Logo

Rupiah Tertekan, Pengusaha Percetakan Mulai Beradaptasi

Reporter:,Editor:

Sabtu, 13 June 2026 10:30 UTC

Rupiah Tertekan, Pengusaha Percetakan Mulai Beradaptasi

Nilai bahan pokok naik akibat dolar semakin tinggi dan rupiah melemah berdampak pada pengusaha di Mojokerto. Foto: Wanto.

JATIMNET.COM, Mojokerto – Pelemahan nilai tukar rupiah mulai dirasakan pelaku usaha di Mojokerto. Kenaikan harga bahan baku hingga biaya layanan digital membuat pengusaha harus mencari cara agar bisnis tetap berjalan tanpa membebani pelanggan.

Kondisi itu diungkap oleh M Yunus, 32 tahun, owner JDM Project Mojokerto yang bergerak di bidang percetakan dan penjualan daring.

Ia menyebut lonjakan biaya paling terasa terjadi pada bahan pendukung produksi, terutama material plastik yang digunakan untuk kebutuhan finishing dan pengemasan.

“Bisnis percetakan dan toko online tentunya sangat terdampak, khususnya di finishing dan packing karena membutuhkan bahan plastik,” ujar Yunus.

Menurutnya, harga plastik bening yang biasa digunakan untuk kemasan meningkat hampir dua kali lipat dalam beberapa waktu terakhir.

Sementara, bahan pendukung lain seperti isolasi juga mengalami kenaikan cukup signifikan, dari sebelumnya sekitar Rp320 ribu menjadi sekitar Rp550 ribu.

“Selain plastik, bahan lainnya juga naik sekitar 20 sampai 40 persen. Tapi yang paling terasa memang plastik,” katanya.

Meski biaya produksi meningkat, Yunus memilih belum menaikkan harga produk. Langkah itu diambil agar pelanggan tidak langsung terbebani di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Sebagai gantinya, pihaknya melakukan penyesuaian kecil pada transaksi tertentu. Salah satunya dengan mengenakan biaya tambahan untuk kantong plastik pada pembelian langsung.

“Kami belum menaikkan harga agar customer tidak kaget. Untuk sementara kami menyiasati dengan mengenakan biaya tambahan kantong plastik pada pembelian offline,” jelasnya.

Di tengah kenaikan biaya operasional, permintaan terhadap produk JDM Project masih relatif bertahan. Yunus menyebut produk yang dijual termasuk kebutuhan konsumsi sehingga belum terjadi penurunan jumlah pelanggan secara drastis.

“Karena produk kami konsumabel, jadi belum ada penurunan dari sisi konsumen. Tapi biaya operasional yang kami tanggung memang semakin tinggi,” ungkapnya.

Tekanan bagi pelaku usaha tidak hanya datang dari bahan baku. Sebagai bisnis yang memanfaatkan platform digital, JDM Project juga harus menghadapi kenaikan biaya administrasi marketplace.

Menurut Yunus, dalam dua bulan terakhir biaya layanan toko online mengalami peningkatan hingga beberapa kali sehingga ikut memangkas margin keuntungan.

“Biaya admin toko online sangat terasa. Bahkan, kenaikannya sampai tiga kali dalam dua bulan terakhir,” ujarnya.

Ia berharap kondisi global yang memicu gejolak harga energi dan nilai tukar dapat segera mereda. Sebab, harga minyak dunia turut berpengaruh terhadap harga bahan baku plastik.

“Harapannya perang segera berakhir sehingga harga minyak turun dan harga biji plastik ikut turun. Kami juga berharap biaya admin marketplace tidak naik lagi,” katanya.

JDM Project sendiri berawal pada 2020 dengan nama Jasa Desain Mojokerto yang melayani kebutuhan desain secara online.

Usaha tersebut kemudian berkembang menjadi bisnis percetakan dengan nama Jawa Dwipa Muda (JDM) Project.

Saat ini, usaha tersebut memiliki 11 karyawan dan melayani kebutuhan percetakan sekaligus penjualan melalui sejumlah platform digital.