Logo

Biaya Jamnas Tak Seragam, Gratis hingga Rp5,4 Juta

Menjelang pembukaan Jamnas XII, perbedaan subsidi membuat beban biaya peserta berbeda tajam antardaerah.
Reporter:,Editor:

Rabu, 12 August 2026 12:00 UTC

Biaya Jamnas Tak Seragam, Gratis hingga Rp5,4 Juta

Ilustrasi biaya Jamnas 2026 yang ditanggung peserta Pramuka. (Pict. Dx Gen-ai)

JATIMNET.COM, Jakarta – Kontingen Pramuka dari berbagai daerah mulai bergerak menuju Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur menjelang Jambore Nasional (Jamnas) XII pada 13–20 Agustus 2026.

Di balik pertemuan besar Pramuka Penggalang tersebut, terdapat perbedaan mencolok dalam pembiayaan peserta: sebagian dapat berangkat tanpa dipungut biaya, sementara di daerah lain kebutuhan yang harus disiapkan mencapai lebih dari Rp5 juta per orang.

Jamnas XII mempertemukan Pramuka Penggalang dari kwartir cabang seluruh Indonesia, ditambah Pramuka Berkebutuhan Khusus (PBK), unsur kontingen daerah, pembina, peserta luar negeri hingga panitia.

Pada Selasa-Rabu, 11–12 Agustus 2026, sejumlah daerah masih melakukan pelepasan dan perjalanan kontingen menuju Cibubur menjelang dimulainya kegiatan pada 13 Agustus 2026.

Kalimantan Barat, misalnya, mengirim 505 anggota kontingen. Sumatera Utara menyiapkan 1.179 anggota kontingen, sedangkan Lampung juga melepas rombongannya menuju Cibubur. Jawa Timur sebelumnya telah melepas 1.537 anggota kontingen di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis, 6 Agustus 2026. 

Namun, di tengah mobilisasi peserta tersebut, dokumen persiapan dari sejumlah daerah menunjukkan tidak adanya angka tunggal yang menggambarkan biaya riil untuk memberangkatkan seorang peserta ke Jamnas.

Pada tingkat nasional, Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka menetapkan camp fee Rp1 juta per peserta dan pembina pendamping. Camp fee tersebut merupakan biaya penyelenggaraan tingkat nasional dan tidak dapat langsung disamakan dengan seluruh kebutuhan yang harus disiapkan peserta di daerah.

Biaya dapat bertambah karena masing-masing kontingen membutuhkan transportasi menuju Cibubur, seragam, perlengkapan perkemahan, konsumsi, kegiatan pemusatan latihan dan berbagai atribut. Persoalannya, siapa yang menanggung kebutuhan tambahan tersebut berbeda dari satu daerah ke daerah lain.

Contoh paling kontras terlihat di Kota Tangerang. Pemerintah Kota Tangerang menyatakan seluruh kebutuhan 32 Pramuka Penggalang yang menjadi peserta dari daerah itu ditanggung Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora).

“Kontingen Pramuka Kota Tangerang di ajang Jamnas XII 2026 nanti tidak akan dipungut biaya apapun,” kata Ketua Tim Kerja Pramuka Dispora Kota Tangerang Bobby Yunandar di Kota Tangerang, Selasa, 5 Mei 2025. 

Menurut Bobby, dukungan pemerintah kota tidak hanya mencakup camp fee. “Seluruh biaya camp fee dan kelengkapan lainnya ditanggung Dispora Kota Tangerang,” ujarnya saat pelaksanaan seleksi peserta Jamnas di Kota Tangerang.

Situasinya berbeda di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Surat Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Mojokerto mengenai seleksi Jamnas XII mencantumkan bahwa calon peserta yang dinyatakan lolos dikenakan kontribusi Rp5,475 juta per orang.

Dokumen tersebut memberikan rincian cukup lengkap. Dari Rp5,475 juta itu, Rp1 juta merupakan kontribusi Jamnas. Sisanya mencakup ransel gunung Rp350 ribu, kain seragam Rp180 ribu, ongkos jahit Rp150 ribu, konsumsi selama Jamnas Rp950 ribu, konsumsi selama diklat Rp900 ribu, serta transportasi pulang-pergi Rp650 ribu.

Masih terdapat kebutuhan lain seperti training, dua kaos kegiatan, pakaian dinas lapangan, matras, hasduk, tongkat, tali dan atribut peserta.

Surat Kwarcab Kabupaten Mojokerto itu juga menyebut pembiayaan diharapkan berasal dari pangkalan sekolah yang digali melalui iuran Pramuka dan bekerja sama dengan orang tua atau wali peserta.

Perbandingan Tangerang dan Mojokerto memperlihatkan bahwa angka biaya yang dihadapi peserta tidak hanya ditentukan oleh Kwarnas. Camp fee nasional sama-sama Rp1 juta, tetapi dukungan pemerintah daerah, kwartir, sekolah dan sumber pembiayaan lain menentukan seberapa besar biaya yang akhirnya sampai kepada keluarga.

Karena itu, biaya Rp5,475 juta di Mojokerto tidak tepat disebut seluruhnya sebagai biaya yang ditarik panitia nasional Jamnas. Sebagian besar merupakan paket kebutuhan kontingen daerah, termasuk transportasi, konsumsi pelatihan, seragam dan perlengkapan yang akan digunakan peserta.

Namun perbedaan model pembiayaan tersebut memunculkan persoalan mengenai pemerataan akses. Jamnas diperuntukkan bagi Pramuka Penggalang berusia 11–15 tahun yang terlebih dahulu mengikuti proses seleksi di daerah.

Ketika peserta yang telah lolos seleksi kemudian menghadapi kebutuhan biaya berbeda hingga jutaan rupiah, kemampuan pemerintah daerah, kwartir, sekolah dan keluarga ikut memengaruhi beban untuk mengikuti kegiatan nasional yang sama.

Kondisi itu menjadi semakin relevan karena pembiayaan Jamnas sejak awal dirancang menggunakan berbagai sumber. Petunjuk Pelaksanaan Jamnas XII mencantumkan anggaran Kwarnas, bantuan pemerintah melalui APBN, bantuan pemerintah daerah melalui APBD, Kwarda, Kwarcab, iuran peserta, serta donatur dan sponsorship sebagai sumber pembiayaan.

Keberadaan APBN dan APBD dalam skema tersebut tidak otomatis berarti pemerintah membiayai seluruh kebutuhan setiap peserta. Sampai menjelang pelaksanaan Jamnas, belum ditemukan dalam dokumen publik yang ditelusuri rincian agregat yang menunjukkan berapa porsi masing-masing sumber tersebut terhadap keseluruhan anggaran penyelenggaraan.

Perbedaan kebijakan daerah justru menunjukkan pentingnya transparansi tersebut. Kota Tangerang memilih menggunakan dukungan pemerintah daerah sehingga peserta dibebaskan dari camp fee dan biaya perlengkapan. Sementara daerah lain menggunakan kombinasi pembiayaan kwartir, sekolah, iuran Pramuka dan orang tua.

Bagi Jawa Timur, persoalan tersebut penting karena provinsi ini mengirim salah satu rombongan besar ke Cibubur. Kontingen Jatim berjumlah 1.537 orang dari berbagai unsur.

Dengan skala itu, besaran dukungan pemerintah daerah dan kwartir serta bagian biaya yang masih ditanggung keluarga menjadi informasi yang relevan bagi publik.

Perbedaan kebutuhan transportasi memang membuat biaya kontingen dari berbagai wilayah Indonesia sulit diseragamkan. Peserta dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi atau Indonesia bagian timur menghadapi kebutuhan perjalanan berbeda dengan peserta Jabodetabek. Perlengkapan dan program pembinaan setiap kontingen juga dapat berbeda.

Namun, perbedaan antara peserta yang memperoleh subsidi penuh dan peserta yang harus mencari pembiayaan hingga jutaan rupiah memperlihatkan tantangan lain: kesempatan mengikuti Jamnas setelah lolos seleksi belum tentu membawa konsekuensi finansial yang sama bagi setiap keluarga.

Jamnas XII dijadwalkan berlangsung mulai 13-20 Agustus 2026. Menjelang pembukaan, kontingen dari berbagai provinsi terus menuju Cibubur untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang tahun ini mengusung tema “Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan”.

Di tengah pertemuan puluhan ribu anggota Pramuka tersebut, perbedaan pembiayaan menjadi catatan penting bagi penyelenggaraan kegiatan nasional berikutnya.

Transparansi mengenai komponen biaya dan penguatan skema subsidi dapat menjadi faktor penting agar seleksi kemampuan dan kecakapan peserta tidak pada akhirnya dibayangi kemampuan ekonomi keluarga atau kapasitas fiskal daerah asal.