Selasa, 25 August 2026 07:00 UTC

Ratusan warga memadati halaman Masjid Darussalam di Dusun Mengelo, Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto untuk berebut perlengkapan yang dipasang di pohon kersen dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Selasa, 25 Agustus 2026. Foto :Wanto.
JATIMNET.COM, Mojokerto – Ratusan warga berebut berbagai barang yang digantung di pohon keres atau kersen dalam tradisi Keresan di Dusun Mengelo, Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Selasa, 25 Agustus 2026.
Pakaian, sandal, sepatu hingga perlengkapan lainnya menjadi sasaran warga yang berusaha mendapatkan barang-barang tersebut. Sebagian bahkan harus memanjat pohon keres dari bagian bawah hingga ke atas.
Tradisi yang digelar di halaman Masjid Darussalam itu menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Warga dari sejumlah wilayah turut datang untuk menyaksikan sekaligus turut berebut keres.
Panitia Keresan, Zainul Alam, mengatakan tradisi tersebut telah berlangsung sejak sekitar 1978. Artinya, tradisi itu kini sudah diwariskan selama hampir lima dekade oleh masyarakat Dusun Mengelo.
Menurut Zainul, Keresan tidak sekadar menjadi hiburan atau kesempatan warga mendapatkan barang. Tradisi tersebut menyimpan pesan tentang hubungan manusia dengan alam.
“Filosofinya adalah bagaimana kita melihat kembali hubungan kita dengan alam. Buahnya yang banyak, daunnya banyak, berarti rezekinya melimpah. Bukan hanya memanfaatkan alam, tetapi bagaimana kita menjaga dan merawatnya,” kata Zainul.
Pohon keres yang digunakan dalam tradisi juga harus dicari dari wilayah Dusun Mengelo. Ketentuan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan keterikatan tradisi dengan lingkungan setempat.
“Untuk keres harus mencari di wilayah Mengelo. Ini sudah menjadi tradisi yang turun-temurun,” ujarnya.
Namun, keres bukan bagian dari tradisi sejak awal. Zainul menyebut masyarakat sebelumnya menggunakan pohon bambu sebagai tempat menggantung barang-barang yang kemudian diperebutkan warga.
“Dulu sebelum keres itu menggunakan pohon bambu. Barang yang dipajang seperti kaos, sandal, sepatu dan lainnya,” jelasnya.
Persiapannya pun membutuhkan waktu cukup panjang. Panitia setidaknya memerlukan waktu sekitar tiga bulan, termasuk untuk mencari pohon keres dan menyiapkan berbagai barang yang akan digantung.
Zainul berharap tradisi tersebut tidak berhenti sebagai agenda tahunan setiap peringatan Maulid Nabi. Keresan juga diharapkan menjadi cara untuk mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Filosofinya bagaimana kita kembali kepada alam. Apa yang kita lakukan harus memberikan dampak yang baik, bukan justru merusak alam,” tegasnya.
Menurut dia, alam merupakan bagian dari kehidupan masyarakat sehingga pemanfaatannya harus dibarengi dengan upaya menjaga kelestariannya.
“Jadi milik kita bersama. Alam ini bukan hanya milik siapa-siapa, tetapi harus kita jaga bersama,” tambahnya.
Kemeriahan Keresan turut dirasakan Adim, warga Dusun Gedangklutuk, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Ia ikut memanjat pohon keres untuk mendapatkan barang yang digantung di atasnya.
Usahanya membuahkan hasil. Adim membawa pulang sejumlah barang yang didapat dari tradisi tersebut.
“Dapat sarung, baju, topi, banyak pokoknya,” ujar Adim sambil tersenyum.
Tradisi berebut keres di Dusun Mengelo menunjukkan bagaimana sebuah kebiasaan masyarakat mampu bertahan lintas generasi. Di tengah kemeriahan berebut hadiah, tradisi tersebut sekaligus menyimpan pesan tentang rasa syukur, kebersamaan dan pentingnya menjaga alam.
