Logo

BNPB Targetkan Karhutla Bromo Padam Jumat

Opsi modifikasi cuaca disiapkan
Reporter:,Editor:

Selasa, 11 August 2026 13:30 UTC

BNPB Targetkan Karhutla Bromo Padam Jumat

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Suharyanto dan rombongan sedang meninjau kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo, Selasa, 11 Agustus 2026. Foto: Zulalif.

JATIMNET.COM, Probolinggo – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo dapat dikendalikan dan dipadamkan paling lambat Jumat, 14 Agustus 2026.

Target tersebut dikejar setelah kebakaran memasuki hari kesembilan pada Selasa, 11 Agustus 2026, dengan luas areal terdampak mencapai 889 hektare.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, operasi pemadaman terus dilakukan melalui jalur darat dan udara. Namun, kondisi geografis kawasan Bromo menjadi salah satu tantangan utama bagi petugas.

“Operasi pemadaman terus kita lakukan, baik melalui darat maupun udara,” kata Suharyanto.

Menurut dia, target pemadaman pada Jumat diperlukan agar personel dan armada yang saat ini terkonsentrasi di kawasan Bromo dapat segera dialihkan untuk membantu penanganan karhutla di wilayah lain.

“Kami berharap Jumat sudah bisa diselesaikan sehingga kekuatan yang ada bisa kita geser ke daerah lain yang juga mengalami kebakaran,” ujarnya.

 

Opsi Modifikasi Cuaca

Untuk mempercepat pemadaman, BNPB menyiapkan sejumlah strategi tambahan, termasuk memperkuat operasi pemadaman melalui udara.

Salah satu opsi yang disiapkan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pelaksanaannya akan menyesuaikan kondisi atmosfer serta kebutuhan penanganan kebakaran di lapangan.

Saat ini, operasi udara diperkuat dengan pengerahan tiga helikopter untuk melakukan water bombing. Helikopter mengambil air dari sumber yang tersedia sebelum menjatuhkannya ke titik-titik yang masih terbakar.

Namun, operasi tersebut tidak sepenuhnya berjalan mudah. Jarak sumber air dengan lokasi kebakaran cukup jauh sehingga memengaruhi waktu operasional helikopter.

Sumber air yang digunakan untuk mendukung operasi water bombing antara lain berada di kawasan Ranu Pani dan Ranu Kumbolo. Helikopter membutuhkan waktu untuk melakukan perjalanan bolak-balik dari lokasi pengambilan air menuju titik kebakaran.

 

Lereng Curam Hambat Pemadaman Darat

Selain kendala operasi udara, kondisi medan menjadi persoalan dalam pemadaman melalui jalur darat. Petugas harus bekerja di kawasan berbukit dengan kemiringan lereng yang sangat ekstrem, bahkan mencapai sekitar 80 derajat.

Keterbatasan peralatan manual berupa gebyok juga membuat upaya memutus jalur rambatan api di sejumlah titik tidak mudah dilakukan.

Karena itu, pemadaman udara menjadi salah satu andalan untuk menjangkau titik api yang berada di lereng dan perbukitan yang sulit didatangi personel.

Hingga kini, sekitar 800 personel gabungan dikerahkan secara bergantian untuk menangani karhutla tersebut. Mereka berasal dari unsur TNI, Polri, petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), personel sejumlah taman nasional lainnya, relawan, serta masyarakat sekitar.

 

Api Menyebar di Empat Kabupaten

Karhutla yang berlangsung lebih dari sepekan tersebut telah menjalar ke empat kabupaten di sekitar kawasan Bromo, yakni Lumajang, Probolinggo, Malang, dan Pasuruan.

Di Kabupaten Lumajang, kebakaran terjadi di Blok Bantengan. Sementara di Probolinggo, titik terdampak berada di kawasan Pundak Lembu dan P 30.

Di Kabupaten Malang, api menjangkau kawasan Poncokusumo hingga Jemplang. Sedangkan di Kabupaten Pasuruan, kebakaran terpantau di wilayah Wonokitri.

Pemadaman darat masih dilakukan secara intensif. Tim gabungan menyisir kawasan terdampak sekaligus berupaya memutus rambatan api menggunakan peralatan manual.

Dengan luas wilayah terdampak yang terus menjadi perhatian, BNPB kini mengejar target pemadaman hingga Jumat. Jika target tersebut tercapai, kekuatan personel dan armada yang saat ini berada di Bromo dapat segera digeser untuk membantu penanganan karhutla di daerah lain.