Senin, 24 August 2026 11:24 UTC

Tumpeng berisi udik-udik (uang) yang akan diperlukan warga diajak mengelilingi kampung. Foto: Agus Salim
JATIMNET.COM, Gresik — Suasana Sedekah Bumi di Desa Prupuh, Kecamatan Panceng, Gresik, berlangsung meriah, Senin, 24 Agustus 2026. Ribuan warga tumpah ruah saat panitia mempersilakan masyarakat berebut gunungan tumpeng yang telah disiapkan.
Warga, terutama anak-anak dan remaja, langsung mendekati gunungan setelah rangkaian istighosah dan doa bersama selesai. Mereka berebut udik-udik berupa uang yang diselipkan di antara makanan dan berbagai isi gunungan.
Kerumunan warga semakin ramai ketika anak-anak berusaha mendapatkan udik-udik. Sejumlah anak bahkan naik ke pundak orang tuanya agar bisa menjangkau gunungan. Para ibu memasukkan hasil rebutan ke dalam plastik yang diselipkan di jilbab, sementara para remaja membentuk pagar betis di sekitar kerumunan.
Sorak-sorai dan teriakan warga terdengar sepanjang prosesi. Dalam waktu sekitar 5 hingga 10 menit, gunungan yang sebelumnya menjulang tinggi hampir seluruhnya habis diperebutkan warga.
Panitia tidak hanya memasukkan makanan ke dalam gunungan. Mereka juga menyelipkan uang tunai dengan pecahan mulai Rp50 ribu hingga hadiah utama Rp1 juta. Total uang yang disiapkan mencapai puluhan juta rupiah.
Dana tersebut berasal dari para donatur, termasuk warga Desa Prupuh yang bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI, sebelumnya disebut TKI) di Malaysia.
Selain mendapatkan udik-udik, warga juga membawa pulang berbagai makanan berkatan yang telah disiapkan dalam rangkaian tradisi tersebut. Sebelumnya, warga mengarak dua tumpeng berukuran raksasa berkeliling desa sebelum mengikuti prosesi Sedekah Bumi.
Sedekah Bumi Jadi Wujud Syukur Warga Prupuh
Sedekah Bumi Desa Prupuh menjadi tradisi tahunan yang digelar dalam rangka memperingati hari ulang tahun (HUT) Desa Prupuh sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kepala Desa Prupuh Mushollin memprakarsai kegiatan tersebut dengan melibatkan masyarakat. Rangkaian acara diawali dengan pagelaran hadrah, kemudian dilanjutkan dengan istighosah dan doa bersama.
Mushollin mengatakan, Sedekah Bumi bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi wujud syukur masyarakat atas hasil pertanian, tambak, dan laut yang diperoleh selama setahun terakhir.
"Ini menjadi bukti warga Prupuh sebagai rasa syukur, juga guyub rukun seduluran, bergotong royong dan menjaga kelstarian Desa," tambahnya.
Ia menjelaskan, masyarakat secara swadaya mendukung seluruh rangkaian kegiatan. Kekompakan panitia, PKK, Karang Taruna, dan warga menjadi salah satu faktor penting yang membuat tradisi Sedekah Bumi tetap berjalan setiap tahun.
Camat Panceng Dorong Tradisi Tetap Lestari
Camat Panceng Muhammad Sampurno menilai tradisi Sedekah Bumi di Desa Prupuh merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Gresik yang perlu terus dipertahankan.
"Saya bangga karena Desa Prupuh masih konsisten menjaga tradisi dengan Sedekah Bumi. Ini aset budaya yang harus kita jaga," katanya.
Sampurno juga mengingatkan warga untuk menjaga kebersihan lingkungan setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai. Ia berharap masyarakat turut mengenalkan tradisi tersebut kepada generasi muda agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
"Biar anak-anak kita tahu jati diri orang Gresik Utara dari Desa Prupuh. Bahwa kita ini masyarakat yang religius, gotong royong dan cinta budaya," ujarnya.
