Senin, 07 July 2025 05:00 UTC

Permintaan bubur suro di salah satu produsen makanan legendararis di Kabupaten Jombang meningkat sepanjang bulan Muharam ini.
JATIMNET.COM, Jombang – Beragam tradisi senantiasa mewarnai dinamika masyarakat sepanjang bulan Muharam setiap tahunnya.
Tak terkecuali di Desa Sidowarek, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Sebagian warga di sana memiliki kebiasaan menggelar ruwatan, tasyakuran maupun doa bersama di kampung.
Bubur suro menjadi salah satu sajian yang kerap kali dihidangkan dalam acara tersebut. Atik Maria, warga Desa Sidowarek merupakan salah satu pembuat kuliner legendaris tersebut.
BACA: Memandikan Pusaka, Tradisi Masyarakat Jawa Saban Bulan Suro
Setiap menjelang bulan Muharam atau Suro (tahun baru dalam penanggalan Jawa), perempuan ini kebanjiran order. Rata-rata pesanan yang masuk untuk peringatan 10 Muharam untuk keperluan tolak bala dan tasyakuran keluarga.
"Bubur suro ini juga banyak dipesan saat peringatan 10 Muharam. Warga percaya ini bagian dari menjaga keselamatan," ujar Atik belum lama ini.
Bubur suro bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari tradisi yang memiliki makna filosofis. "Meskipun bahannya sama-sama dari beras, tapi isian dan maksud penyajiannya berbeda (dengan bubur ayam biasa),” ujar Atik belum lama ini.
Ciri khas bubur suro terletak pada tujuh jenis lauknya, seperti ikan teri, kacang goreng, sambal goreng krecek, tempe kletik, telur dadar iris serta ayam suwir berbumbu dan kerupuk.
BACA: Peringati Tahun Baru Islam, Warga Krejengan Probolinggo Gelar Tradisi Kadisah
Dalam penyajiannya, bubur suro cenderung lebih kering karena tidak menggunakan kuah kaldu seperti halnya bubur ayam.
“Penyajiannya lengkap (dengan tujuh jenis lauk) dalam satu piring atau kotak, sering dikonsumsi secara berjamaah dalam acara adat," terangnya.
Keberadaan bubur suro yang masih terjaga hingga kini menunjukkan lestarinya kearifan lokal di Desa Sidowarek, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.
