Logo

Anggota DPRD Jatim Minta Pemda Mewadahi Kesenian Tradisi Lokal

Reporter:,Editor:

Rabu, 19 August 2026 07:00 UTC

Anggota DPRD Jatim Minta Pemda Mewadahi Kesenian Tradisi Lokal

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Jairi Irawan. Foto: Januari.

JATIMNET.COM, Surabaya – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Jairi Irawan meminta pemerintah daerah menyediakan wadah pementasan bagi kesenian tradisi yang berkembang di tingkat kecamatan hingga desa.

Menurut Jairi, ruang tampil penting agar kelompok seni lokal tetap aktif sekaligus membuka peluang regenerasi seniman.

“Makanya kami mengangkat tema bagaimana menghidupkan tradisi itu menjadi kebiasaan dan kegiatan di masyarakat,” kata Jairi, Rabu, 19 Agustus 2026.

Ia mengatakan masih banyak kesenian tradisi yang memiliki pelaku dan penikmat, tetapi belum mendapat kesempatan tampil secara rutin. Hal itu ditemuinya saat melaksanakan reses di daerah pemilihan Blitar-Tulungagung.

Jairi mencontohkan wayang jemblung, wayang lesung, dan langen bekasan yang masih berkembang di masyarakat, tetapi belum sepopuler wayang purwa, jaranan, maupun ketoprak.

Menurutnya, persoalan utama kesenian tersebut bukan hanya soal pelaku, tetapi minimnya ruang untuk tampil. Jika hanya berlatih tanpa pementasan, aktivitas kelompok seni dikhawatirkan semakin berkurang.

“Kalau latihan tidak diimbangi dengan penampilan, ya akhirnya lambat laun akan berkurang. Apalagi pemainnya sekarang sudah mulai sepuh,” ujarnya.

Karena itu, Jairi mengusulkan pementasan dilakukan secara rutin, misalnya setiap tiga atau empat bulan. Pemerintah daerah dapat menyediakan ruang pertunjukan sekaligus membantu menghubungkan kelompok seni dengan berbagai agenda dan tempat pertunjukan.

“Kalau mereka itu diwadahi dan ada kurator tertentu, berarti mereka bisa reguler untuk tampil di mana, dicarikan tempat untuk tampil,” katanya.

Ia juga meminta pemerintah memberikan kemudahan perizinan bagi kelompok kesenian yang hendak tampil di ruang publik.

“Kalau memang mereka diberikan tempat tampil, harus ada perizinan dan diskresi khusus. Tidak perlu diributkan. Diberi kemudahan untuk mereka tampil di mana pun,” tuturnya.

Jairi menilai pementasan juga perlu dikemas lebih menarik agar dapat menjangkau generasi muda. Pertunjukan tradisional yang biasanya berlangsung lama bisa diringkas tanpa menghilangkan nilai budaya.

“Kalau wayangan kan biasa sampai semalam suntuk, mereka diambil tiga jam atau empat jam dengan dimampatkan ceritanya,” ujarnya.

Menurut Jairi, panggung menjadi bagian penting dalam proses regenerasi. Anak muda akan lebih tertarik mengenal kesenian tradisi jika melihat ada ruang untuk tampil.

“Karena dengan penampilan itu maka mereka akan segera regenerasi. Kalau tidak ada penampilan, ya mereka hanya latihan tertentu,” katanya.

Ia menilai perhatian terhadap kesenian tradisi selama ini masih banyak diberikan kepada kelompok seni yang sudah dikenal luas. Sementara kesenian di tingkat kecamatan, desa, hingga dusun masih membutuhkan ruang yang lebih besar.

“Masih terfokus pada seni tradisi yang besar. Tapi seni tradisi yang kecil-kecil di wilayah kecamatan, bahkan di desa atau dusun, itu yang memang belum tersentuh,” katanya.

Jairi berharap pemerintah daerah dapat memanfaatkan fasilitas kebudayaan dan agenda pemerintah untuk memberi ruang bagi kelompok seni lokal. Teknologi digital juga dapat digunakan untuk memperluas penonton melalui dokumentasi pertunjukan di platform seperti YouTube.

Namun, menurutnya, pementasan langsung tetap penting untuk menjaga interaksi antara seniman dan masyarakat.

Sebagai bentuk dukungan, Jairi menyebut Partai Golkar Tulungagung akan berupaya memberikan ruang pementasan bagi kelompok seni secara bergantian setiap tiga bulan.

“Golkar Tulungagung akan menampilkan mereka setidaknya tiga bulan sekali bergantian secara rotatif,” katanya.

Jairi berharap semakin banyak pihak memberikan wadah bagi kesenian lokal sehingga kelompok seni tetap hidup, seniman terus berkarya, dan generasi muda memiliki kesempatan untuk meneruskannya.