Rabu, 12 August 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Pilihan dari Negeri Sendiri. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Belanja produk lokal sering mendapat perhatian lebih besar sepanjang Agustus. Menjelang Hari Kemerdekaan, ajakan memakai dan membeli produk Indonesia bermunculan di pusat perbelanjaan, media sosial, bazar, sampai lingkungan tempat tinggal.
Di Surabaya, pilihannya pun tidak sedikit. Ada sambal rumahan, pakaian dari label independen, sepatu, kopi, furnitur, kerajinan, produk kecantikan, hingga barang kebutuhan rumah yang diproduksi pelaku usaha Indonesia.
Namun, ada pertanyaan yang lebih relevan daripada sekadar “lokal atau impor”: apa yang membuat konsumen bersedia membeli produk lokal lagi setelah transaksi pertama?
Jawabannya berkaitan erat dengan perubahan cara masyarakat Indonesia berbelanja.
Konsumen Indonesia Sudah Hidup di Dua Etalase
Belanja hari ini tidak sepenuhnya online dan tidak sepenuhnya offline. Seseorang bisa melihat tas di media sosial ketika sarapan, membandingkan harga melalui marketplace saat istirahat, lalu datang ke toko sepulang kerja karena ingin memegang bahannya secara langsung.
Perilaku semacam ini tumbuh bersama semakin luasnya akses internet. Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024 dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat 221.563.479 pengguna internet. Tingkat penetrasinya mencapai 79,5 persen dari total populasi yang menjadi basis survei, yakni 278.696.200 jiwa.
Dibandingkan survei APJII sebelumnya, penetrasi internet tercatat 78,19 persen pada 2023. Pada 2018 angkanya masih 64,8 persen.
Perubahan tersebut memberi produk lokal lebih banyak pintu untuk bertemu calon pembeli.
Sebuah usaha di Surabaya tidak harus memiliki toko di jalan utama agar dikenal. Pemiliknya dapat mengunggah katalog, menerima pertanyaan melalui pesan instan, mengikuti bazar akhir pekan, lalu mempertahankan pelanggan melalui kanal digital.
Tetapi jangan membayangkan semua perdagangan digital Indonesia berlangsung di marketplace besar.
Badan Pusat Statistik memperkirakan ada 3.816.750 usaha e-commerce pada 2023, meningkat 27,40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari usaha tersebut, 95,33 persen menggunakan aplikasi pesan instan sebagai salah satu media penjualan.
Media sosial digunakan oleh 33,29 persen usaha e-commerce. Sementara yang menggunakan marketplace atau platform digital tercatat 17,80 persen.
Jadi, percakapan sederhana seperti “stok warna hitam masih ada?” di WhatsApp juga menjadi bagian dari transformasi perdagangan Indonesia.
Di Balik Produk Lokal Ada Pasar Kerja yang Besar
Alasan membeli barang tentu sangat personal. Ada yang mengejar harga, kualitas, desain, rasa, kenyamanan, atau sekadar menemukan produk yang cocok.
Meski begitu, pilihan tersebut berlangsung di dalam struktur ekonomi yang besar. Pemerintah mencatat Indonesia memiliki lebih dari 64 juta unit UMKM. Kelompok usaha ini berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap produk domestik bruto nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.
Proporsi sebesar itu membuat UMKM bukan lapisan pinggir dalam kehidupan ekonomi Indonesia. Mereka hadir dalam bentuk yang kadang tidak dianggap sebagai bagian dari “produk lokal” karena terlalu akrab: penjahit, pembuat makanan, toko kecil, produsen kerajinan, bengkel produksi, usaha furnitur, percetakan, sampai pemasok berbagai kebutuhan rumah tangga. Surabaya mempunyai ekosistem yang padat untuk aktivitas semacam ini.
Sepanjang 2025, Pemerintah Kota Surabaya mencatat 5.250 UMKM menerima intervensi dalam berbagai bentuk. Pendampingannya meliputi pemasaran, legalitas usaha, pendaftaran merek, sertifikasi halal, serta Nomor Induk Berusaha.
Ada pula program yang menghubungkan produk UMKM dengan hotel, restoran, kafe, pusat perbelanjaan, dan pasar yang lebih luas.
Bagi konsumen, proses tersebut hampir tidak terlihat.
Yang sampai di tangan pembeli biasanya tinggal barang jadinya: satu kotak makanan, sebuah pakaian, tas, kerajinan, atau produk rumah tangga. Padahal kemampuan usaha memenuhi standar dan menjaga pasokan ikut menentukan apakah barang itu bisa bertahan di rak.
Harga Murah Bukan Satu-satunya Pertimbangan
Ajakan membeli produk lokal kadang terlalu cepat dibawa ke ranah patriotisme. Masalahnya, konsumen hidup dengan anggaran nyata.
Keluarga akan membandingkan harga. Pekerja mencari barang yang awet. Pembeli makanan memperhatikan rasa dan keamanan. Orang yang membeli pakaian ingin ukuran yang pas dan bahan yang nyaman.
Produk lokal tetap harus melewati pertimbangan tersebut. Di titik ini, persaingan justru sehat jika mendorong produsen memperbaiki kualitas. Label “buatan Indonesia” dapat membuka percakapan, tetapi sulit menjadi satu-satunya alasan pelanggan bertahan.
Konsumen juga tidak perlu membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan hanya demi merasa telah mendukung usaha lokal.
Kebiasaan yang lebih masuk akal adalah memasukkan produk Indonesia sebagai pilihan ketika memang sedang membutuhkan barang.
Sedang mencari kopi? Bandingkan beberapa roaster lokal. Perlu sepatu kerja? Lihat produk merek Indonesia bersama pilihan lainnya. Membeli hampers? Produsen makanan dan kerajinan daerah bisa masuk daftar pertimbangan.
Cara semacam ini membuat dukungan kepada produk lokal tidak berubah menjadi konsumsi berlebihan.
Pembayaran Digital Memangkas Satu Hambatan Kecil
Bayangkan bazar Agustusan di Surabaya pada akhir pekan. Seorang pembeli menemukan produk yang disukai, tetapi tidak membawa uang tunai. Beberapa tahun lalu, transaksi mungkin berhenti sampai di sana. Sekarang penjual cukup menunjukkan kode QR.
Bank Indonesia mencatat pada Semester I 2025 terdapat 57 juta pengguna QRIS dan 39,3 juta merchant. Sebanyak 93,16 persen merchant tersebut merupakan UMKM.
Aktivitas transaksinya juga besar. Sepanjang enam bulan pertama 2025, QRIS memproses 6,05 miliar transaksi dengan nilai Rp579 triliun.
Perkembangannya berlanjut. Hingga April 2026, Bank Indonesia mencatat jumlah pengguna QRIS telah mencapai 63 juta, sedangkan merchant yang menerima pembayaran melalui sistem tersebut sudah melampaui 45 juta.
Bagi usaha kecil, manfaat pembayaran digital sebenarnya sangat praktis. Penjual tidak perlu menyiapkan banyak uang kembalian. Pembeli mempunyai pilihan pembayaran lebih luas. Catatan transaksi digital juga dapat membantu pemilik usaha melihat arus penjualan dengan lebih teratur.
Pengalaman membeli akhirnya terasa semakin mirip antara toko kecil dan jaringan ritel besar. Hal kecil seperti ini ikut menentukan kenyamanan konsumen.
Produk Lokal Juga Harus Mendapat Hak untuk Dikritik
Mendukung produk dalam negeri tidak berarti menurunkan standar. Jika barang cepat rusak, konsumen berhak mengeluh. Jika ukuran pakaian tidak konsisten, merek perlu memperbaikinya.
Jika informasi makanan tidak jelas, pembeli pantas meminta penjelasan. Justru hubungan yang sehat antara konsumen dan produsen dibangun dari ekspektasi yang wajar.
Ulasan juga sebaiknya spesifik. Daripada hanya menulis “jelek”, informasi bahwa tutup kemasan bocor saat pengiriman jauh lebih berguna bagi penjual. Begitu pula pujian mengenai bahan yang nyaman atau pelayanan cepat.
Untuk pembelian daring, konsumen bisa membiasakan diri memeriksa identitas penjual, ulasan pembeli, informasi produk, kebijakan pengembalian, serta kanal pembayaran yang digunakan.
Harga yang terlalu jauh di bawah pasar juga layak diperiksa kembali, terutama untuk barang bermerek. Kebanggaan terhadap produk Indonesia tetap perlu ditemani kecermatan sebagai konsumen.
Belanja Lokal Tidak Harus Menunggu Agustus
Ada alasan ekonomi mengapa produk dalam negeri ramai dibicarakan pada bulan kemerdekaan. UMKM menopang lebih dari 60 persen PDB Indonesia dan menjadi tempat bekerja bagi sebagian besar tenaga kerja nasional.
Namun konsumen jarang berpikir tentang PDB ketika berdiri di depan rak. Mereka memikirkan kebutuhan yang lebih dekat: barangnya bagus atau tidak, harganya sesuai atau tidak, mudah dibeli atau tidak.
Justru ketika produk lokal mampu menjawab kebutuhan sederhana tersebut, kebiasaan membeli dapat bertahan tanpa kampanye khusus.
Di Surabaya, pemandangan itu semakin biasa. Produk ditemukan dari layar ponsel, dilihat langsung di bazar atau toko, dibayar dengan QRIS, kemudian direkomendasikan ke teman jika pengalaman pembeliannya menyenangkan. Tak semuanya harus berakhir dengan slogan besar.
Saat Agustus berlalu dan dekorasi merah putih mulai dilepas dari etalase, ukuran paling sederhana keberhasilan belanja produk lokal mungkin terlihat dari satu perilaku: konsumen tetap memasukkannya ke keranjang karena memang cocok, bukan karena sedang diminta.
