Survei Pilpres, Pengamat: Margin Suara Dua Paslon Menyempit

David Priyasidharta

Rabu, 27 Maret 2019 - 08:43

JATIMNET.COM, Semarang - Dosen Komunikasi Politik STIKOM Semarang Suryanto menyebutkan margin suara dua pasangan calon presiden dan wakil presiden makin menyempit jelang hari pencoblosan pada 17 April 2019 mendatang. Suryanto merujuk hasil survei sejumlah lembaga jajak pendapat, termasuk hasil survei Litbang Kompas.

Situasi ini, kata Suryanto "memaksa" kedua pasangan calon peserta pilpres, baik pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, serta tim suksesnya bekerja keras untuk meraih kemenangan.   

"Perang elektabilitas antarkandidat makin sengit, baik paslon nomor urut 01 maupun 02," kata Suryanto di Semarang, Rabu 27 Maret 2019.

BACA JUGA: Yenny Wahid Optimistis Suara Jokowi di Atas 65 Persen

Menurut Suryanto, hasil survei Litbang Kompas pada tanggal 22 Februari sampai dengan 5 Maret 2019, menunjukkan kenaikan suara signifikan untuk pasangan nomor 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

Elektabilitas pasangan ini naik 4,7 persen dalam enam bulan, yakni dari 32,7 persen pada bulan Oktober 2018 menjadi 37,4 persen pada survei kali ini.

Sebaliknya, elektabilitas rivalnya, pasangan nomor 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin, turun 3,4 persen, dari 52,6 persen pada bulan Oktober 2018 menjadi 49,2 persen. Selisih suara di antara kedua pasangan menyempit menjadi 11,8 persen. Sedangkan suara mengambang 13,4 persen.

BACA JUGA: Prabowo: Saya tidak akan Salah Bicara

Bagi Prabowo dan tim suksesnya, menurut Suryanto, jarak yang makin pendek dalam kontestasi pilpres melawan petahana merupakan insentif segar yang membuat nalar dan fantasi dalam merumuskan kerja dan ide kampanye untuk memenangi pilpres makin kuat dan bergairah.

"Sebagai petahana, sikap paling objektif dan penting dari hasil survei itu adalah bahwa Jokowi perlu hati-hati! Belum aman, angka itu belum dan bahkan jauh dari aman," ujarnya.

Kerja-kerja sistematis dan terstruktur serta masif, kata Suryanto, perlu dilakukan dengan terukur dan baik serta beradab. Rapat-rapat umum dalam kampanye menjadi ruang yang bisa dimanfaatkan secara maksimal. Menurutnya, hal ini diyakini dapat memengaruhi jumlah suara yang masih belum menentukan pilihan sebesar 13,4 persen.

BACA JUGA: Begini Rencana Kampanye Akbar Jokowi dan Prabowo di Jatim

Angka 13,4 persen, lanjut dia, memang sangat potensial untuk diperebutkan. Ditambah dengan peluang bahwa sangat mungkin terjadi mutasi pemilih terhadap pilihannya. Maka, kompleksitas berpikir dan bertindak para kontestan bersama tim suksesnya akan makin ketat dan sengit.

"Di sinilah kedua kontestan perlu mengambil langkah dan pendekatan yang elegan dan rasional serta beretika dalam mengambil peluang 13,4 persen suara yang masih mengambang," katanya.

Menurut Suryanto, jika melakukan kesalahan yang bisa menimbulkan hilangnya simpati dan "trust" dari massa mengambang itu, risiko raihan suara yang stagnan, bahkan bisa menurun. (ant)

Baca Juga

loading...