Setelah 31 Tahun Meninggal, Jasad di Blitar Ditemukan Utuh

Yosibio

Selasa, 19 Maret 2019 - 21:33

JATIMNET.COM, Blitar – Peristiwa pemindahan makam KH.Anwar Sudibyo, asal Desa Tambakan, Gandusari, Blitar mendadak viral di media sosial sepekan terakhir. Alasannya, jasad yang meninggal 31 tahun lalu itu ditemukan masih utuh.

Pemindahan makam itu berlangsung pada Kamis 14 Maret 2019 pekan lalu. Puluhan anggota Banser NU dan warga terlibat pemindahan, dari semula di makam umum desa ke areal Masjid Baitur Ra’uf yang berjarak satu kilometer. Sejumlah aparat kepolisian dan pamong desa juga datang menyaksikan pemindahan makam.

Tak hanya jasadnya yang ditemukan utuh, kain kafan pembungkus jenazah pun tak lapuk. Hanya warnanya berganti jadi kecokelatan karena termakan usia.

Putera kelima Kiai Anwar, Mohammad Munif alias Gus Munif, membenarkan ada pemindahan makam ayahnya. Meski tak terlibat langsung memegang dan mengangkat jenazah, ia menyaksikan jasad Kiai Anwar masih utuh saat diangkat oleh tiga orang.

BACA JUGA: Sosok Kiai Hamid Yang Haulnya Dikunjungi Maruf Amin

“Kami menyaksikan langsung jasad beliau masih kaku dalam bungkusan kain kafan,” kata dia pada wartawan di rumahnya, Selasa 19 Maret 2019.

Ia mengatakan pemindahan makam dilakukan untuk mempermudah peziarah nyekar ke makam Kiai Anwar. Lokasi makam umum dianggap terlalu sempit dan dikhawatirkan menggangu kondisi makam warga lain.

PUSARA. Putera kelima mendiang Kiai Anwar Sudibyo, Mohammad Munif, berdoa di depan pusara ayahnya. Makam Kiai Anwar dipindahkan pada Kamis 14 Maret 2019. Foto: IST.

PUSARA. Putera kelima mendiang Kiai Anwar Sudibyo, Mohammad Munif, berdoa di depan pusara ayahnya. Makam Kiai Anwar dipindahkan pada Kamis 14 Maret 2019. Foto: Yosibio.

Kiai Anwar lahir pada 14 Agustus 1914. Semasa hidupnya, ia pernah menjabat Rois Syuriah PCNU Blitar, Kepala Pengadilan Agama Malang, dan legislator. Ia juga dikenal sebagai ulama Mursyid Tarekat Al Mu'tabaroh Annahdliyah.

BACA JUGA: Profesor Asal Malaysia Terjemahkan Manuskrip Ulama Aceh

Ia meninggal tanggal 21 September 1988 pada usia 74 tahun. Gus Munif mengenang, Kiai Anwar sakit sebelum meninggal di Rumah Sakit Ngudi Waluyo Wlingi.

Sebelumnya, mendiang juga sempat menjalani perawatan di RS Syuhada Haji. “(Tapi) minta pulang. Karena belum sembuh, akhirnya dipindah perawatanya di RS Wlingi,” katanya.

Sejak meninggal dan dimakamkan di makam umum Tambakan, pusara Kiai Anwar selalu ramai didatangi peziarah. Gus Munif mengatakan pemindahan juga untuk memenuhi wasiat istri Kiai Anwar, Siti Afijah.

Nyai Afijah meninggal pada usia 90 tahun dan dimakamkan di sekitar masjid Masjid Baitur Ra’uf. Adapun proses pemindahan makam Kiai Anwar berlangsung tiga hari menjelang seratus hari peringatan kematiannya.

Baca Juga

loading...