Belajar dan Sarapan Gratis di Sekolah Rakyat Kejawan

Khoirotul Lathifiyah
Khoirotul Lathifiyah

Rabu, 1 Mei 2019 - 17:57

JATIMNET.COM, Surabaya - Gegap gempita peringatan Hari Buruh Internasional atau biasa disebut May Day tak membuat perhatian Radian Jadid (44) teralihkan. Kepala Sekolah Rakyat Kejawan ini bersama anggota keluarganya tetap fokus untuk mempersiapkan alat-alat kreasi tas dari bahan bekas untuk anak didiknya.   

"Bahan tas ini akan digunakan Sabtu 4 Mei mendatang. Hari ini tanggal merah, anak-anak libur dan istirahat," kata Jadid saat diwawancarai Jatimnet.com di rumah sekaligus sekolahnya di Jalan Kejawan Putih BMA Nomor 33, Kejawan Putih Tambak, Mulyorejo Surabaya, Rabu 1 Mei 2019.

Pria dengan empat anak ini memutuskan mendirikan sekolah non formal untuk masyarakat kurang mampu. "Saya bersama istri saya Sita Pramesthi mendirikan sekolah ini sejak 2008 lalu," kata dia.

BACA JUGA: Tanamkan Jiwa Menabung, Kades Bringinan Bagikan 500 Kotak Tabungan

Pria asal Magetan mempunyai prinsip membantu semua orang tanpa pertimbangan apapun. Prinsip itulah yang teguh dipegangnya ketika ditanya soal motivasinya mendirikan sekolah itu.

Sejak pindah di Jalan Kejawan pada 2008 lalu, ia melihat kesenjangan sosial di masyarakat. Banyak anak-anak yang putus sekolah, menikah dini dan motivasi belajar yang rendah pada anak-anak di lingkungannya itu.

"Ini karena tidak ada wadah untuk mengayomi mereka, keluarganya pun sibuk untuk mencari nafkah. Sehingga perhatian untuk anak sangat kurang," katanya.

Ia bersama istrinya kemudian memutuskan mendirikan sekolah gratis, membentuk perkumpulan lansia, dan juga menggerakkan posyandu. Hal tersebut didasari karena rasa sosial yang tinggi yang ditanamkan oleh orang tuanya sejak dini.

BACA JUGA: Minum Kopi Gelas Terbalik Aceh Diusulkan Jadi Warisan Budaya

"Sejak kecil ayah saya mengikuti pramuka, dan saya mengikutinya. Kebetulan ketika kuliah, saya dan istri saya suka mengikuti kegiatan sosial di kampus," kata Jadid.

Jadid menyampaikan awalnya sekolah ini hanya diikuti oleh delapan anak. Dengan rejeki yang cukup, ia menyisakan uangnya untuk membantu belajar anak-anak yang kurang mampu.

"Hidup sekali, pastinya harus bisa bermanfaat untuk orang lain. Selama dua tahun, kami membiayai dengan uang kami sendiri. Terkadang kami mendaftarkan ke fasilitas pemerintah kota seperti sekolah gratis dan lainnya," kata dia.

Namun, lambat laun banyak donatur maupun relawan yang membantu. Dari bantuan tersebut, ia bisa menambah fasilitas yang memadai untuk anak didiknya.

BACA JUGA: Bertemu Pimpinan Serikat Pekerja, Jokowi Berpesan May Day Kondusif

Ia menyampaikan saat ini juga turut membantu anak-anak yang tidak mempunyai seragam, tidak mempunyai sepeda untuk sekolah, bahkan memberikan sarapan pagi untuk semua anak didiknya.

"Sudah empat bulan ini kami memberikan sarapan gratis untuk anak-anak. Ini untuk memenuhi kebutuhan gizinya," kata Jadid.

Sementara Pramesthi (46), warga asli Surabaya mengaku sangat senang bisa mendirikan sekolah gratis untuk masyarakat setempat. Menurutnya, ini sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diperoleh keluarganya.

"Hingga saat ini kami mendidik sebanyak 108 anak," kata Pramesthi yang juga menjadi ketua paguyuban kecamatan Mulyorejo.

Ia mengaku niat baik yang dilakukan bersama suaminya ini juga didukung penuh oleh keempat anaknya. Bahkan jika mereka sedang bertugas keluar rumah, anaknya yang kerap melayani tamu yang datang.  

BACA JUGA: Jumat Legi, Karyawan Pabrik Garmen Probolinggo Kesurupan

"Misalnya ada yang meninggal, terus lapor ke rumah kami. Anak-anak tahu harus mengisi data, telepon ke puskesmas dan hal lainnya," katanya.

Bahkan ketika saya merawat jenazah pun, anaknya ikut melihat. Ia menyampaikan, anaknya berani dan memiliki kepekaan untuk membantu orang yang membutuhkan.

Pramesthi juga mengungkapkan pihaknya akan terus memberikan fasilitas yang terbaik untuk anak-anak yang kurang mampu agar mendapatkan kelas belajar secara gratis.

"Ya, mungkin karena faktor lingkungan dan apa yang dikonsumsi menjadikan daya pikir anak-anak rendah. Jadi kami bertekad untuk membangun motivasi anak untuk belajar," katanya.

BACA JUGA: "Metik" Padi dan Wujud Syukur Petani Ponorogo

Hingga saat ini, rumah singgahnya itu dibuat untuk tiga kelas belajar. Yakni pukul 13.00 - 15.00 WIB untuk anak-anak kelas 1 sampai kelas 3, pukul 15.00-17.00 WIB untuk kelas mengaji, dan pukul 18.00 sampai 21.00 WIB ini untuk anak kelas 4 sampai kelas 6.

Pramesthi berharap banyak relawan atau mahasiswa yang mau memberikan pelatihan bakat untuk anak didiknya. "Sabtu dan Minggu itu kan luang, kami ingin anak-anak mengasah bakatnya. Tapi kami masih terkendala orang yang mau melatihnya," kata dia.

Karena itu, ia bersama suaminya mencari komunitas atau universitas yang membutuhkan wadah untuk praktik atau kegiatan sosial kampus untuk melatih anak didiknya.

Baca Juga

loading...