JATIMNET.COM, Jakarta - Kajian terbaru Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan populasi Harimau Sumatera saat ini tinggal 604 ekor yang hidup di alam liar. Satwa dilindungi ini hidup di habitat yang tersisa di seluruh Sumatera.

“Hasil kajian populasi dan habitat yang terbaru menunjukkan terdapat sekitar 604 ekor harimau yang hidup di alam liar. Inilah yang menjadi tantangan bagi kita semua dalam mempertahankan satu-satunya spesies harimau yang tersisa di Indonesia,” kata Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial KLHK, Tandya Tjahjana dalam siaran pers yang diterima Jatimnet.com, Rabu 13 Maret 2019.

Menurut Tandya, habitat dan kantong populasi harimau banyak berkurang pada periode 1985-2008 akibat adanya perubahan tutupan hutan dan perubahan fungsi menjadi peruntukan lain.

BACA JUGA: BBKSDA Riau Kirim Penembak Jitu Buru Harimau Sumatera

Selain itu, perburuan dan perdagangan ilegal serta terjadinya konflik manusia dengan harimau juga merupakan ancaman bagi kelestarian satwa dilindungi tersebut.

Karena itu, KLHK menargetkan peningkatan populasi Harimau Sumatera sebanyak dua kali lipat pada tahun 2022. Target tersebut tertuang dalam National Tiger Recovery Program (NTRP) 2010-2022.

Untuk memantau efektivitas konservasi Harimau Sumatera tersebut, KLHK bersama para mitra kerja meluncurkan kegiatan Sumatera Wide Tiger Survey (SWTS) di Jakarta, Rabu 13 Maret 2019.

BACA JUGA: WWF Sambut Positif Vonis Terhadap Pembunuh Harimau Sumatra

“Kementerian LHK terus berkomitmen dan menjalin kerjasama yang baik dengan para pihak terkait dalam upaya pelestarian Harimau Sumatera di alam," kata Tandya.

Ia mengatakan program konservasi berkembang dalam 10 tahun terakhir. Pelaksanaan kegiatan SWTS ini telah memasuki tahap kedua. ”

SWTS pertama telah dilaksanakan pada tahun 2007-2009 dengan hasil temuan bahwa 72 persen wilayah survei masih dihuni oleh Harimau Sumatera," katanya.

BACA JUGA: Harimau Sumatera Dibunuh Pasangannya di London

Menurut banyak ahli, kondisi tersebut dikatakan masih baik. SWTS pertama juga telah menjadi rujukan utama dalam penyusunan beberapa dokumen strategis konservasi Harimau Sumatera, baik dalam skala nasional maupun internasional.

Koordinator Pelaksana SWTS menyatakan, Hariyo T. Wibisono mengatakan SWTS 2018-2019 adalah kegiatan survei satwa liar terbesar di dunia, baik dalam hal kemitraan, sumber daya manusia yang terlibat, maupun luasan wilayah.

Sebanyak 74 tim survei (354 anggota tim) dari 30 lembaga diturunkan untuk melaksanakan survei di 23 wilayah sebaran harimau seluas 12,9 juta hektar, yang 6,4 juta hektar di antaranya adalah habitat yang disurvei pada SWTS pertama.