Logo

Tekan Modal Tanam, Petani Tuban Belajar Racik Obat Pertanian Mandiri

Reporter:,Editor:

Senin, 10 August 2026 12:00 UTC

Tekan Modal Tanam, Petani Tuban Belajar Racik Obat Pertanian Mandiri

Beberapa petani di Kabupaten Tuban sedang belajar penanaman semi organik Senin, 10 Agustus 2026. Foto: Zidni Ilman.

JATIMNET.COM, Tuban – Biaya produksi yang terus meningkat membuat sejumlah petani di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mulai mencari cara baru untuk menekan modal tanam.

Selain harga pupuk dan pestisida kimia yang semakin mahal, petani juga menghadapi persoalan penurunan kesuburan tanah serta ancaman serangan jamur dan nematoda. Kondisi tersebut membuat biaya perawatan tanaman semakin besar, sementara hasil panen belum tentu meningkat.

Salah satu petani yang merasakan kondisi itu adalah Jasmat, warga Desa Glodog, Kecamatan Palang. Ia mengatakan, penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan selama bertahun-tahun membuat kondisi tanah di lahannya semakin keras.

Di sisi lain, harga obat-obatan pertanian yang dibeli dari toko terus meningkat. Kondisi itu membuat biaya tanam semakin berat.

"Kami butuh cara baru yang lebih efisien agar biaya tanam tidak terus membengkak," kata Jasmat, Senin, 10 Agustus 2026.

Untuk mencari alternatif, Jasmat bersama puluhan petani dari Desa Leran Kulon, Glodog, Pucangan, Cendoro, Ngimbang, dan Gesing mengikuti ruang belajar pertanian "Ngudar Tani" di Balai Dusun Jalak, Desa Sumurjalak, Kecamatan Plumpang.

Dalam kegiatan tersebut, para petani mempelajari metode budidaya yang dinilai lebih hemat biaya dan ramah lingkungan. Mereka belajar dari pengalaman petani di Desa Sumurjalak yang telah menerapkan metode pertanian semi organik melalui lahan percontohan atau demplot.

Metode tersebut menjadi alternatif bagi petani yang menghadapi persoalan tanah dengan tingkat keasaman tinggi serta serangan nematoda. Para petani diperkenalkan pada cara mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia dengan memanfaatkan bahan yang lebih mudah diperoleh.

Salah satunya dengan membuat fungisida secara mandiri menggunakan campuran belerang, KOH, dan garam. Petani juga diperkenalkan dengan racikan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) untuk membantu pengisian bulir padi.

Bahan yang digunakan antara lain jagung manis dan obat gendar. Racikan tersebut diharapkan dapat membantu memaksimalkan pengisian malai tanpa harus bergantung pada formula buatan pabrik.

“Cara-cara seperti ini yang kami butuhkan sekarang,” ujar Jasmat.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pertanian Berkelanjutan dan Aman yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas dengan menggandeng Yayasan eL-SAL Indonesia.

Perwakilan EMCL Joni Wicaksono mengatakan, metode tersebut dikembangkan berdasarkan persoalan yang dihadapi petani di lapangan. Pengalaman dari lahan percontohan diharapkan dapat diterapkan oleh petani di wilayah lain.

"Ketika petani mampu menyelesaikan masalah lahannya melalui racikan mandiri, modal produksi dapat ditekan dan efisiensi meningkat," kata Joni.

Menurut Joni, pertukaran pengetahuan antarpetani diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha tani di Tuban.

Selain persoalan pertanian, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi keselamatan bagi petani yang menggarap lahan di sekitar jalur pipa minyak Blok Cepu.

Joni mengatakan, keterlibatan masyarakat, terutama para petani, penting untuk menjaga keamanan dan keselamatan di sekitar jalur pipa. Selama ini, jalur tersebut berada di sekitar aktivitas pertanian warga.

Ketua Umum Yayasan eL-SAL Indonesia Imam Muqroni mengatakan, aspek keselamatan juga menjadi bagian dari ruang belajar tersebut. Petani diberikan pemahaman mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika beraktivitas di sekitar fasilitas hulu migas.

Menurutnya, edukasi keselamatan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar aktivitas pertanian dan keberadaan fasilitas migas dapat berjalan berdampingan dengan aman.

“Petani nyaman, pipa aman, semua selamat,” pungkas Imam.