Asal Bapak Senang, dari Grup Band ke Idiom Politik

Anang Zakaria
Anang Zakaria

Minggu, 31 Maret 2019 - 18:03

SAAT memperdebatkan konsep pertahanan dan keamanan negara, kandidat presiden Prabowo Subianto memperingatkan calon presiden petahana Joko Widodo agar tak begitu saja percaya laporan dari bawahan.

“Saya pengalaman di tentara, budaya ABS banyak,” kata mantan Komandan Jenderal Kopassus itu dalam debat capres di Hotel Shangri La Jakarta, Sabtu 30 Maret 2019 malam.

ABS akronim Asal Bapak Senang. Istilah itu dipakai untuk menggambarkan perilaku bawahan yang melaporkan ihwal yang baik-baik saja pada atasannya, meski tak sesuai fakta. Tujuannya, apalagi kalau bukan asal bapak (atasan) senang.

Mulanya, ABS adalah nama grup band. Media sejarah populer Historia.id menulis, terbentuk atas permintaan Presiden Soekarno, band itu beranggotakan pasukan Detasemen Kawal Pribadi (kini Paspampres).

BACA JUGA: Ini Kata Wong Cilik Tentang Debat Capres

Tahu Soekarno gemar menari lenso, sejenis dansa-dansi suka ria cha-cha, Komandan Detasemen Mangil Martowidjojo mengumpulkan anak buahnya. Awalnya, grup ini memakai peralatan dapur sebagai alat musik. Tapi secara bertahap, Mangil membeli alat band. Hanya drum yang merupakan pemberian dari pengusaha Hasjim Ning.

Nama ABS, muncul dari Iskandar Winata, pimpinan band. Mereka mempelajari musik kegemaran Soekarno dan memainkannya di acara resmi negara. Termasuk saat mendampingi Soekarno melawat ke luar negeri.

Lucunya, Soekarno tak pernah tahu dari mana singkatan ABS itu muncul. Mantan Ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko mengisahkan, suatu ketika usai bertemu rombongan mahasiswa, Soekarno memberi isyarat agar band segera beraksi.

“Ayo ABS bersiap, kita segera mulai,” seru Bambang pada anggota band.

“Mbang, apa itu ABS?” Soekarno bertanya.

Oh itu hanya nama bandnya, Pak Mangil,” jawabnya.

BACA JUGA: Kedua Kandidat Sama-sama Mengaku Korban Tuduhan

Soekarno diam tak bertanya lagi. Tapi ia menjuluki band itu dengan Bruel Apen. Artinya sekelompok monyet yang tak berhenti mengerang bersahutan.

Muncul pada era Soekarno, ABS populer pada masa Orde Baru sebagai idiom politik. ABS dipakai untuk menjuluki pejabat yang “menjilat” Soeharto. Pokoknya, asal Bapak Soeharto senang.

Dosen Filsafat dan Teori Sekolah Pasca Sarjana Hukum Universitas Pendidikan Indonesia Bandung Astim Riyanto, dalam makalah berjudul Budaya Politik Indonesia, mencatat sikap asal bapak senang menjadi contoh masih kuatnya watak paternalisme dan patrimonial dalam budaya politik di Indonesia.

Paternalisme adalah tindakan membatasi kebebasan pribadi atau kelompok demi kepentingan pribadi tertentu. Singkat kata, ini perilaku merendahkan diri sendiri di depan seseorang yang berkedudukan lebih tinggi.

BACA JUGA: Prabowo Dituding Salah Data Terkait Kekuatan Militer Indonesia

Agus Dwiyanto dan Bevaola Kusumasari dalam penelitian bertema "A Comparative Research Project on Rural Public Service and Local-Level Civil Service Reforms" (diterbitkan UGM Yogyakarta), menyebutkan paternalisme menempatkan pimpinan sebagai pihak dominan. Sistem itu tumbuh subur karena dipengaruhi oleh kultur feodal yang sebagian besar wilayahnya merupakan bekas kerajaan.

Adapun patrimonial bisa diartikan anggapan negara adalah perluasan rumah tangga penguasa atau raja.

Indonesia itu negara demokrasi. Bukan kerajaan. Pemimpinnya disebut presiden. Bukan raja. Maka mempertahankan budaya ABS tak lebih dari menghambat arah Indonesia menjadi negara modern, berdaulat, dan maju.

Baca Juga

loading...