Potensi Wisata Kota Tua Kawasan Segitiga Emas Surabaya Dikaji

Khoirotul Lathifiyah

Jumat, 5 April 2019 - 08:16

JATIMNET.COM, Surabaya - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Surabaya (Disparta) tengah mengkaji potensi wisata kota tua di kawasan segitia emas Jalan Tunjungan, Blauran, dan Embong Malang. Pengkajian ini sejalan dengan revitalisasi yang dilakukan di kawasan Jalan Kembang Jepun, Panggung dan Karet.

Kepala Disparta Suranbaya Antiek Sugiharti mengatakan menggali potensi wisata di segitiga emas ini merupakan bagian dari semangat membangkitkan wisata kota tua dan menata bangunan heritage.

Dirinya mengaku masih mengkaji beberapa potensi wisata kota di Surabaya. “Ini sudah kami siapkan, mulai dari menata kawasan kampung lama dan wisata kota lama. Ini juga masih kami kaji. Gak surprise dong kalau kami beberkan sekarang,” kata Antiek di ruang kerjanya, Kamis 4 April 2019.

BACA JUGA: Revitalisasi Kawasan Segitiga Emas Jalan Tunjungan Bernuansa Klasik

Seperti yang diketahui, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) sedang merevitalisasi Jalan Tunjungan terlebih dahulu karena terdapat sejumlah gedung heritage berukuran besar yang akan memakan banyak waktu untuk merevitalisasinya.

DCKTR akan mengecat beberapa gedung heritage di sepanjang Jalan Tunjungan. Warna catnya akan memiliki ciri khas masing-masing antara kota tua di Jalan Panggung, Kembang Jepun dengan Karet dan kota tua di kawasan segitiga emas.

Di segitiga emas akan dicat dengan konsep heritage atau warna klasik tanpa menghilangkan karakteristik bangunannya.

Kepala Bidang Bangunan dan Gedung DCKTR Iman Krestian mengatakan, pengecatan tersebut lebih menonjolkan detail bangunan heritage, terutama pada Gedung Siola yang dikombinasikan dengan warna merah dan putih.

BACA JUGA: Pemkot Akui Proses Revitalisasi Kembang Jepun Lamban

“Jadi beberapa gedung cagar budaya ini kami cat sesuai dengan aslinya, tetap dengan menonjolkan ciri khasnya. Kecuali Hotel Majapahit yang memang karakternya sudah berwarna putih,” katanya.

Iman menargetkan pengecatan gedung Siola bisa tuntas dalam jangka waktu satu bulan karena melihat kondisi cuaca selama pengerjaan berlangsung.

“Jadi cuaca ini masih menjadi kendala, karena pengecatan tidak bisa makasimal kalau hujan. Terpaksa tim kami berhenti mengerjakannya, kalau panas bisa cepat kelar,” ungkapnya.

Baca Juga

loading...