Kamis, 10 September 2026 06:00 UTC

Bassem Zbeeb (kiri), KH Hasan Abdullah Sahal (tengah berpeci), dan Imam Mohamad Bashar Arafat (kanan) saat melihat Festival Kaligrafi Internasional di Pondok Modern Darussalam Gontor. Humas: PMDG.
JATIMNET.COM, Ponorogo – Karya kaligrafi santri Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) membuat dua tokoh internasional terkesan saat mengunjungi pameran kaligrafi di Ponorogo, Kamis (10/9/2026).
Presiden Dewan Urusan Islam Maryland, Imam Mohamad Bashar Arafat, dan kaligrafer internasional asal Dubai, Bassem Zbeeb, melihat langsung karya ratusan kaligrafer yang dipamerkan dalam rangkaian peringatan 100 tahun PMDG.
Imam Bashar Arafat mengaku terkesan melihat kualitas karya yang ditampilkan. Ia menilai kemampuan para santri memiliki potensi untuk diperkenalkan lebih luas hingga ke tingkat internasional.
“This is really an amazing experience. I really don’t know what to tell you because I was impressed to see this (Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa. Saya benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa karena saya sangat terkesan melihat karya ini),” ujarnya.
Kekagumannya tidak hanya pada aspek artistik. Imam Bashar Arafat melihat karya tersebut sebagai sesuatu yang lahir dari ilham spiritual.
“To me, this is not art of an artist, this is ilham ilahi (Bagi saya, ini bukan sekadar karya seorang seniman, tetapi merupakan ilham ilahi),” katanya.
Penilaian serupa disampaikan Bassem Zbeeb. Kaligrafer asal Dubai itu menyoroti lingkungan pendidikan Gontor yang dinilainya mampu memberi ruang bagi santri untuk mengembangkan bakat sekaligus mengasah kemampuan mereka.
Ia juga memuji keaktifan para santri yang tidak hanya berkarya di lingkungan pesantren, tetapi juga mampu meraih prestasi di tingkat internasional.
“Fal muhibhatu ma’al ijtihadi tu’ti ibda’an (Bakat yang dipadukan dengan kesungguhan akan menghasilkan kreativitas),” tegas Bassem.
Di balik capaian tersebut, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal menjelaskan bahwa pengembangan bakat dan hobi santri merupakan bagian dari proses pendidikan. Kegiatan tersebut menjadi sarana mengembangkan potensi sekaligus mengisi waktu luang secara positif tanpa mengesampingkan pendidikan akademik.
“Wal hiwayatu jami’ul muqaddarat, muqaddaratut thullabi hadza hatta yastarihu (Setiap hobi mengasah berbagai potensi. Potensi para santri ini dikembangkan agar mereka bisa melepas penat),” katanya.
Menurut Hasan, kegiatan organisasi maupun pengembangan bakat tetap ditempatkan sebagai pelengkap. Pendidikan akademik tetap menjadi prioritas utama santri.
“Wa lakin hadza kulluhu la yatrukud durus (Namun, semua kegiatan ini tidak membuat mereka meninggalkan pelajaran),” imbuhnya.
