Jumat, 08 May 2026 12:00 UTC

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat meninjau alisintan yang dipamerkan di areal persawahan Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Madiun, Jumat, 8 Mei 2026. Foto: Nugroho
JATIMNET.COM, Madiun – Plh Dirjen Tanaman Pangan Kementan RI Tin Latifah menyatakan bahwa Provinsi Jawa Timur sebagai tulang punggung produksi padi nasional. Sebab, luas panen gabah paling tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia.
Bahkan, pada tahun ini target produksi padi ditargetkan meningkat 5 persen dibandingkan tahun 2025. Badan Pusat Statistik menyebut, luas tanam pada tahun 2025 mencapai 1,84 juta hektare dengan produksi padi mencapai 10,44 juta ton gabah kering giling (GKG).
“Kami tadi sempat bisik-bisik (dengan Kepala BPS Jatim), untuk semester I yang dimulai Januari hingga Juli 2026, (produksi padi) diprediksi meningkat 5 persen,” ujar Tin saat mengikuti gerakan panen dan percepatan tanam di Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Jumat, 8 Mei 2026.
BACA: Gubernur Jatim Sebut Beras Merupakan Produk Politik
Ia optimis target tersebut bisa tercapai. Namun, upaya mitigasi organisme pengganggu tanaman (OPD) dan potensi kekeringan saat musim kemarau tahun ini yang diprediksi lebih kering bisa dilakukan.
“Untuk memitigasi risiko tersebut, kami di Kementerian Pertanian ada bantuan benih, alsintan berupa mesin pemanen, mesin tanam, irigasi perpompaan. Tapi, masih sebatas alokasi,” kata Tin.
Agar alokasi itu bisa direalisasikan, ia mengajak para petani maupun kelompok tani mengusulkan permohonan bantuan ke pemerintah pusat.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa pihaknya telah menetapkan beberapa kebijakan untuk mencapai target lahan dan hasil panen padi.
BACA: Sebut Jatim Lumbung Pangan Nasional, Khofifah: Ini yang Harus Kita Jaga
Salah satunya, melalui modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan) di seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut.
Modernisasi alsintan menjadi bagian yang sangat penting seperti penggunaan transplanter, rotavator, drone sprayer, hingga Combine Harvester.
Selain itu, menyusun pola tanam adaptif berbasis teknologi dan mitigasi perubahan ilkim.
Kemudian mengoptimalkan penggunaan alat dan mesin pertanian atau alsintan agar proses panen, olah tanah, hingga tanam kembali dapat berjalan lebih cepat dan efisien.
