Logo

Grebeg Maulud Banjarsari Kulon, Tradisi Lokal dalam Peringatan Maulid Nabi

Reporter:

Sabtu, 12 September 2026 04:00 UTC

Grebeg Maulud Banjarsari Kulon, Tradisi Lokal dalam Peringatan Maulid Nabi

Bupati Madiun memberangkatkan peserta pawai dalam peringatan Grebeg Maulud di Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Sabtu, 12 September 2026. Foto: Nugroho

JATIMNET.COM, Madiun – Suasana di depan Pondok Kiai Ageng Mohammad Bin Umar di Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun berbeda dari biasanya, Sabtu pagi, 12 September 2026.

Sebagian warga mengenakan pakaian adat dan mengusung kesenian dongkrek. Layaknya karnaval budaya pada umumnya, rombongan warga itu diberangkatkan Bupati Madiun H. Hari Wuryanto untuk mengikuti pawai dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tak sekadar berjalan dalam rombongan, warga yang memainkan dongkrek juga unjuk kebolehan di depan panggung kehormatan tempat bupati berada. Iringan musik dan gerak para pemain kesenian tradisional khas Madiun tersebut membuat suasana Grebeg Maulud semakin semarak.

Pawai itu menjadi gambaran bagaimana peringatan Maulid Nabi di Banjarsari Kulon tidak hanya berlangsung dalam nuansa keagamaan. Tradisi lokal turut hadir dan menjadi bagian dari perayaan, mulai pakaian adat hingga dongkrek yang dimainkan warga.

Bagi masyarakat Banjarsari, Grebeg Maulud juga menjadi ruang untuk berkumpul dan mempererat silaturahmi. Santri, jemaah, dan warga sekitar ikut ambil bagian dalam kegiatan yang sekaligus menjadi upaya mempertahankan tradisi keagamaan dan budaya yang berkembang di wilayah tersebut.

Jejak hubungan Banjarsari Kulon dengan tradisi Maulud ternyata memiliki latar sejarah yang panjang.

Wilayah ini pernah berstatus sebagai tanah perdikan dan berkaitan erat dengan sosok Kiai Ageng Mohammad Bin Umar, tokoh yang menjadi bagian penting dalam perkembangan kehidupan Islam di Banjarsari Kulon.

Kiai Mohammad Bin Umar dikenal sebagai tokoh yang membuka kawasan Banjarsari bersama para santrinya pada abad ke-18. Dari kawasan tersebut kemudian berkembang kehidupan masyarakat yang bertumpu pada pesantren dan aktivitas keagamaan.

Dalam perjalanan Banjarsari sebagai tanah perdikan, bulan Maulud  atau Rabiul Awal dalam penanggalan Islam memiliki posisi khusus dalam hubungan dengan Kasultanan Yogyakarta.

Catatan sejarah menyebut Kiai Perdikan Banjarsari memiliki kewajiban menghadap Sultan Hamengkubuwana pada momentum Grebeg Mulud, yang merupakan bagian dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Jejak tersebut memberi konteks tersendiri bagi Grebeg Maulud yang kembali digelar di Banjarsari saat ini. Meski bentuk kegiatannya berkembang mengikuti zaman, peringatan Maulid Nabi tetap menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat setempat.

Bupati Madiun H. Hari Wuryanto mengapresiasi pelaksanaan Grebeg Maulud yang masih melibatkan masyarakat dan budaya lokal. Menurutnya, kegiatan keagamaan seperti ini turut membantu membangun kehidupan masyarakat yang bersih, sehat, tertib, lancar, dan harmonis.

“Melalui kegiatan Maulid ini, kita berharap anak-anak kita selalu meneladani apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Kita semua harus istiqomah melakukan kebaikan dan jangan sampai lupa untuk selalu bershalawat,” ujar Hari.

Ia juga mengajak masyarakat Banjarsari Kulon dan Banjarsari Wetan untuk terus menjaga kebersamaan serta istiqomah dalam bersholawat. Menurutnya, kegiatan keagamaan perlu terus dijaga sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai religius di tengah masyarakat.