Transisi Toron Petolekoran Warga Gili Ketapang dari Ziarah Jadi Budaya Belanja

Zulkiflie

Minggu, 2 Juni 2019 - 10:58

JATIMNET.COM, Probolinggo – Tradisi Toron Petolekoran yang dilakukan tiap hari ke-27 Ramadan oleh warga Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo, merupakan peralihan adat yang awalnya dilakukan anak-anak muda setempat.

Disampaikan Kepala Desa Gili Ketapang, Suparyono, jika tradisi Toron Petolekoran di Pulau Gili Ketapang mulanya adalah ziarah kubur. Namun seiring berkembangnya zaman, kebiasaan warga beralih ke belanja kebutuhan di Pulau Jawa, atau di Kota Probolinggo.

Peralihan adat dari ziarah kubur ke belanja kebutuhan Lebaran, menurut Suparyono, mulai terjadi sekitar 15 tahun terakhir. Awalnya tradisi Toron Petolekoran dengan belanja ke Pulau Jawa, dilakukan anak-anak muda. Namun seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut akhirnya diikuti para orang tua.

“Saat saya masih kecil, namanya tradisi petolekoran itu ya ziarah ke makam. Tapi sekarang sudah berubah. Mungkin, pengaruh perkembangan zaman,” terang Suparyono kepada Jatimnet, Minggu 2 Mei 2019.

BACA JUGA: Toron Petolekoran , Tradisi Ramai-ramai Menyeberang ke Pulau Jawa

Suparyono menyebutkan, sebenarnya di Pulau Gili Ketapang sudah ada sejumlah toko penjual pakaian dan makanan. Hanya saja anak-anak muda tetap lebih memilih belanja kebutuhan Lebaran ke Probolinggo, lantaran dirasa lebih lengkap.

“Toko pakaian dan makanan di sini ada sekitar 100-an. Mungkin karena kurang lengkap atau pilihannya kurang banyak, anak-anak muda lebih suka belanja ke Kota Probolinggo,” terangnya.

PERALIHAN BUDAYA. Ibu-ibu dan remaja mendominasi tradisi Toron Petolekoran dengan menyeberang ke Kota Probolinggo untuk berbelanja kebutuhan Lebaran. Foto: ZUlkiflie.

Dijelaskan Suparyono, sesampai di Probolinggo lokasi belanja yang kerap dikunjungi Warga Gili Ketapang adalah sejumlah pertokoan di Jalan dr Sutomo.

“Umumnya warga menghabiskan belanja antara Rp 1 sampai Rp 5 juta dalam sekali belanja. Dan yang paling dicari sarung, untuk dipakai hari raya. Selebihnya, pakaian lain atau makanan ringan,” papar Suparyono.

BACA JUGA: Jalur Pantura Probolinggo Bergelombang, Pemudik Diimbau Waspada

Warga Gili Ketapang memilih langsung pulang ke kampung dengan menaiki kapal motor seusai berbelanja. Pada setiap momen tradisi Toron Petolekoran, kata Suparyono, jumlah kapal untuk mengantar warga pulang dan pergi bisa mencapai 70-an.

Sesampai di kampung halaman, warga kembali beraktivitas normal hingga Lebaran tiba. Adapun adat yang masih tetap terjaga hingga kini, momen berkumpulnya warga Gili Ketapang di Gua Kucing yang terletak di ujung paling timur pulau setempat.

Hal itu biasanya dilakukan, usai melaksanakan salat Idul Fitri dan bersilaturahmi dengan sanak famili. Atau lebih tepatnya, pada sore hari sembari menunggu senja tiba. Tidak ada ritual atau tujuan khusus, umumnya warga hanya berkumpul di Gua Kucing.

Disampaikan Suparyono, jumlah masyarakat Pulau Gili Ketapang saat ini sekitar 9.678 jiwa, dengan mayoritas mata pencahariannya adalah nelayan.

Baca Juga

loading...