Logo

Target 3 Ribu Anak Per Hari dari BGN Terlalu Ambisius, Penutupan SPPG Hanya Reaktif

Reporter:

Sabtu, 25 April 2026 00:06 UTC

Target 3 Ribu Anak Per Hari dari BGN Terlalu Ambisius, Penutupan SPPG Hanya Reaktif

Pengendara motor melintas di depan salah satu dapur MBG di Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan Sampang. Foto: Dok/Zainal Abidin

JATIMNET.COM – Tingginya kasus dugaan keracunan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai karena program andalan Presiden Prabowo itu masih menghadapi persoalan mendasar dalam pelaksanaannya. Guru Besar Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., menilai program yang merupakan janji kampanye pada Pilpres 2024 lalu tersebut dijalankan tanpa kesiapan yang memadai.

Menurut Sri, tingginya angka kasus dugaan keracunan makanan menunjukkan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belum siap menjalankan tugas dalam skala besar.

Ia menegaskan bahwa ketidaksiapan ini tidak terjadi di satu wilayah saja, melainkan tersebar di berbagai daerah. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya persoalan sistemik dalam perencanaan program.

BACA: Kejagung Temukan Persoalan Program MBG di Tuban, Intelijen Turun Lakukan Pengawasan 

Sri juga menyoroti bahwa berbagai masukan yang telah disampaikan kepada pihak terkait, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN), belum sepenuhnya diakomodasi.

“Seolah-olah itu menunjukkan tindakan disiplin, tetapi sebenarnya masalah awalnya persiapannya dipaksa berjalan,” ujar Sri dalam keterangan tertulis, Jumat, 24 April 2026.

Ia menilai langkah penertiban seperti penutupan SPPG yang tidak memenuhi standar masih bersifat reaktif dan belum menyelesaikan akar masalah.

Lebih lanjut, Sri menyoroti kebijakan awal pemerintah yang menetapkan target produksi besar secara serentak. Dengan sasaran puluhan juta siswa, setiap SPPG dibebani produksi hingga 3.000 porsi per hari.

BACA: Setiap Bulan Ada Kasus Dugaan Keracunan MBG, Pakar Pangan Sebut Ada Masalah Serius 

Menurutnya, pendekatan tersebut terlalu ambisius. Ia memperkirakan untuk melayani sekitar 80 juta siswa, diperlukan hampir 30 ribu unit SPPG.

Sri menekankan bahwa program skala besar seharusnya dijalankan secara bertahap. Ia menyarankan agar produksi dimulai dari kapasitas kecil, seperti 500 porsi per hari, sebelum ditingkatkan secara bertahap berdasarkan hasil evaluasi.

“Dari situ bisa diambil pelajarannya terkait kemampuan handle 500, hasilnya nanti bisa untuk menetapkan apakah cukup siap dinaikkan tiga kali lipat selanjutnya. Tahapan ini tidak diantisipasi karena terburu-buru tadi,” pungkasnya.