Uniknya Bertransaksi Menggunakan Tempurung Kelapa di Pasar Batok Blitar

Yosibio

Reporter

Yosibio

Minggu, 24 Maret 2019 - 18:56

JATIMNET.COM, Blitar – Keunikan dan ketrampilan dikembangkan kelompok masyarakat di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar dengan menciptakan ekosistem transaksi jual-beli di Pasar Batok.

Disebut sebagai Pasar Batok, lantaran seluruh transaksi menggunakan koin batok (tempurung kelapa). Sementara batok tersebut bernilai Rp 2.500, Rp 5.000, Rp 7.500, hingga Rp 10.000 untuk dibelanjakan berbagai kebutuhan, utamanya kuliner. Tak ketinggalan kerajinan dan dolanan tempo dulu.

Seluruh dagangan yang dijual adalah hasil olahan warga sekitar. Untuk produk kuliner misalnya, terdapat jajanan tradisional, modern, dan produk olahan serta kerajinan dari batok dan beberapa barang lainnya. Pihak penyelenggara membebaskan biaya masuk bagi pengunjung yang ingin berbelanja di Pasar Batok.

BACA JUGA: Setelah 31 Tahun Meninggal, Jasad di Blitar Ditemukan Utuh

Pasar tersebut menempati areal kebun warga seluas 200 meter persegi di Jalan Glagah. Selain itu, Pasar Batok ini menyulap jalan kampung menjadi layaknya pasar tempo dulu, yang menggunakan batok sebagai alat pembayaran. Mirip transaksi cashless.

“Aturan mainnya seluruh transaksi tidak boleh menerima uang tunai. Kami sengaja menciptakan transaksi seperti pada zaman dahulu, dengan menonjolkan etnik dan budaya dalam bertransaksi,” jelas Ismarofi atau dikenal Rofi Batok, selaku inisiator Pasar Batok, 24 Maret 2019.

Rofi (44), sapaannya, mengatakan digunakannya batok kelapa sebagai alat bayar untuk mengetahui transaksi dan omzet di masing-masing tenan. Selain itu, Rofi bersama istrinya yang menciptakan koin batok sebagai alat bayar tersebut.

Ide dasar penyelenggaraan acara ini muncul secara spontan dari kelompok masyarakat (Pokmas) Kampung Batok. Tujuannya menjadikan Kampung Batok sebagai kampung wisata, yang berbasis kearifan lokal. Dengan demikian, ekonomi warga bisa berputar di kampung dan dirasakan semua warga.

BACA JUGA: Sedekah Nasi Bungkus Ala Komunitas Sepeda Blitar

“Konsep kami adalah pemberdayaan ekonomi kreatif kepada warga sejak usia dini,” imbuh Rofi.

Meski baru digelar pertama kali, antusias pengunjung begitu besar. Ini bisa dibuktikan dengan jumlah pengunjung yang mencapai 500-an orang.  Selain itu, transaksi yang dibukukan tiap-tiap tenan mencapai Rp 400.000 hingga Rp 700.000, di pasar yang hanya buka tiga jam.

“Dalam waktu dekat ini akan kami launching, sekaligus menjadikan sebagai daya tarik wisata baru di kota Blitar. Ke depan, Kampung Batok akan kami laksanakan secara rutin,” tutup pria yang juga perajin berbahan dasar batok kelapa itu.

Salah satu pengunjung Ninuk Yuliana mengaku senang dengan pengalaman barunya. Dia mengaku baru pertama kali menemui ada pasar yang seluruh transaksinya menggunakan koin dari tempurung kelapa.

“Sesuatu yang baru dengan konsep cashless, di mana koin batok sebagai alat bayar. Ini pertama kali saya temui, dan bisa menjadi destinasi wisata baru di Blitar,” katanya saat dijumpai di Pasar Batok.

Menurutnya kampung batok satu satunya kampung yang memproduksi aneka kerajinan berbahan batok alias tempurung kelapa.

Baca Juga

loading...