Rusuh 22 Mei, Anies Sebut Enam Orang Tewas

David Priyasidharta

Rabu, 22 Mei 2019 - 12:38

JATIMNET.COM, Jakarta - Enam orang dikabarkan tewas dan 200 orang mengalami luka-luka dalam kerusuhan pada aksi massa Rabu 22 Mei 2019 untuk menolak hasil rekapitulasi pemilu 2019.  

Aksi massa terjadi sejak Selasa 21 Mei 2019 dan masih berlanjut hingga kini di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI, dan sepanjang ruas Jalan MH Thamrin, Jakarta.

"Data per jam sembilan pagi, ada sekitar 200 orang dibawa ke lima rumah sakit di Jakarta, dan enam orang meninggal dunia," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota Jakarta, Rabu 22 Mei 2019 .

Anies mengatakan akan dilakukan investigasi dan visum guna mengetahui lebih lanjut penyebab dan pengobatannya. Ia menambahkan penanganan korban di rumah sakit akan dibiayai oleh Pemprov DKI Jakarta.

BACA JUGA: PP Muhammadiyah Imbau tak Perlu Ikut People Power

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan terprovokasi. "Jaga ketertiban, jaga keamanan. Damai dibutuhkan oleh semuanya. Saya mengimbau semua pihak yang ada di lapangan, jaga hati, tenang dalam suasana dalam mengungkapkan pikiran," tutup Anies.

Sementara Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol M Iqbal di Jakarta awalnya aksi unjuk rasa berlangsung damai, dilakukan oleh berbagai kelompok massa yang mendekati kantor Bawaslu di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Komunikasi yang baik dengan pimpinan pengunjuk rasa, petugas TNI/Polri bahkan bisa berbuka puasa bersama, sholat maghrib, sholat isya dan sholat tarawih bersama-sama.

BACA JUGA: Aksi 22 Mei, Liburan Siswa Diimbau Diisi Edukasi Politik

Setelah selesai sekitar pukul 21.00 WIB, petugas mengimbau kepada pengunjuk rasa untuk membubarkan diri. "Korlap pengunjuk rasa kooperatif, suasananya pun kondusif, damai," kata Iqbal didampingi Kapuspen TNI Mayjen Sisriadi dan Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Asep Saputra.

Setelah itu, petugas TNI/Polri bisa melakukan konsolidasi untuk tetap berjaga dan mengamankan obyek terutama Bawaslu. Namun sekira pukul 23.00 wib, katanya, ada massa yang datang di sekitar Bawaslu, tidak tahu dari mana, berulah anarkis dan provokatif, berusaha merusak security barrier dan memprovokasis petugas.

Petugas, katanya, sesuai prosedur standar operasional (SOP) dan karena sudah larut malam, petugas TNI/Polri menghalau dengan mekanisme yang ada, namun massa di beberapa lokasi di Jalan Wahid Hasyim dan Jalan Thamrin menyerang petugas. "Bukan hanya lontaran kata-kata, tetapi juga batu, molotov, dan petasan," katanya.

BACA JUGA: Razia Pergerakan Demonstran ke Jakarta, Polisi Dinilai Melanggar HAM

Ia menyebutkan ada 58 provokator yang ditangkap dan sedang didalami lebih lanjut dalam pemeriksaan. Massa tersebut dari luar Jakarta, seperti dari Jawa Barat, Banten, bahkan Jawa Tengah.

Petugas juga menahan satu mobil ambulans berlambang partai politik, yang di dalamnya terdapat tumpukan batu dan berbagai peralatan, bahkan ada amplop. "Semua sudah kami sita," katanya.

Setelah massa anarkis di sekitar Bawaslu sudah dikendalikan, kemudian di tempat lain di Jalan KS Tubun sekitar pukul 02.45 WIB juga ada sekelompok massa sekitar 200 orang. Mereka ke kompleks asrama Brimob, lalu melakukan perusakan sejumlah kendaraan secara brutal.

Dari massa anarkis tersebut, katanya, menunjukkan bahwa itu bukan merupakan peristiwa spontan, melainkan telah dirancang (setting) untuk melakukan aksi anarkis dan brutal. "Beda dengan massa aksi damai yang sangat kooperatif," katanya. (ant)

Ralat: Redaksi mengganti judul sebelumnya Rusuh 22 Mei, Enam Orang Tewas

Baca Juga

loading...