Iwak gatul tul tul tul tul / Iwak lele lele lele le le / Wak kaji ji ji ji ji ji / Wes buyar..yar yar yar wes buyar. 

SEPENGGAL lirik itu digubah dengan intonasi Baby Shark. Dinyanyikan Culo, Boyo, dan Dafa -karakter animasi-, penampilan mereka diunggah di kanal Youtube Cak Ikin. Hasilnya, video itu jadi viral, memancing 1,5 juta penonton, dan mengundang pengiklan.

“Itu video yang ngangkat banget. Tahun lalu sampai sekarang masih hits,” kata Mohamad Ikhsan alias Cak Ikin pada Jatimnet.com, Selasa 4 Desember 2018.

Culo adalah pelesetan dari Suro. Bentuknya ikan. Adapun Boyo berupa buaya. Suro dan Boyo jadi simbol Kota Surabaya. Dua karakter kartun itu lahir sejak 2007 silam.

“Awalnya judulnya Suroboyo, misinya memperkenalkan budaya termasuk dialek lokal suroboyoan. Filmnya banyak misuh-misuh,” katanya.

Mulanya, Suroboyo berjalan lewat jalur indie dan diputar di banyak kampus sebagai bahan diskusi. Ada lima seri dengan durasi sekitar 10 menitan.

Belakangan film itu tayang di dunia maya. Entah siapa pengunggahnya. Yang jelas, Cak Ikin panen pujian sekaligus hujatan karena penontonnya datang dari segala usia. “Di internet penontonnya tak bisa dibatasi, termasuk anak-anak” katanya.

Konten penuh umpatan tentu bukan untuk anak-anak. Cak Ikin merasa punya tanggung jawab moral.

Maka pada 2010, lulusan Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini meluncurkan film Culoboyo. Ini Suroboyo versi anak-anak dengan dialog tokohnya cadel.

Lima tahun berselang ia beralih ke Youtube. Misinya sama, mengenalkan budaya lokal lewat dongeng dan lagu. “Konsepnya kolaborasi, lagu di video saya itu dari seniman lain. Saya yang bikin animasinya,” katanya.

Saat ini ada 186 video pendek berdurasi dua hingga tiga menit di kanal Youtube miliknya. Karakternya beragam. Ada Culo, Boyo, Dafa, Mbah Mukidi, Cak Ikin, dan beragam karakter yang numpang lewat sesuai isu yang sedang viral.

Cak Ikin biasa menyapa penonton lewat kolom komentar atau kuis. “Ada acara Q and A (question-answer) waktu subscriber saya tembus 100 ribu misalnya. Nanti tanya-jawab lagi kalau pelanggan saya tembus 1 juta. Topiknya yang membuat mereka penasaran saja,” katanya.

Dan kini subscriber-nya mencapai 410 ribu.

Q and A terakhir, berisi teka-teki identitas Cak Ikin. Meski di videonya, ia tampil dengan rambut gondrong dan gemar bertopi, nyatanya sosok Cak Ikin adalah lelaki berperawakan kecil dengan rambut pendek. Ia juga bukan Arek Suroboyo, tapi Bojonegoro.

Banyak Iklan Banyak Uang

Muncul di kolom komentar dan Q and A jadi strategi Cak Ikin mendekatkan diri pada penikmat videonya. Cara itu efektif mendatangkan pengunjung di kanal Youtube. Banyak pengunjung, banyak iklan. Jika sudah begitu, uang pun datang.

“Kalau ada iklan itu tandanya video kita dibayar oleh Youtube,” katanya.

Selain banyaknya pengunjung, menurut dia, ada syarat lain. Di antaranya keaslian karya, bahasa yang dipakai, serta kualitas konten secara keseluruhan.

Platform video yang berbasis di California, Amerika Serikat itu terus memperbarui aturan. Mereka semakin ketat soal konten yang layak dilihat segala usia karena cocok beragam produk iklan.

Menurut dia, meski pengunjungnya jutaan orang, kalau tak sesuai aturan, Youtube tak memberi iklan. “Kan ada youtuber yang kontroversial, penontonnya jutaan tapi iklan nggak mau masuk. Itu artinya videonya nggak dibayar sama Youtube,” jelasnya.

Ia pun membagi cara kerja mendatangkan uang. Sesuai pengalamannya, ada tiga jenis iklan. Besaran duitnya pun berbeda. Pertama iklan tempel, iklan yang bisa di-skip, dan iklan yang tak bisa di-skip. Dari ketiganya, iklan yang tak bisa di-skip-lah yang termahal. Sedangkan iklan tempel yang termurah.

Honor iklan beragam. Rata-rata antara USD 0,2-1,5 per klik. Menurut dia, tempat pengakses video juga menentukan besar-kecil honor. Dibanding Malaysia dan Jepang misalnya, honor video yang diakses di Indonesia terbilang paling kecil. Yang terbesar jika video diakses dari Amerika. Honornya bisa mencapai USD 15 per klik.

90 persen penonton kanal Cak Ikin berasal dari Jawa Timur. “Konten saya kan sangat lokal tapi ternyata ada juga penonton dari luar negeri. Mereka itu biasanya pelajar atau TKI,” katanya.

Meski jumlah pendapatan dari Youtube tak bisa dipastikan tiap bulan, Cak Ikin pernah meraup uang hingga Rp 30 juta per bulan. Ia mengaku rumah dan mobil miliknya dibeli dari penghasilan iklan tiga tahun terakhir.

Kini, Cak Ikin juga mengangkat empat orang asisten untuk produksi film Culoboyo. Mereka bekerja dengan sistem “lepas”. Model penggajiannya ada yang per bulan, beli-putus karya, hingga bagi hasil.

Selain empat orang itu, ada seorang seniman yang bertugas membuat lagu untuk videonya.

Mengutip keterangan dari laman pers Youtube, perusahaan itu menyebut telah membayar lebih dari USD 2 miliar (atau setara Rp 29 triliun) selama lima tahun terakhir pada youtuber.

Youtube sekaligus mengklaim adanya tren peningkatan pendapatan. Kanal dengan penghasilan enam digit meningkat 40 persen per tahun. Sedangkan kanal dengan penghasilan lima digit meningkat 50 persen per tahun.

Menurut Cak Ikin, asal konsisten dan mampu membuat konten menarik dan asli, siapa pun bisa meraup dolar dari media sosial. “Sekarang kan banyak, ada Youtube dan media sosial yang lain. Prinsipnya sama, konten harus orisinil,” katanya.

Karya Bagus Pun Tetap Ada Haters

Cak Ikin pernah berusaha melebarkan sayap di jagat maya. Pada 2016 Culoboyo hadir di platform komik daring, Webtoon. Lalu, pernah juga di lapak merchandise Shopee dan Tokopedia. Toh, yang laris mendatangkan uang hanya Youtube.

Menurut dia, itu karena ia tak bisa membagi fokus kerja. “Saya kan sendirian, jadi kurang fokus. Kegiatan offline juga banyak. Webtoon trennya mulai menurun. Ingat Juki? Dulu dia populer tapi sekarang sudah turun,” katanya.

Mengutip hasil survei We Are Social dan Hootsuit per Januari 2018, tren penggunaan media sosial meningkat rata-rata sebanyak 13 persen di seluruh dunia.

Di Indonesia, peningkatannya bahkan mencapai 22 persen. Posisi itu menempatkan Indonesia sebagai tiga besar negara dengan peningkatan terpesat. Penduduk Indonesia tercatat menghabiskan rata-rata 3 jam 23 menit untuk berselancar di media sosial.

Survei itu sekaligus menempatkan Youtube sebagai dua besar platform sosial dunia yang paling digemari, menguntit Facebook di peringkat teratas. Pengguna aktif Youtube mencapai 1,5 miliar per bulan, posisi itu mengungguli Whatsapp dengan 1,3 miliar per bulan.

Namun pencapaian itu juga menuntut konten dan kreativitas yang konsisten. Video harus terus diperbaharui setidaknya dua kali dalam sepekan.

Maka ide menjadi barang mahal yang memakan waktu berhari-hari meski proses produksi bisa selesai 24 jam. “Yang sulit itu mencari idenya. Kalau sedang sibuk offline bisa dua minggu lebih saya belum upload,” katanya.

Kalau sudah begitu, penikmat setia suka bertanya. Kenapa tak ada video baru dalam waktu lama.

Tak hanya dikunjungi penggemar, kanal Cak Ikin juga kerap disambangi haters. Sebagus apa pun karya yang diunggah, mereka tetap menghina. Cak Ikin tak peduli. “Biarin saja, sebagus apa pun video saya, pasti masih ada saja haters-nya,” katanya.