ACT Serahkan Penghargaan Buat Tujuh Veteran Atlet Nasional

Muhammad Taufiq

Jumat, 24 Mei 2019 - 12:03

JATIMNET.COM, Depok- Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyerahkan dana tunai Rp 19.500.000 kepada salah satu atlet sepak bola nasional Alexander Pulalo. Dana tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Grab Indonesia dan Kitabisa.com.

Selain kepada Pulalo, masih ada enam atlet lagi yang juga akan diberi penghargaan serupa, yakni Tati Sumirah, Nicholas Thomas, Alexander W. Picaulima, Abdul Rojak, Ellias Pical, dan Sutiyono. Keenam nama tersebut dalam waktu dekat juga akan menerima bantuan serupa dari porgram ini. 

Pulalo, veteran sepakbola berusia 45 tahun itu dipilih karena pengabdiannya kepada sepak bola tanah air yang tak lekang usia. Setela pensiun dari sepak bola, ia memutuskan melatih anak-anak di Sekolah Sepak Bola (SSB) di dekat rumahnya. Dari pekerjaan menjadi pelatih itu lah ia memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

"Setelah pensiun dari sepak bola, kegiatan saya sehari-hari ini melatih SSB di dua sekolah sepak bola di daerah Depok, rentang usianya 9 tahun sampai 17 tahun dan itu saya lakukan tiga kali selama seminggu," ujar Pulalo, kepada tim Global Zakat-ACT pada Selasa 21 Mei 2019.

BACA JUGA: Paket Ramadan Untuk Warga Palestina, Syukron Indonesia!

Lahir dari orang tua yang juga seorang atlet, Alexander Pulalo bertekad juga mendalami profesi di bidang olahraga tersebut.  Jalan menjadi olahragawan itu kemudian dia temukan di cabang olahraga sepakbola.

"Keinginan saya yang utama memang ingin jadi atlet. Selama itu sudah banyak cabang olahraga yang saya coba dan cabang olahraga yang paling cocok saya coba memang sepak bola," cerita Pulalo.

Keberhasilan Pulalo menyabet pila Liga Copa Indonesia pada tahun 2007 adalah yang paling berkesan buatnya. Tak tanggung, ia dan teman-temannya di tim Arema Malang, tempat ia berjuang, diarak oleh arek Malang hingga seharian.

"Ketika tiba Bandara Surabaya, supporter dari Malang itu menjemput kita. Kemudian kita diarak dari Surabaya sampai Malang. Itu mulai dari jam 7 pagi, sampai di Kota Malang itu jam 10 malam sambil diarak. Sampai-sampai supporter itu, memenuhi jalanan semua. Jadi kita naik mobil bak, cuma tangan kita yang mengulur keluar mobil dan supporter tos ke tangan kita," kenang Pulalo.

Menurutnya, perubahan dari segi penghasilan begitu cepat terjadi begitu ia memutuskan untuk gantung sepatu pada tahun 2010 lalu. Penghasilan dari menjadi atlet sepak bola dan melatih terasa sangat jauh berbeda. Namun kata Pulalo, menjadi pelatih bukanlah keterpaksaan.

BACA JUGA: Sahur Bareng Pemulung di Emperan Toko Kota Bandar Lampung

"Ketika karir saya di sepak bola berhenti, pengalaman saya akan saya bagikan ke anak-anak usia dini dan tulah mimpi saya dari dulu. Saya ingin bagaimana saya bisa membawa anak-anak Indonesia bisa jadi pemain timnas masa datang," ujarnya.

Nasib sama dialami oleh sebagian besar teman satu timnya dahulu yang kini juga menjadi pelatih SSB. Melalui kesempatan tersebut, ia juga mengutarakan harapannya agar Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan pemerintah dapat mengapresiasi teman-teman atlet yang lain.

"Kebanyakan dari mereka ya melatih SSB seperti saya ini. Kalau tidak, kita mau mengharapkan (penghasilan) dari mana lagi? Dari PSSI tidak ada sama sekali. Harapan kami ke depannya dari PSSI atau dari pihak-pihak lain mereka bisa membuka mata dan mengapresiasi atlet-atlet lain," ucap Pulalo.

Pulalo mengucapkan syukur serta terima kasih kepada Grab Indonesia dan Kitabisa.com. Ia merasa bangga kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan ini kepadanya. 

"Saya sangat bangga sekali, dari ACT, Grab Indonesia dan Kitabisa.com bisa memberikan penghargaan kepada mantan-mantan atlet yang veteran ini, saya sangat berterima kasih. Ke depannya semoga bisa lebih sukses lagi dan lebih maju lagi," ujar Pulalo.

Baca Juga

loading...