Logo

Pakar Pangan Ungkap Alasan Ayam Kerap Jadi Penyebab Keracunan Massal di MBG

Opsi Menggoreng Dinilai Lebih Aman, Meski Dianggap Tak Sehat
Reporter:

Sabtu, 25 April 2026 01:49 UTC

Pakar Pangan Ungkap Alasan Ayam Kerap Jadi Penyebab Keracunan Massal di MBG

Ilustrasi. Ayam potong kerap dipilih pengelola SPPG, salah satunya karena dianggap murah. Foto: Zulafif

JATIMNET.COM – Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengungkapkan, sejak awal 2025 hingga April 2026, tercatat sedikitnya 33.626 siswa mengalami keracunan, diduga usai mengkonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).

Data yang dihimpun JPPI tersebut memunculkan kekhawatiran terkait standar keamanan pangan dalam distribusi makanan ke sekolah-sekolah.

Guru Besar Teknologi Pangan UGM, Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc punya analisa menarik terkait dugaan penyebab tingginya kasus keracunan diduga akibat MBG. Ia menyoroti salah satu potensi masalah pada pengolahan ayam sebagai menu utama.

Menurutnya, ayam sering dipilih karena harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan sumber protein lain. Namun, dalam skala produksi hingga ribuan porsi, proses pengolahannya menjadi tantangan besar.

Untuk memenuhi 3.000 porsi, dibutuhkan ratusan ekor ayam yang harus dimasak dalam waktu singkat. Kondisi ini berpotensi menyebabkan proses pemasakan tidak merata.

“Jika makanan tidak diolah dengan benar sejak awal, risiko kontaminasi semakin besar,” ujarnya, Jumat, 24 April 2026.

BACA: Penyebab Keracunan MBG di Mojokerto Mengarah ke Telur Ayam Rebus 

Sri menjelaskan bahwa metode pengolahan sangat menentukan tingkat keamanan pangan. Ia membandingkan antara ayam yang langsung dimasak dari kondisi mentah dengan ayam yang telah direbus terlebih dahulu.

Ayam yang direbus hingga matang dinilai lebih aman karena panas dapat merata dan membunuh bakteri secara optimal. Setelah itu, penyimpanan dalam freezer menjadi bagian dari manajemen produksi yang lebih terkontrol.

Sebaliknya, memasak ayam mentah dalam jumlah besar dengan metode tumis atau bumbu kering berisiko menghasilkan kematangan yang tidak merata.

“Relatif sulit untuk memastikan setiap bahan dari ratusan potong dalam satu wajan matang semua. Berarti ada risiko sebagian dari potongan tadi mungkin tidak mampu mematikan katakan kuman atau bakteri penyebab penyakit,” ujarnya.

BACA: Target 3 Ribu Anak Per Hari dari BGN Terlalu Ambisius, Penutupan SPPG Hanya Reaktif 

Selain faktor teknis, kelelahan tenaga kerja juga menjadi perhatian. Proses produksi yang dimulai sejak dini hari dan berlangsung setiap hari dapat menurunkan ketelitian pekerja.

Ia juga menyoroti pemilihan metode memasak. Menurutnya, teknik seperti menggoreng justru lebih aman dari sisi higienitas karena suhu tinggi mampu membunuh bakteri, meski sering dihindari karena alasan kesehatan.