Peningkatan Kasus Demam Berdarah Berkolerasi dengan Tingkat Kelembapan

Rochman Arief

Kamis, 18 April 2019 - 15:04

JATIMNET.COM, Jakarta – Hasil pengkajian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan peningkatan kasus penyakit demam berdarah berkolerasi dengan tingkat kelembapan yang tinggi di suatu lokasi.

Kepala Bidang Informasi Iklim Terapan Klimatologi BMKG Marjuki, mengatakan kecocokan antara data kelembapan udara di DKI Jakarta yang lebih dari 75 persen dengan jumlah kasus DBD yang meningkat di wilayah tersebut.

“Yang paling mempengaruhi terkait kasus DBD bukan curah hujan, malah kelembapan udara,” kata Marjuki, Kamis 18 April 2019.

BACA JUGA: Pemkot Malang Sediakan Rp4,2 Miliar Untuk Kendalikan Penyakit

Marjuki mengungkapkan pengkajian yang bekerja sama dengan sejumlah lembaga tersebut menunjukkan kecocokan iklim dan cuaca dengan pertumbuhan perkembangbiakan nyamuk.

Sementara itu, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Achmad Yurianto mengatakan kelembapan udara di atas 75 persen menjadi musim kawin nyamuk untuk kemudian berkembang biak jadi lebih banyak.

“Ini jadi jawaban kenapa di Arab Saudi ngga ada nyamuk karena sangat kering. Dan kenapa di hutan banyak banget nyamuknya karena kelembapannya tinggi,” kata Yurianto.

BACA JUGA: Hingga Februari, Jumlah Kasus DBD di Jember Mencapai 148

Dia menyebutkan hasil kajian ini akan dijadikan suatu model untuk upaya pencegahan guna mengurangi risiko kasus demam berdarah.

“Kami berharap, sudah punya pola sebelum menuju kelembapan tertentu, harus gencar melakukan sosialisasi ke masyarakat, promosikan kesehatan. Bukan setelah kejadian baru mencari nyamuknya,” jelas dia.

Dia mengatakan Kementerian Kesehatan mengevaluasi kejadian bencana yang terjadi pada 2018 sebagian besar karena hidrometeorologi yang seharusnya dapat diantisipasi.

Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes yang biasanya menjadi induk penanganan bidang kesehatan saat bencana kini mengupayakan mengantisipasi risiko bencana ketimbang upaya kuratif. (ant)

Baca Juga

loading...