanya menerima tekanan terbesar selama digunakan.

 

Jika terdapat benang yang terlepas dalam jumlah banyak atau bagian sambungan mulai terbuka, biaya perbaikan bisa membuat pembelian tidak lagi ekonomis.

 

Pakaian dengan struktur yang masih kokoh biasanya memiliki umur pakai lebih panjang meskipun telah digunakan oleh pemilik sebelumnya.

 

 

Kenali Karakteristik Bahan yang Tahan Lama

 

Tidak semua bahan memiliki ketahanan yang sama. Denim, katun tebal, linen, wol, dan beberapa jenis bahan premium cenderung bertahan lebih lama dibandingkan material yang sangat tipis.

 

Laporan Ellen MacArthur Foundation menunjukkan bahwa memperpanjang masa penggunaan pakaian hingga sembilan bulan tambahan dapat mengurangi jejak karbon, limbah, dan penggunaan air sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan pola konsumsi yang lebih cepat.

 

Karena itu, kualitas bahan menjadi pertimbangan utama dalam thrifting. Semakin baik material yang digunakan, semakin besar peluang pakaian tersebut tetap nyaman dipakai dalam waktu lama.

 

Selain meraba tekstur kain, perhatikan apakah bahan sudah menipis, berbulu berlebihan, atau kehilangan bentuk aslinya.

 

 

Cek Noda, Bau, dan Kerusakan Tersembunyi

 

Kesalahan yang sering dilakukan pembeli pemula adalah hanya fokus pada model pakaian. Padahal beberapa kerusakan tidak langsung terlihat dari kejauhan.

 

Periksa area ketiak, kerah bagian dalam, bagian bawah pakaian, serta area lipatan. Noda lama terkadang sulit dihilangkan meskipun sudah dicuci berkali-kali.

 

Bau lembap yang terlalu kuat juga dapat menjadi tanda penyimpanan yang kurang baik dalam jangka waktu lama. Jika kerusakan hanya berupa kancing lepas atau resleting yang mudah diperbaiki, pembelian masih bisa dipertimbangkan. Namun jika terdapat jamur permanen atau kerusakan kain yang luas, sebaiknya cari pilihan lain.

 

 

Jangan Terjebak Harga Murah

 

Harga sering menjadi alasan utama seseorang membeli barang thrift. Namun harga murah tidak selalu berarti pembelian yang menguntungkan.

 

Dalam ilmu perilaku konsumen, fenomena ini dikenal sebagai value illusion, yaitu kecenderungan menganggap barang murah selalu bernilai tinggi meskipun sebenarnya tidak dibutuhkan.

 

Banyak pembeli akhirnya mengoleksi pakaian yang jarang dipakai hanya karena merasa mendapatkan penawaran menarik.

Pendekatan yang lebih bijak adalah mengevaluasi apakah barang tersebut benar-benar sesuai kebutuhan, mudah dipadukan dengan pakaian lain, dan masih memiliki kondisi yang baik.

 

Dengan cara itu, setiap pembelian akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan sekadar kepuasan sesaat.

 

 

Thrifting yang Cerdas Berawal dari Ketelitian

 

Daya tarik utama thrifting memang terletak pada kesempatan menemukan barang unik dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, manfaat tersebut hanya bisa dirasakan jika pembeli mampu menilai kualitas produk secara objektif.

 

Memeriksa jahitan, mengenali bahan, mengecek kerusakan tersembunyi, dan menghindari keputusan impulsif merupakan langkah sederhana yang membuat pengalaman thrifting jauh lebih memuaskan.

 

Pada akhirnya, memilih barang thrift yang masih layak pakai bukan hanya soal menghemat uang. Kebiasaan ini juga membantu membangun pola konsumsi yang lebih sadar, lebih efisien, dan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.