Status Aktivitas Gunung Anak Krakatau Turun Jadi Waspada

David Priyasidharta

Selasa, 26 Maret 2019 - 17:20

JATIMNET.COM, Jakarta - Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) menurunkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Siaga (level III) menjadi Waspada (level II) terhitung sejak Senin 25 Maret 2019. Dengan status tersebut, radius aman gunung ini menjadi dua kilometer dari sebelumnya lima kilometer.

Hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga 25 Maret 2019, tingkat aktivitas Anak Krakatau cenderung menurun walaupun berfluktuasi kecil.

Potensi erupsi masih ada, namun dengan intensitas yang kecil dibandingkan periode erupsi Desember 2018 dan sebaran material hasil erupsi yang membahayakan hanya tersebar pada radius dua kilometer dari kawah aktif Anak Krakatau.

BACA JUGA: Status Gunung Anak Krakatau Masih Siaga

"Berdasarkan hasil pengamatan, analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 25 Maret 2019, maka tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau diturunkan dari level III (Siaga) menjadi level II (Waspada) terhitung tanggal 25 Maret 2019 pukul 12.00 WIB," kata Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar seperti dikutip dari laman Kementerian ESDM, Senin 25 Maret 2019.

Menurut Rudy, pasca periode erupsi intensif sejak Juni 2018 - 9 Januari 2019, secara visual Gunung Anak Krakatau sesekali mengeluarkan letusan asap putih uap air dengan tinggi kolom asap maksimal mencapai 1.000 meter di atas puncak.

Pengamatan energi tremor cenderung menurun walaupun berfluktuatif serta tidak memperlihatkan indikasi deformasi yang signifikan pada tubuh gunungapi.

BACA JUGA: Erupsi Gunung Anak Krakatau Berhenti Total

Rekomendasi pada tingkat aktivitas level II (Waspada) ini adalah agar masyarakat atau wisatawan tidak beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah aktif, yaitu di dalam pulau Gunung Anak Krakatau.

"Masyarakat tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius dua kilometer dari kawah aktif. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat," tambah Rudy.

Anak Krakatau merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di Selat Sunda, muncul di antara Pulau Panjang, Pulau Sertung dan Pulau Rakata (Komplek Vulkanik Gunung Krakatau).

BACA JUGA: PVMBG Catat Terjadi Perubahan Pola Letusan Anak Krakatau

Gunungapi Anak Krakatau sejak pemunculannya pada 11 Juni 1927 hingga 2019, telah mengalami erupsi lebih dari 120 kali dengan waktu istirahat berkisar antara 1 - 6 tahun.

Erupsi selama lima tahun terakhir adalah letusan abu dan aliran lava. Pada Juni- Desember 2018 erupsi menerus terjadi beberapa kali dengan intensitas energi tremor erupsi terkuatnya terjadi pada bulan September.

Pada 22 Desember 2018 aktivitas meningkat kembali, dengan terekamnya tremor vulkanik menerus yang berasosiasi dengan letusan menerus, serta letusan surtseyan pada 28 Desember 2018. Sehingga pada 27 Desember 2018, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Baca Juga

loading...