PLTSa Bantargebang Hasilkan Listrik 750 kWh

Hari Istiawan

Selasa, 26 Maret 2019 - 10:50

JATIMNET.COM, Jakarta  - Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, bisa menghasilkan listrik sebanyak 750 kWh dari sampah yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi. PLTSa ini memiliki kapasitas pengolahan sampah sebesar 100 ton per hari.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan saat meresmikan proyek percontohan (pilot project) Pengolahan Sampah Proses Thermal PLTSa Bantargebang, mengatakan, persoalan sampah harus kita selesaikan.

“Kita gunakan teknologi dalam negeri. 'Pilot project' ini hampir seluruhnya menggunakan Tingkat Komponen dalam negeri (TKDN)," katanya Selasa 26 Maret 2019.

BACA JUGA: Potensi Energi Terbarukan di Jatim Diprediksi 23 Ribu Megawatt

Luhut menuturkan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang diberi nama PLTS Merah-Putih ini adalah upaya pemecahan masalah sampah perkotaan di Indonesia.

"Kalau kita tidak mulai, kapan kita mau maju. Ini penting, kita bikin saja. Nanti kalo ini (PLTSa) sudah jadi 100 ton per hari, (selanjutnya) kita bikin untuk kota-kota seperti Labuan Bajo, Balige, Pontianak, kota-kota yang produksi sampahnya sekitar 100-200 ton per hari," ungkapnya.

Luhut juga menambahkan teknologi PLTSa ini dapat dimasukan dalam "e-katalog" milik pemerintah untuk mempercepat proses pengadaan bagi kota-kota yang ingin mengaplikasikan PLTSa.

BACA JUGA: Pemprov Jatim Mulai Programkan Energi Baru Terbarukan

Menurut dia, jika dapat diterapkan pada kota-kota lain di Indonesia, maka permasalahan penyediaan lahan untuk pembuangan sampah akan teratasi.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan PLTSa Merah-Putih menggunakan teknologi thermal yang terbukti dan telah banyak dipakai untuk proyek waste to energy di dunia.

Teknologi thermal tersebut juga ramah lingkungan karena dilengkapi dengan pengendali polusi.

Selain itu, kata Hammam, PLTSa ini ekonomis dan cocok digunakan untuk karakter sampah di Indonesia yang umumnya tercampur karena kurangnya kesadaran untuk memilah sampah sebelum dibuang.

BACA JUGA: Kementerian ESDM Gandeng Inggris Kembangkan Energi Rendah Karbon

Karakter sampah di Indonesia juga mengandung bahan organik yang tinggi, memiliki kelembapan yang tinggi, dengan nilai kalori yang rendah. Lebih jauh lagi, teknologi dan alat yang digunakan mengandung TKDN yang tinggi.

"Ini merupakan hasil kajian BPPT dan dibangun dengan mitra lokal. Sebagian besar peralatan merupakan produksi dalam negeri sehingga kami dengan bangga menamakannya PLTSa Merah-Putih," ungkap Riza.

Sementara itu, Menristekdikti M. Nasir menyinggung bahwa yang terpenting adalah pengelolaan sampah bukan listriknya, melainkan upaya membuat kota lebih bersih.

"Jangan sampai berpikir untuk menghasilkan energi, tapi berpikir bagaimana Jakarta bersih, Bekasi bersih, itu yang penting. Kita jangan menghitung berapa 'cost' per kWh-nya," pungkas Menristekdikti. (ant)

Baca Juga

loading...