Selandia Baru Larang Penyebaran 'Manifesto' Brenton Tarrant

Nani Mashita

Sabtu, 23 Maret 2019 - 13:20

JATIMNET.COM, Surabaya - Selandia Baru mengeluarkan aturan terbaru pasca teror penembakan dua masjid di Christchurch yang menewaskan 50 orang dan puluhan terluka. Aturan itu adalah melarang segala jenis kepemilikan dan pendistribusian manifesto yang ditulis Tarrant sebelum penembakan.

Kantor Klasifikasi Film dan Sastra mengumumkan bahwa dokumen tersebut tidak dapat diterima berdasarkan hukum. Yang disebut 'anifesto'  Brenton Tarrant yaitu tulisan lebih dari 80 halaman dan diisi dengan anti-imigran dan anti-Muslim.

"Ada perbedaan penting yang harus dibuat antara 'pidato kebencian,' yang mungkin ditolak oleh banyak orang yang berpikiran benar, tetapi yang sah untuk diungkapkan, dan jenis publikasi ini, yang sengaja dibangun untuk menginspirasi pembunuhan lebih lanjut dan terorisme. Itu melewati batas," kata Kepala Sensor Selandia Baru David Shanks, seperti dilansir www.cnn.com, Sabtu 23 Maret 2019.

BACA JUGA: Ardern Pimpin Selandia Baru Hening, Seminggu Pasca Teror Christchurch

Dokumen itu diposting di media sosial dan dikirim ke kantor Perdana Menteri Jacinda Ardern tepat sebelum penembakan dimulai. Pada hari Kamis, Shanks meminta masyarakat untuk menghapus semua salinan, serta posting online atau tautan ke dokumen. Orang-orang juga dapat melaporkan setiap posting media sosial, tautan, atau situs web.

"Warga Selandia Baru semuanya dapat berperan dalam menyangkal mereka yang mendesak kebencian, pembunuhan dan teror," kata Shanks.

Ia meminta untuk tidak mendukung tujuan pembunuhan penulisnya dengan menerbitkan ulang atau mendistribusikannya.

BACA JUGA: Selandia Baru Larang Semua Jenis Senjata Semi Otomatis

Awal pekan ini, pihak berwenang melarang rekaman penembakan fatal, termasuk klip yang diedit dan gambar foto. Pelaku, Tarrant dengan sengaja menyiarkan secara langsung aksi terornya di Facebook. Brenton Tarrant dikenal atas pandangannya yang menjunjung tinggi supremasi warga kulit putih.

Jejaring sosial, Facebook mengatakan telah menghapus 1,5 miliar video penembakan tersebut, dimana 1,2 juta di antaranya dihapus saat akan diunggah. Penembakan ini juga membuat Selandia Baru merevisi aturan soal kepemilikan senjata milik warganya.

PM Jacinda Ardern menyatakan seluruh jenis senjata semi-otomatis dilarang untuk didistribusikan. Brenton Tarrant, warga negara Australia, sudah didakwa atas pembunuhan 50 orang. Rencananya pada 5 April mendatang, pria 28 tahun ini akan kembali menghadapi sidang dakwaan yang lebih banyak.

Baca Juga

loading...