Jumat, 11 September 2026 22:30 UTC

Ketua Komite BPH Migas, Wahyudi Anas saat memantau distribusi BBM di salah satu SPBU di Jember, Jumat malam, 11 September 2026, setelah sebelumnya terjadi krisis pasokan BBM. Foto: Hermawan
JATIMNET.COM, Jember – BPH Migas menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga pasokan BBM di Kabupaten Jember. Pertamina Patra Niaga menyiagakan 15 mobil tangki yang dapat dikerahkan melalui jalur alternatif dari Surabaya jika distribusi dari Banyuwangi kembali terganggu.
Ketua Komite BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan armada tersebut disiapkan untuk menghadapi kemungkinan gangguan distribusi sekaligus lonjakan konsumsi BBM masyarakat.
“Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan kendaraan-kendaraan pengiriman mobil tangki yang standby, apabila nanti ada gangguan distribusi BBM serta adanya lonjakan konsumsi di masyarakat Kabupaten Jember,” kata Wahyudi saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di SPBU Gajah Mada, Jember, Jumat malam, 11 September 2026.
BPH Migas melakukan sidak sekitar pukul 18.00 WIB bersama DPC Hiswana Migas Besuki, perwakilan Komisi C DPRD Jember, Pemerintah Kabupaten Jember, dan Pertamina Patra Niaga.
Menurut Wahyudi, Banyuwangi selama ini menjadi salah satu jalur utama pengiriman BBM menuju Jember. Namun, gangguan arus kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang sempat menghambat perjalanan armada dari Integrated Terminal Tanjung Wangi menuju Jember.
Gangguan tersebut kemudian berdampak pada ketersediaan BBM di sejumlah SPBU. Antrean mulai muncul sekitar 3-4 September 2026, bertepatan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat.
Kondisi lalu lintas di Banyuwangi kini mulai membaik. Pemerintah daerah bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Banyuwangi melakukan penguraian kepadatan sehingga arus kendaraan kembali bergerak.
Meski demikian, BPH Migas tidak ingin distribusi kembali bergantung pada satu jalur. Karena itu, jalur Surabaya disiapkan sebagai alternatif apabila akses Banyuwangi kembali mengalami hambatan.
Wahyudi mengatakan rute Surabaya menuju Jember membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan pengiriman dari Banyuwangi.
“Surabaya ke Jember kurang lebih membutuhkan sekitar 10 jam. Sementara kalau memang dari Banyuwangi cukup sekitar 6 sampai 8 jam,” jelasnya.
Selain Jember, pola distribusi BBM juga disesuaikan untuk sejumlah daerah. Pasokan BBM ke Situbondo dan Bondowoso diarahkan dari Surabaya, sedangkan Banyuwangi difokuskan memenuhi kebutuhan di wilayahnya.
Sementara itu, pasokan untuk Lumajang berasal dari Malang dan sebagian dari Surabaya.
BPH Migas juga mengantisipasi kemungkinan gangguan di jalur Gunung Gumitir. Longsor di kawasan tersebut dinilai berpotensi kembali menghambat distribusi BBM menuju Jember.
Untuk menjaga ketersediaan stok, Pertamina Patra Niaga menggunakan sistem otomatis yang memantau persediaan BBM di SPBU. Sistem tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan kebutuhan pemesanan dan pengiriman berikutnya.
“Jadi tidak semata-mata kosong itu dilakukan pembiaran, tetapi itu terkontrol dengan baik,” kata Wahyudi.
Sementara itu, antrean di sejumlah SPBU Jember mulai terurai. Hariono (45), pengemudi ojek online, mengatakan kondisi saat ini tidak lagi separah beberapa hari sebelumnya.
“Jadi ya, antrean yang mungkin kurang lebih ada beberapa rentetan antrean yang sudah ada. Tidak mengganggu jalan. Jadi antrean hanya beberapa tempat, tapi di dalam SPBU,” ujarnya.
Di sisi lain, BPH Migas juga menyoroti pengawasan penyaluran BBM bersubsidi. BPH Migas bersama Pertamina telah melakukan pembinaan terhadap salah satu SPBU di kawasan Tegal Besar terkait penyaluran Biosolar dan Pertalite.
Gangguan distribusi sebelumnya dipicu kepadatan kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang. BPH Migas mencatat arus kendaraan logistik meningkat sekitar 12 persen, sedangkan kendaraan roda dua dari Banyuwangi menuju Bali melonjak sekitar 42 persen.
Dengan armada tambahan dari Surabaya dan pemantauan stok secara otomatis, BPH Migas berharap pasokan BBM Jember tetap terjaga sekaligus mengantisipasi gangguan distribusi kembali terjadi.
