Logo

Fadli Zon Ajak Mojokerto Bangun Ekosistem Wisata dan Edukasi Majapahit

Reporter:,Editor:

Senin, 14 September 2026 02:30 UTC

Fadli Zon Ajak Mojokerto Bangun Ekosistem Wisata dan Edukasi Majapahit

Wali Kota Ika Puspita Sari dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat meninjau Museum Gubug Wayang ll di Museum Cipta Mahardika dan Museum Martayoga Kota Mojokerto. Minggu, 13 September 2026. Foto: Wanto.

JATIMNET.COM, Mojokerto – Kekayaan sejarah Majapahit di Mojokerto dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ekosistem wisata dan edukasi yang terintegrasi.

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan, berbagai situs peninggalan Majapahit perlu dihubungkan agar membentuk satu kawasan wisata sejarah yang kuat. Situs itu, seperti museum hingga destinasi wisata di Mojokerto.

“Dengan adanya Majapahit di Mojokerto, saya kira harus dihidupkan ekosistemnya dari hulu sampai hilir. Majapahit pasti akan menjadi sumber attraction utama,” katanya saat meresmikan Museum Gubug Wayang II di Kota Mojokerto, Minggu malam, 13 September 2026.

Menurut Fadli, potensi wisata dan edukasi tersebut ditopang oleh kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang menyimpan berbagai peninggalan Kerajaan Majapahit.

Pengembangannya tidak cukup hanya dengan menjaga situs. Namun, juga menghubungkannya dengan museum dan destinasi lain yang memiliki keterkaitan sejarah maupun budaya.

Dengan konsep tersebut, wisatawan tidak hanya datang ke satu lokasi. Mereka dapat memperoleh pengalaman yang lebih utuh tentang sejarah dan kebudayaan Majapahit.

Fadli menilai pengembangan wisata sejarah dan budaya secara berkelanjutan juga dapat memperluas pasar wisatawan. Mojokerto berpeluang menarik kunjungan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara jika memiliki ekosistem wisata sejarah yang kuat.

“Kota Mojokerto dan Kabupaten Mojokerto sangat, sangat, sangat berpotensi menjadi pusat edukasi sejarah dan budaya di Jawa Timur,” tegasnya.

Untuk mewujudkan ekosistem tersebut, Fadli menyebut perlu kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola museum, komunitas, dan masyarakat.

Infrastruktur serta sumber daya manusia juga harus disiapkan agar kawasan wisata sejarah tidak hanya menarik untuk dikunjungi. Namun, mampu memberikan pengalaman edukasi yang berkualitas.

Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengatakan konsep pengembangan tersebut sejalan dengan konsep Heritage City Mojokerto Raya.

Kota Mojokerto dapat dikolaborasikan dengan kawasan Trowulan yang memiliki banyak situs peninggalan Majapahit.

“Kita bersama-sama membangun Mojokerto Raya ini dengan membawa spirit of Majapahit sebagai sebuah keagungan yang memberikan semangat bagi kita bersama untuk terus memajukan daerah sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Ning Ita, sapaan Ika Puspitasari.

Menurutnya, destinasi di Mojokerto Raya yang terhubung akan memperkuat identitas kawasan sebagai tujuan wisata sejarah dan budaya Majapahit.

“Tentu akan semakin mengangkat nama Mojokerto dan kejayaan Majapahit di masa lampau,” ujarnya.

Museum Gubug Wayang II yang terdiri dari Museum Cipta Mahardika dan Museum Martayoga menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat ekosistem tersebut.

Museum Gubug Wayang telah berdiri lebih dari satu dekade dan menjadi salah satu ruang pelestarian serta edukasi budaya di Mojokerto.

Dengan menghubungkan museum, situs cagar budaya, destinasi wisata, komunitas, hingga potensi ekonomi kreatif, kekayaan sejarah Majapahit diharapkan tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu.

Kawasan Mojokerto Raya dapat dikembangkan sebagai ruang wisata sekaligus pembelajaran sejarah yang memberi manfaat bagi masyarakat.