Logo

Rupiah Melemah ke Rp18.089, Krisis Minyak Mengancam

Reporter:,Editor:

Sabtu, 07 November 2026 00:00 UTC

Rupiah Melemah ke Rp18.089, Krisis Minyak Mengancam

Rupiah melemah terhadap US Dollar.Foto: Periskop.

JATIMNET.COM, Jakarta – Rupiah kembali tertekan ketika ketegangan di jalur perdagangan minyak dunia meningkat.

Nilai tukar mata uang Indonesia melemah menjadi Rp18.089 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat, 6 November, di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi akibat serangan terhadap kapal tanker di Timur Tengah.

Pelemahan rupiah tercatat sebesar 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan penutupan Kamis, 5 November 2026, di level Rp18.082 per dolar AS.

Tekanan muncul setelah sejumlah insiden keamanan mengancam pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.

Kondisi tersebut meningkatkan ketidakpastian pasar sekaligus memperbesar risiko ekonomi bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai meningkatnya ancaman terhadap pengiriman minyak menjadi salah satu penyebab pelemahan rupiah.

“Pasar merespons negatif terhadap kapal-kapal tanker yang mendapat serangan di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat 6 November 2026.

Berdasarkan laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), sedikitnya lima kapal melaporkan insiden keamanan sejak Minggu, 1 November 2026.

Jumlah tersebut menambah kekhawatiran setelah sepanjang Oktober tercatat 35 insiden yang melibatkan kapal di kawasan tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda terbakar dalam insiden terpisah ketika berusaha melintasi rute yang dinyatakan tidak sah melalui Selat Hormuz.

Sementara itu, Arab Saudi memperingatkan potensi ancaman keamanan di sekitar Yanbu, salah satu pusat ekspor minyaknya di Laut Merah.

Ketegangan tersebut turut mengguncang perdagangan minyak mentah internasional. Harga minyak Brent sempat mencapai US$99,86 per barel pada perdagangan Jumat pagi, meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya impor energi dan tekanan inflasi di sejumlah negara.

Selat Hormuz memiliki peran penting karena menghubungkan kawasan penghasil minyak Teluk Persia dengan pasar internasional.

Gangguan pelayaran di kawasan ini berpotensi menghambat pengiriman minyak, meningkatkan biaya angkutan, serta mendorong pelaku pasar mencari pasokan alternatif.

Ancaman pasokan energi juga datang dari Eropa Timur. Serangan pesawat nirawak Ukraina kembali menyasar fasilitas energi Rusia, termasuk dugaan serangan terhadap kilang Ryazan yang merupakan salah satu kilang minyak terbesar negara tersebut.

“Kekhawatiran mengenai pasokan juga meluas hingga ke luar Timur Tengah. Ukraina kembali melancarkan serangan terhadap kilang minyak Rusia,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Jumat , 6 November 2026, merujuk pada laporan mengenai serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak.

Tekanan geopolitik tersebut tercermin dalam kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Jumat, 6 November 2026, JISDOR berada di posisi Rp18.130 per dolar AS, melemah dibandingkan hari sebelumnya sebesar Rp18.094 per dolar AS.

Bagi Indonesia, kombinasi pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak memiliki konsekuensi terhadap perekonomian nasional.

Indonesia masih membutuhkan impor minyak mentah dan bahan bakar minyak untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, sehingga perubahan harga internasional dapat memengaruhi biaya pengadaan.

Ketika rupiah melemah, perusahaan membutuhkan lebih banyak uang dalam mata uang domestik untuk membayar impor dengan nilai dolar yang sama.

Jika harga minyak internasional ikut meningkat, beban pengadaan energi berpotensi bertambah dari dua arah sekaligus.

Risiko tersebut juga berkaitan dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia sebesar US$70 per barel.

Harga minyak internasional yang bertahan jauh di atas asumsi anggaran dapat menambah tekanan terhadap belanja subsidi dan kompensasi energi, bergantung pada kebijakan pemerintah.

Bagi masyarakat, pengaruhnya tidak selalu langsung terlihat pada harga BBM di SPBU. Pemerintah masih memiliki instrumen kebijakan untuk mengatur harga energi tertentu, tetapi kenaikan biaya impor dan distribusi dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya transportasi maupun produksi barang.

Pelaku usaha yang bergantung pada bahan bakar, terutama sektor transportasi, logistik, perikanan, dan industri kecil, termasuk kelompok yang rentan terhadap perubahan biaya energi.

Jika tekanan berlangsung lama, kenaikan ongkos operasional berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui harga barang dan jasa.

Di sisi lain, perkembangan politik Amerika Serikat turut menjadi perhatian pasar setelah Partai Demokrat mengambil alih kendali kedua majelis Kongres dalam pemilihan paruh waktu.

Perubahan komposisi politik tersebut memunculkan harapan baru terhadap penyelesaian konflik internasional, meskipun belum menjamin perubahan situasi keamanan.

“Hasil tersebut sempat memicu harapan bahwa tekanan politik dapat mempercepat upaya untuk mengakhiri konflik. Namun, hasil pemilihan tersebut tidak menjamin tercapainya terobosan diplomatik,” kata Ibrahim di Jakarta.

Pergerakan rupiah berikutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan keamanan jalur minyak, harga energi global, dan respons kebijakan ekonomi.

Selama gangguan pasokan belum mereda, Indonesia menghadapi tantangan menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus melindungi daya beli masyarakat dari kemungkinan kenaikan biaya energi.