Selasa, 08 September 2026 06:30 UTC

Seorang pengunjung sedang melihat karya para kaligrafer yang dipajang dalam Festival Kaligrafi Internasional dalam rangkaian peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Selasa, 8 September 2026. Foto: Satria.
JATIMNET.COM, Ponorogo – Sebanyak 279 kaligrafer dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand mengikuti Festival Kaligrafi Internasional di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Mereka bertanding dalam tiga kategori lomba yang digelar hingga 10 September 2026.
Wakil Rektor III Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor sekaligus Ketua Panitia Festival Kaligrafi Internasional, Dr. Khoirul Umam, mengatakan peserta dari empat negara ASEAN tersebut menjadi bagian utama dalam rangkaian festival.
Kegiatan ini mengusung tema “Menulis Peradaban, Merawat Warisan Menuju Abad ke-21” dan digelar bersamaan dengan momentum 100 tahun Gontor.
Khoirul mengatakan peringatan satu abad Gontor tidak dimaknai sebagai perayaan semata. Gontor ingin menjadikan momentum tersebut sebagai upaya merawat warisan yang telah dibangun selama ini.
“Yang kita selalu mengingatkan dalam momentum peringatan 100 tahun, peringatan ini tidak dinamakan perayaan,” kataya, Selasa, 8 September 2026.
Selain lomba, peserta juga mengikuti workshop pembuatan kertas Daluang Gontor, kaligrafi klasik, sulus, jali, dan seni ebru. Ada pula sharing session bertema “Dari Nusantara Menuju Mata Dunia” dan “Mushaf Gontor”.
Sekitar 350 peserta mengikuti workshop dan sharing session tersebut. Mereka berasal dari kalangan santri dan guru Pondok Modern Darussalam Gontor putra-putri, peserta pondok kaligrafi, serta masyarakat umum.
Maestro kaligrafi Indonesia sekaligus alumni Gontor, Dr. KH. Didin Sirajuddin, melihat pertemuan kaligrafer dari empat negara ASEAN tersebut sebagai gambaran perkembangan kaligrafi Indonesia.
“Festival kaligrafi internasional di Gontor ini menjadi cahaya mercusuar untuk menunjukkan betapa sekarang itu kaligrafi di Indonesia berkembang dengan pesat dan revolusioner,” ujar Didin.
Didin berharap semakin banyak anak muda yang menekuni kaligrafi. Menurutnya, seni tersebut tidak berhenti pada nilai estetika, tetapi juga bisa menjadi bidang yang menghasilkan secara ekonomi.
“Kaligrafi itu menjanjikan, baik dari sisi ekonomi maupun segi arts yang bisa menghias keindahan Indonesia keseluruhan,” ungkap Didin.
