Bareskrim Polri Tangani 10 Kasus Hoaks Selama Aksi Mei

Hari Istiawan

Reporter

Hari Istiawan

Selasa, 28 Mei 2019 - 14:57

JATIMNET.COM, Jakarta - Direktorat Siber Bareskrim Polri dan jajaran Polda telah menangani 10 kasus penyebaran informasi bohong atau hoaks sejak 21-28 Mei 2019.

"Sudah ada 10 kasus hoaks yang ditangani oleh Ditsiber Bareskrim bersama beberapa polda," kata Karopenmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Selasa 28 Mei 2019.

Pertama, yang ditangani oleh Ditsiber Bareskrim Polri adalah tersangka atas nama SDA yang ditangkap 23 Mei 2019. SDA menyebarkan tuduhan adanya polisi negara tertentu yang masuk ke Indonesia untuk ikut mengamankan demo tanggal 21 dan 22 Mei.

BACA JUGA: Hoaks Beredar, Kantor Polsek Terbakar

"Bahkan, kontennya ditambahkan bahwa ikut melakukan penembakan terhadap masyarakat Indonesia. Saat ini yang bersangkutan sudah ditahan dan proses penyidikan lebih lanjut," kata Dedi.

Kedua, tersangka atas nama ASR diamankan pada 26 Mei yang menyebarkan konten persekusi yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap seorang habib.

Ketiga, tersangka MNA ditangkap pada 28 Mei 2019 juga sama yang menyebarkan konten negatif tentang pemilu curang kemudian ada video persekusi. Demikian juga penganiayaan yang dilakukan oleh aparat di depan Masjid Al Huda Tanah Abang.

BACA JUGA: Redam Gejolak, Polres Probolinggo Silaturahmi dengan Pimpinan FPI

Keempat, tersangka HU ditangani oleh Ditsiber Bareksirm ditangkap 26 Mei 2019 menyebarkan konten yang bersifat provokasi kepada masyarakat dengan menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan baik secara individu ataupun kelompok yang berdasarkan atas SARA.

Dalam narasi itu, bahwa "Brimob sweeping sampe areal masjid. fix berwajah negara tertentu dan tak bisa berbahasa Indonesia sudah dibekingin".

Kelima, tersangka atas nama RR ditangkap pada 27 Mei 2019, di mana pelaku memposting konten pengancaman melalui akun facebooknya akan membunuh tokoh nasional.

BACA JUGA: Informasi Hoaks Sebabkan Warga Dua Dusun Bentrok

Keenam, tersangka atas nama M ditangkap oleh Dirkrimsus Polda Jateng yang kaitannya dengan penyebaran informasi yang ditujukan dengan menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan atau SARA.

Ketujuh, pelaku atas nama MS ditangkap di Polda Sulsel pada 27 Mei 2019. konten yang diviralkan dan diposting adalah foto tokoh nasional yang digantung dengan tulisan captionnya adalah "mudah-mudahan manusia biadab ini mati".

Kedelapan, tersangka DS diamankan di Polda Jabar pada 27 Mei, konten yang disebarkan berupa berita bohong terkait dengan meninggalnya seorang remaja berusia 14 tahun yang dianiaya.

BACA JUGA: Dicatut Netizen di Media Sosial, Guru Sukabumi Lapor Polisi

Kesembilan, tersangka atas nama MA ditangkap di Sorong, Papua pada 27 Mei 2019, yang menyebarkan konten negatif berupa video foto kemudian captionnya berupa ada narasi yang berbunyi, "pembunuhan yang ditujukan pada salah satu tokoh nasional".

Kesepuluh, tersangka atas nama H ditangkap pada 28 Mei dinihari oleh Ditsiber Bareskrim Polri yang menyebarkan konten antara lain berupa ancaman yang ditujukan kepada tokoh nasional. dan berupa juga narasi-narasi dibangun adalah ujaran kebencian.

Karopenmas Mabes Polri menyebutkan, penegakan hukum yang dilakukannya itu merupakan suatu langkah terakhir ketika upaya-upaya secara persuasif juga dilakukan secara bersamaan.

BACA JUGA: Dewan Pers Ingatkan Media Massa Tidak Merujuk Medsos

Dedi menyebut, setiap pengungkapan kasus penyebaran berita hoaks, ujaran kebencian selalu dipublikasikan dengan menggunakan media mainstream.

Harapannya, akun-akun yang menyebarkan konten bersifat hoaks tersebut betul-betul sadar diri bahwa medsos adalah area publik. “Jadi harus bijak dan cerdas dalam menggunakan media sosial di area publik," kata Dedi.(ant)

Baca Juga

loading...