Logo

Jurnalis Foto Angkat Sisi Lain Ludruk dalam Pameran Kolaboratif

Pegiat foto budaya hadirkan karya tentang wayang topeng
Reporter:,Editor:

Rabu, 01 April 2026 01:00 UTC

Jurnalis Foto Angkat Sisi Lain Ludruk dalam Pameran Kolaboratif

Sejumlah pengunjung sedang mengamati foto dalam pameran bertajuk bertajuk “Cagar Budaya, Aksaragata, dan Seni Visual” di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Foto: Karina

JATIMNET.COM, Jombang – Pameran bertajuk “Cagar Budaya, Aksaragata, dan Seni Visual” berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang sejak Senin, 30 Maret 2026 hingga Kamis, 2 April 2026.

Event ini menghadirkan karya kolaborasi dua fotografer, yakni Sofan Kurniawan (Sofanka) dan Luhur Wahyu Wijaya. Fotografer yang memiliki latar belakang berbeda ini berhasil memadukan seni visual, tradisi, dan jejak sejarah.

Sofanka merupakan alumnus Fotografi ISI Yogyakarta yang kini aktif sebagai fotografer di Jawa Pos Radar Mojokerto. Dalam pameran ini, ia membawa karya bertajuk "Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan".

Travesti merupakan laki-laki yang berperan menjadi perempuan dalam kesenian Ludruk. Melalui lensanya, Sofanka membedah kompleksitas tubuh sebagai ruang ekspresi sekaligus simbol perlawanan dalam ranah sosial.

BACA: Kembangkan Kreativitas, Dispusip Surabaya Latih Pelajar SMP Fotografi

Secara historis, kesenian Ludruk pernah dibekukan oleh rezim orde baru karena dianggap kritis dan menjadi “corong” komunis.

Hingga akhirnya, Ludruk bangkit kembali meski dalam pengawasan dan menghibur masyarakat terutama di pedesaan.

Sementara, Luhur Wahyu Wijaya merupakan pegiat foto budaya yang juga merupakan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Jombang.

Dalam pameran ini, ia menghadirkan napas tradisi lewat tema "Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama Dalam Tubuh Baru".

Karyanya, berupaya mendokumentasikan bagaimana kesenian tradisional tetap relevan dan bertahan di tengah gempuran zaman.

BACA: “Fitri” Besutan Jatimnet Production Raih 10 Terfavorit Anugerah Film Pendek Golkar 2025

Pameran ini tidak hanya memanjakan mata melalui bingkai foto dan lukisan. Namun, juga menghadirkan kekayaan arkeologi melalui benda-benda bersejarah dan aksara nusantara klasik. kedua fotografer membawa pesan yang kontras namun saling melengkapi.

"Pameran ini sekaligus literasi bagi kami, baik secara visual maupun tekstual. Banyak yang kami dapatkan dan kaji dalam pameran kali ini” ujar Saskia salah seorang pengunjung pameran.

Event ini menjadi kesempatan langka untuk menikmati dialektika seni sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan cagar budaya lokal.