Logo

Ratusan Warga Sudimoro Pacitan Menderita Diare Massal

Penyebabnya diduga karena bakteri dari air yang dikonsumsi
Reporter:

Senin, 26 January 2026 04:00 UTC

Ratusan Warga Sudimoro Pacitan Menderita Diare Massal

Ilustrasi diare. Foto: Klikdokter

JATIMNET.COM, Pacitan – Sebanyak 290 warga di wilayah Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan terdampak diare. Mayoritas di antaranya berusia di bawah lima tahun atau balita dan anak-anak. Mereka mengeluhkan mual dan gejala diare akut.

Kepala Dinas Kesehatan Pacitan dr Daru Mustikoaji mengatakan bahwa dari ratusan warga terdampak itu, sebanyak 42 di antaranya sempat dirawat di puskesmas. Namun, berdasarkan perkembangannya telah diperbolehkan pulang. Maka, semua pasien menjalani rawat jalan.  

Menurut Daru Mustikoaji bahwa kasus diare massal tersebut terjadi sejak 12 hingga 23 Januari 2026. Periode puncaknya pada Senin, 19 Januari 2026 dengan warga terdampak termasuk orang dewasa.

“Kecurigaan kami mengarah ke mikroorganisme (bakteri, virus, protozoa, alga atau fungsi) di dalam air (konsumsi),” katanya saat dihubungi, Senin, 26 Januari 2026.

BACA: Jangan Anggap Sepele Penyakit Diare, Ini Cara Mengatasinya

Guna memastikan dugaan tersebut, sampel yang air dari beberapa sumber yang telah diambil diuji di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya.

Selain itu, pemeriksaan virus sampel akan dikirim ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan di Jakarta. “Untuk hasil pemeriksaan laboratorium belum ada hasilnya,” ucap Daru.

Sembari menunggu hasil uji laboratorium, upaya pemutusan penyebaran penularan diare tetap dijalankan. Langkanya, dengan melakukan klorinasi di sumber air yang digunakan warga pada tanggal 23 Januari 2026.

Klorinasi adalah metode disinfeksi dengan menambahkan senyawa klorin (seperti klorin cair, gas, atau kaporit) ke dalam sumber air baku untuk membunuh bakteri, virus, dan protozoa patogen, serta mengontrol alga.

BACA: Warga Pacitan Dikabarkan Khawatir Dengan Temuan Gunung Bawah Laut

Fungsi lainnya, menghilangkan bau, dan mengurangi zat besi/mangan. Proses ini penting untuk memastikan air aman dari penyakit seperti kolera dan diare, serta memberikan perlindungan residual selama distribusi. 

“Kami juga melakukan sosialisasi tentang PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) kepada guru, kader, dan perangkat desa,” pungkas Daru.