Minggu, 28 June 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Hidup di tengah notifikasi. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Scroll tanpa tujuan telah menjadi salah satu kebiasaan digital yang paling umum di era modern. Banyak orang membuka ponsel hanya untuk mengecek satu informasi, tetapi berakhir menghabiskan waktu puluhan menit berpindah dari satu konten ke konten lainnya.
Fenomena ini terjadi hampir di semua kelompok usia, terutama generasi muda yang tumbuh bersama internet dan media sosial. Aktivitas tersebut sering terasa ringan dan tidak berbahaya. Namun jika dilakukan berulang setiap hari, dampaknya terhadap produktivitas ternyata cukup signifikan.
Data Digital 2025 menunjukkan bahwa rata-rata pengguna internet Indonesia menghabiskan sekitar 7 jam 22 menit per hari untuk aktivitas online.
Sebagian besar waktu tersebut digunakan melalui perangkat seluler yang selalu berada dalam jangkauan pengguna. Di tengah kemudahan akses informasi, perhatian manusia justru menjadi sumber daya yang semakin berharga.
Algoritma Dibuat untuk Mempertahankan Perhatian
Salah satu alasan kebiasaan scroll tanpa tujuan sulit dihentikan adalah karena platform digital memang dirancang untuk menjaga keterlibatan pengguna.
Media sosial modern menggunakan sistem rekomendasi yang mempelajari minat dan perilaku pengguna secara terus-menerus. Setiap interaksi membantu algoritma menyajikan konten yang semakin relevan.
Akibatnya, pengguna sering merasa hanya melihat beberapa konten singkat, padahal waktu yang terpakai jauh lebih lama dari yang direncanakan.
Fenomena ini dikenal sebagai attention economy, yaitu persaingan berbagai platform untuk memperoleh dan mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Dalam ekonomi digital saat ini, perhatian menjadi aset yang sangat bernilai karena berkaitan langsung dengan pendapatan iklan, data pengguna, dan aktivitas konsumsi digital.
Produktivitas Tidak Hilang Sekaligus, tetapi Sedikit Demi Sedikit
Banyak orang menganggap gangguan digital hanya berlangsung beberapa menit sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap pekerjaan atau belajar.
Padahal, penelitian dalam bidang psikologi kognitif menunjukkan bahwa setiap kali perhatian teralihkan, otak membutuhkan waktu tambahan untuk kembali fokus pada tugas utama.
Gangguan kecil yang terjadi berkali-kali sepanjang hari dapat menghasilkan kehilangan produktivitas yang jauh lebih besar dibanding yang disadari.
Misalnya, seseorang yang membuka media sosial selama lima menit sebanyak sepuluh kali sehari sebenarnya telah menghabiskan hampir satu jam hanya untuk aktivitas yang tidak direncanakan.
Ketika pola tersebut berlangsung setiap hari, waktu yang hilang dalam satu tahun dapat mencapai ratusan jam.
Informasi Berlimpah Tidak Selalu Membuat Lebih Tahu
Era digital memberi akses terhadap informasi dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setiap menit, jutaan konten baru dipublikasikan di berbagai platform. Pengguna dapat mengikuti berita, hiburan, tren, hingga aktivitas teman hanya melalui satu perangkat.
Namun, banyaknya informasi tidak selalu menghasilkan pemahaman yang lebih baik. Scroll tanpa tujuan sering membuat pengguna mengonsumsi informasi secara cepat tanpa benar-benar memproses atau mengingatnya. Konten terus berganti sebelum otak memiliki kesempatan untuk mendalaminya.
Akibatnya, seseorang dapat merasa sangat sibuk mengakses informasi tetapi tidak memperoleh manfaat yang sebanding dengan waktu yang dihabiskan.
Fenomena ini semakin sering dibahas dalam kajian literasi digital karena berkaitan dengan kemampuan manusia mengelola perhatian di tengah banjir informasi.
Notifikasi Membentuk Kebiasaan Reaktif
Selain algoritma, notifikasi juga menjadi faktor yang memperkuat kebiasaan scroll tanpa tujuan. Laporan global dari DataReportal menunjukkan bahwa pengguna internet rata-rata mengakses berbagai platform digital setiap hari untuk komunikasi, hiburan, dan informasi. Aktivitas tersebut membuat ponsel menjadi pusat perhatian hampir sepanjang waktu.
Notifikasi pesan, promosi, berita, dan media sosial menciptakan dorongan untuk terus memeriksa perangkat. Kebiasaan ini secara perlahan membentuk pola reaktif. Seseorang menjadi terbiasa merespons rangsangan digital dibanding menentukan sendiri apa yang ingin dikerjakan.
Ketika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, kemampuan fokus dalam jangka panjang dapat menjadi lebih sulit dipertahankan.
Mengelola Perhatian Menjadi Keterampilan Baru
Di tengah kehidupan yang semakin digital, produktivitas tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan bekerja keras. Kemampuan mengelola perhatian kini menjadi keterampilan yang sama pentingnya.
Banyak profesional mulai menerapkan berbagai strategi sederhana, seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, membatasi penggunaan media sosial pada jam tertentu, atau menempatkan aplikasi hiburan di luar layar utama ponsel.
Tujuannya, bukan untuk menghindari teknologi, melainkan menggunakannya secara lebih sadar. Teknologi digital tetap memberikan manfaat besar dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, kemudahan tersebut dapat berubah menjadi sumber distraksi yang terus menggerus waktu dan energi.
Pada akhirnya, dampak kebiasaan scroll tanpa tujuan terhadap produktivitas bukan hanya soal berkurangnya waktu kerja. Yang lebih penting adalah bagaimana kebiasaan tersebut memengaruhi kualitas perhatian, kemampuan fokus, dan cara seseorang menjalani aktivitas sehari-hari di era digital.
