Logo

Laba Antam Melonjak, Rupiah dan Saham Tertekan

Reporter:,Editor:

Kamis, 29 October 2026 02:00 UTC

Laba Antam Melonjak, Rupiah dan Saham Tertekan

Gedung PT Aneka Tambang atau Antam (Tbk). Foto: www.antam.com

JATIMNET.COM, Jakarta – Keuntungan PT Aneka Tambang atau Antam (Tbk) melonjak ketika nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan pasar saham Indonesia mengalami tekanan.

Hingga September 2026, perusahaan pertambangan milik negara itu membukukan laba bersih Rp8,83 triliun, melampaui keuntungan sepanjang 2025 yang mencapai Rp7,21 triliun.

Berdasarkan laporan kinerja yang dipublikasikan Rabu, 28 Oktober 2026, produksi emas Antam pada kuartal III 2026 mencapai 202 kilogram, meningkat 34 persen dibandingkan 151 kilogram pada periode sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham induk selama Januari–September 2026 meningkat sekitar 48 persen dari Rp5,97 triliun.

Pertumbuhan tersebut jauh melampaui laju ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026, sedangkan pertumbuhan sepanjang semester pertama mencapai 5,45 persen.

Perbandingan ini memperlihatkan perbedaan kecepatan pertumbuhan keuntungan korporasi dengan perekonomian nasional.

Namun, pertumbuhan laba perusahaan dan produk domestik bruto (PDB) merupakan indikator berbeda sehingga tidak dapat digunakan untuk mengukur pemerataan manfaat ekonomi secara langsung.

Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menyatakan perusahaan terus memperkuat kegiatan operasional, strategi komersial, dan pengembangan portofolio bisnis untuk mempertahankan pertumbuhan keuntungan.

“Kami terus memperkuat fundamental bisnis melalui optimalisasi operasional, penguatan strategi komersial, serta pengembangan portofolio usaha untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Untung Budiharto dalam keterangan kinerja perusahaan di Jakarta, 28 Oktober 2026.

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, keuntungan Antam menunjukkan peningkatan signifikan. Pada 2021, laba bersih perusahaan tercatat Rp1,86 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp3,82 triliun pada 2022 sebelum turun 19,5 persen menjadi Rp3,08 triliun pada 2023.

Perusahaan kembali mencatat pertumbuhan pada 2024 dengan laba Rp3,65 triliun. Keuntungan kemudian melonjak hampir 98 persen menjadi Rp7,21 triliun pada 2025, sementara pendapatan mencapai Rp84,64 triliun.

Memasuki 2026, pendapatan Antam selama sembilan bulan pertama mencapai Rp88,48 triliun, meningkat 23 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Bisnis emas menjadi penyumbang terbesar dengan nilai penjualan Rp68,41 triliun atau sekitar 77 persen dari keseluruhan pendapatan.

Kinerja tersebut berlangsung ketika rupiah mengalami tekanan. Berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia, nilai tengah indikatif dolar AS pada 31 Desember 2025 berada di Rp16.782, kemudian meningkat menjadi Rp18.139 pada 28 Oktober 2026.

Perubahan itu setara kenaikan nilai dolar sekitar 8,1 persen terhadap rupiah. Artinya, kebutuhan satu dolar AS menjadi lebih mahal sekitar Rp1.357 dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai penerimaan berbasis dolar ketika dikonversikan ke mata uang domestik. Namun, dampak bersihnya terhadap Antam bergantung pada struktur penjualan, pembelian bahan baku, utang valuta asing, dan biaya operasional perusahaan.

Tekanan serupa terlihat di pasar saham. Pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, menjelang tengah hari, saham ANTM berada di kisaran Rp2.750–Rp2.780 per lembar, setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup Rp2.770.

Harga tersebut masih jauh di bawah posisi tertinggi 52 minggu sebesar Rp4.970. Bahkan, saham ANTM tercatat melemah sekitar 10 persen dalam satu bulan dan hampir 31 persen selama enam bulan terakhir berdasarkan data perdagangan yang tersedia menjelang siang.

Pelemahan saham Antam juga berlangsung ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,65 persen ke level 5.179,06 pada penutupan sesi pertama perdagangan 28 Oktober 2026.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan laba perusahaan tidak selalu langsung diikuti penguatan harga saham. Investor turut mempertimbangkan prospek harga komoditas, pergerakan nilai tukar, valuasi saham, dan risiko perekonomian global.

Bagi masyarakat, keuntungan Antam berpotensi memperbesar penerimaan negara melalui pajak dan dividen. Namun, pertumbuhan keuntungan perusahaan belum tentu langsung menurunkan harga emas batangan atau meningkatkan daya beli, terutama ketika pelemahan rupiah turut memengaruhi biaya impor.

Hingga kuartal III 2026, Antam menunjukkan pertumbuhan keuntungan yang jauh lebih cepat dibandingkan ekonomi nasional.

Tantangan berikutnya adalah mempertahankan profitabilitas ketika rupiah dan pasar saham tertekan, sekaligus memastikan manfaat pengelolaan sumber daya mineral dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.