Logo

Wewangian Pribadi Menjadi Bagian dari Identitas Diri

Setiap orang mungkin lupa wajah yang ditemui sesaat, tetapi aroma tertentu sering bertahan lebih lama di dalam ingatan.
Reporter:,Editor:

Selasa, 28 July 2026 13:30 UTC

Wewangian Pribadi Menjadi Bagian dari Identitas Diri

Ilustrasi: Wangi Setelah Hujan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Wewangian pribadi kini telah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Parfum, body mist, maupun cologne tidak lagi dipakai hanya untuk acara formal.

 

Banyak orang menggunakannya setiap hari sebagai bagian dari rutinitas sebelum berangkat bekerja, bertemu rekan, atau sekadar menjalani aktivitas biasa.

 

Aroma yang dipilih sering kali mencerminkan karakter, suasana hati, bahkan kesan yang ingin ditampilkan kepada orang lain.

 

Perubahan kebiasaan ini sejalan dengan perkembangan industri parfum global. Laporan Grand View Research mencatat nilai pasar parfum dunia mencapai sekitar US$58,1 miliar pada 2024, dengan proyeksi pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sekitar 5,9 persen hingga awal dekade berikutnya.

 

Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya perhatian masyarakat terhadap perawatan diri serta pengalaman sensorik dalam kehidupan sehari-hari.

 

Di Indonesia, tren serupa terlihat dari semakin banyaknya merek parfum lokal yang bermunculan. Konsumen tidak lagi hanya mencari aroma yang harum, tetapi juga wewangian yang sesuai dengan kepribadian, aktivitas, dan kondisi iklim tropis.

 

 

 

Aroma Membantu Membangun Kesan Pertama

 

Saat bertemu seseorang, perhatian memang sering tertuju pada penampilan dan cara berbicara. Namun, aroma juga berperan membentuk persepsi awal, meski sering kali berlangsung tanpa disadari.

 

Penelitian yang diterbitkan dalam Chemical Senses menunjukkan bahwa aroma tubuh maupun wewangian dapat memengaruhi penilaian sosial seseorang, termasuk persepsi mengenai kebersihan, kerapian, dan kenyamanan ketika berinteraksi.

 

Hal tersebut menjelaskan mengapa banyak orang memilih parfum yang berbeda untuk kesempatan yang berbeda. Aroma citrus terasa ringan untuk aktivitas siang hari, sementara aroma woody atau musk lebih sering dipilih saat suasana malam yang lebih formal.

 

 

 

Iklim Tropis Membuat Pemilihan Parfum Perlu Disesuaikan

 

Surabaya dikenal memiliki suhu udara yang relatif hangat hampir sepanjang tahun. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan suhu udara maksimum di Surabaya pada musim kemarau tidak jarang mencapai 34–36 derajat Celsius, terutama pada siang hari.

 

Cuaca yang panas memengaruhi cara parfum bekerja di kulit. Suhu tubuh yang meningkat membuat molekul aroma lebih cepat menguap sehingga karakter parfum juga berubah lebih cepat dibandingkan di daerah yang lebih sejuk.

 

Karena itu, banyak peracik parfum menyarankan penggunaan aroma yang lebih segar dan ringan pada siang hari, sementara aroma dengan karakter lebih hangat cocok digunakan ketika suhu mulai menurun pada malam hari.

 

 

 

Menggunakan Parfum Secara Bijak Lebih Penting daripada Berlebihan

 

Parfum dirancang untuk melengkapi penampilan, bukan mendominasi ruangan. Aroma yang terlalu kuat justru dapat mengganggu kenyamanan orang lain, terutama di ruang kerja, transportasi umum, atau area dengan ventilasi terbatas.

 

International Fragrance Association (IFRA) menekankan pentingnya penggunaan bahan pewangi yang memenuhi standar keamanan serta pemakaian produk sesuai petunjuk agar tetap nyaman bagi pengguna maupun lingkungan sekitar.

 

Cara penggunaan juga memengaruhi hasilnya. Menyemprotkan parfum secukupnya pada titik nadi seperti pergelangan tangan atau belakang telinga umumnya sudah cukup memberikan aroma yang bertahan tanpa terasa berlebihan.

 

 

Wewangian Menjadi Bagian dari Cerita Sehari-hari

 

Banyak orang memiliki aroma favorit yang terus digunakan selama bertahun-tahun. Tanpa disadari, wewangian tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas pribadi. Teman, keluarga, atau rekan kerja sering kali mengenali seseorang hanya dari aroma yang khas.

 

Di Surabaya, aktivitas yang dimulai sejak pagi hingga malam membuat banyak orang memilih wewangian yang mampu menemani mobilitas tanpa terasa menyengat. Pilihan aroma akhirnya bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menyesuaikan gaya hidup, cuaca, dan kenyamanan saat berinteraksi.

 

Wewangian pribadi menunjukkan bahwa identitas tidak selalu dibangun melalui hal-hal yang terlihat. Aroma yang dipilih dengan tepat mampu meninggalkan kesan hangat, mencerminkan kepedulian terhadap diri sendiri, sekaligus membuat setiap pertemuan terasa lebih menyenangkan.