JATIMNET.COM, Palu – DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mengusulkan bekas lokasi likuifaksi di Palu dan Sigi dijadikan obyek wisata baru. Masalahnya di tempat tersebut tidak diperbolehkan ada bangunan.

“Yang pasti tidak ada lagi bangunan rumah atau usaha apapun dibangun di bekas lokasi likuifaksi,” kata anggota DPRD Sulteng Matindas J Rumambi, Senin 11 Februari 2019.

Usulan tersebut untuk menyambung rencana pemerintah yang merencanakan lokasi eks likuifaksi menjadi obyek wisata. Usulan tersebut berada di Balaroa, Petobo dan Jono Oge yang semula padat penduduk disapu gempa bumi 7,4 SR pada 28 September 2018.

BACA JUGA: Lelang Lukisan Cat Air Untuk Bantuan Donggala Dan Palu

Matindas yang juga Sekretaris DPD PDI Perjuangan Sulteng itu meminta masyarakat tidak memaksakan diri kembali membangun rumah di lokasi eks likuifaksi. Menurutnya dampak yang akan ditimbulkan cukup besar dan sudah tidak dibenarkan.

Pemerintah sendiri telah menyiapkan hunian sementara (Huntara) di Duyu dan kelurahan Tondo. Huntara ini bersifat sementara sambil menunggu pembangunan hunian tetap (Huntap). Pembangunan rumah ini diprioritaskan bagi warga yang kehilangan rumah di sejumlah wilayah seperti Petobo dan Balaroa.

Begitu halnya dengan korban gempa bumi dan likuefaksi di Jono Oge, Kecamatan Sigibiromaru dan Sibalaya, Kecamatan Tanambulava. Lokasi Huntap sudah disediakan pemerintah.

BACA JUGA: IAIN Palu Rancang Pembangunan Kampus Tahan Gempa

Matindas juga mengatakan pemulihan ekonomi empat bulan pasca bencana Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong berjalan cukup cepat. Itu bisa dilihat dari mulai ramainya pusat-pusat perekonomian seperti pasar-pasar tradisional maupun modern, toko, swalayan, SPBU, terminal angkutan darat, bandara cukup ramai.

Begitu pula arus kendaraan bermotor yang lalu-lalang saban hari cukup padat. Bahkan saat pagi hari waktu kerja dan masuk sekolah di beberapa ruas jalan di Kota Palu terlihat macet.

“Ini menunjukan perekonomian pasca bencana alam mulai pulih setelah sebelumnya porak-poranda akibat gempa bumi dan tsunami,” tandasnya. (ant)