MESKI nasabnya putra sulung Dewi Kunti, Karna berperang untuk Kurawa. Dalam perang Baratayuda, ia berhadapan dengan adik-adiknya; Yudistira, Bima, dan Arjuna, serta si kembar Nakula dan Sadewa.

Pandawa identik dengan kebajikan. Tapi watak kesatria bisa dimiliki kubu mana saja. Bahkan Kurawa sekalipun.

Saat guru Dorna mengumumkan Arjuna sebagai murid terbaik, Karna muncul menantang Arjuna beradu kesaktian. Karna, yang dibuang Kunti sejak bayi di sungai Aswa, memperkenalkan diri sebagai putra Adirata, kusir istana. Mendengar pengakuan itu, Resi Krepa menolak mentah-mentah. Baginya, lawan tanding Arjuna haruslah sederajat ningrat.

Karna kehilangan muka. Duryodana, sulung seratus Kurawa, tampil membela. Keberanian, kata Duryodana, bukan dominasi kaum ningrat. Watak itu bisa dimiliki siapa saja, termasuk anak kusir. Ia lalu memuliakan Karna, memberinya derajat, dan mengangkat jadi raja Angga.

Pandai-pandailah berterimakasih pada pemberi kehidupan, sekalipun dia seekor kuda. Sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer menulis dalam novelnya, Bumi Manusia.

Ketika perang Barata meletus di Kurusetra, Bisma, panglima Kurawa, memperingatkan Karna agar berdiri di pihak Pandawa. Seberapa besar cinta Bisma pada cucu-cucunya, Kurawa, ia bukanlah Chauvinis yang lantang berkata right or wrong is my country.

Tapi Karna bukan orang yang tak tahu cara berterimakasih. Jangankan bujukan Bisma, tangisan Kunti, ibu kandungnya, tak mampu meluluhkan hatinya untuk mengkhianati Kurawa.

Ia mencurahkan keberaniannya

Dalam perang Karna mati dipanah

Akhirnya mashur sebagai perwira utama

Kisah kepahlawanan Karna mengilhami Adipati Mangkunegara IV (berkuasa 1811-1881) menulis Serat Tripama. Kisah yang ditulis dalam bentuk macapat Dhandhanggula itu pernah diterbitkan Kamajaya tahun 1984 dengan judul “Tiga Suri Teladan, kisah kepahlawanan tiga tokoh wayang”.

10 November 2018 lalu kita baru saja memperingati Hari Pahlawan. Peringatan itu diberikan untuk mengenang heroisme para pemuda bertempur melawan Inggris di Surabaya selama tiga pekan pada November 1945.

Sejatinya kita bisa menemukan “Karna” dalam pertempuran itu. Ada Ketut Tantri, perempuan Amerika bernama asli Muriel Stuart Walker. Saat pertempuran Surabaya, ia menjadi penyiar berbahasa Inggris di radio bawah tanah yang dikelola Bung Tomo. Berkat siarannya, masyarakat dunia internasional mengetahui kedaulatan Indonesia.

Lalu ada Laksamana Shibata Yaichiro, panglima Angkatan Laut Jepang di Surabaya. Ketika negaranya dinyatakan kalah perang dunia kedua, ia buka gudang senjata pasukannya di Gubeng. Berbekal senjata itulah para pemuda melawan persenjataan modern Inggris.

Sejarah juga mencatat sejumlah orang-orang India dalam pasukan Inggris yang membelot ke Indonesia. Mayoritas personel Brigade 49 di bawah komando Brigjen AWS Mallaby adalah orang-orang India. Sebagian mereka muslim yang terpapar Pan Islamisme dan menolak memerangi sesama muslim.

Perang memang rumit. Saking rumitnya, Sersan Matthew Eversmann tak pernah mampu memahami peperangan di Mogadishu. Di usia 26 tahun, personel Ranger 45 Amerika itu terlibat operasi militer meringkus Mohammed Farrah Aidid – Presiden Somalia kelima- pada 1993.

Kalian pikir orang berperang agar dikenang sebagai pahlawan? “Tidak, tak seorang pun ingin jadi pahlawan,” katanya.

Kisah Eversmann diangkat jadi film “Black Hawk Down”. Ken Nolan menyusun skenarionya berdasarkan laporan jurnalistik Mark Bowden, wartawan The Inquirer berjudul “Black Hawk Down; A Story of Modern War”.

Seperti halnya Karna, Eversmann (diperankan Josh Hartnett), meyakini perang adalah tentang siapa orang di sekitar kita. Maka, bagi Stanley Martin Lieber, tiap orang bisa jadi pahlawan.

Stan Lee alias Stanley, pencipta superhero dalam komik Marvel yang meninggal di usia 95 tahun pada Selasa 13 November 2018 kemarin. Ia menyulap orang biasa jadi luar biasa; pemuda lemah Steve Roger jadi Captain America, Peter Parker yang klemak-klemek dan pemalu jadi Spiderman, atau seorang kulit hitam jadi Black Panther.

Dalam kehidupan nyata, ada pahlawan di sekitar kita.

Saya haqul yakin kita langsung sepakat, seorang ibu yang bertaruh nyawa saat melahirkan adalah pahlawan bagi oroknya. Tapi apakah kita masih bisa melihat heroisme pencopet yang mati digebuki massa? Padahal mungkin saja, hasilnya mencopet untuk melunasi SPP anaknya. Atau, untuk membeli nasi bagi keluarganya yang tak makan tiga hari.

Banyak pahlawan di sekitar kita. Tapi selama kita memandang tiap peristiwa dengan kacamata kuda, selama itu pula pahlawan –meminjam Agus Noor dalam “Matinya Seorang Demonstran”- hanya pecundang yang beruntung.