Pemuda Palestina Berbagi Cerita Tragedi Kemanusiaan di Banyuwangi 

Ahmad Suudi
Ahmad Suudi

Sabtu, 16 Maret 2019 - 16:12

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Senyum Uday Al Akhras selalu mengembang selama acara penghimpunan bantuan kemanusiaan di salah satu kafe di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat 15 Maret 2019. Dia duduk di atas kursi menjadi pembicara, mengenakan jubah putih dan songkok hitam, ia menjawab berbagai pertanyaan dan melayani foto bersama.

Suasana damai di Banyuwangi berbeda jauh dengan tempat asalnya di Khan Younis, Gaza Selatan, Palestina. Di sana, kematian karena serangan bom menjadi peristiwa yang biasa terjadi. Anak-anak penuh debu gedung yang roboh berlari menghindari serangan mudah ditemui, bahkan air putih untuk minum juga sulit didapatkan.

"Hari ini saya bangun tidur dapat kabar rumah kami dibombardir secara besar-besaran. Ahamdulillah dengan izin Allah tidak ada yang meninggal dunia, tidak ada yang terkena dampaknya," kata Uday mengawali ceritanya.

BACA JUGA: ACT-MRI Suarakan Tragedi Kemanusiaan

Sulung dari 6 bersaudara ini kemudian menelepon keluarganya. Beruntung mereka semua selamat dari serangan tentara Israel itu. Namun pesawat tempur yang lewat di atas rumah dan ledakan bom yang dijatuhkan menjadi suara latar yang menyedihkan dalam percakapan keluarga lewat telepon itu. 

Dia mengatakan yang menjadi sasaran serangan kali ini adalah gedung-gedung lantai 5 hingga lantai 8. "Mereka tidak mau tahu siapa saja di dalam gedung, pasti diratakan dengan tanah," sambung Uday.

Dari seringnya melihat kematian karena bom, Uday mengatakan, masyarakat, para remaja hingga anak-anak telah terbiasa menyaksikan jenazah bergelimpangan. Bahkan dia mengaku sudah tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang akan terwujud bila Palestina merdeka nanti. 

Uday Al Akhras pemuda Khan Younis, Gaza, Palestina di Banyuwangi. Foto: Ahmad Suudi

Sebelum di Banyuwangi, mahasiswa semester 4 Syariah Islam Universitas Gaza itu juga mengikuti sesi wawancara di stasiun radio VIS FM. Dia menceritakan sekarang Palestina menghadapi musim dingin yang di waktu malam berlangsung selama 15 jam, dan sisanya siang.

Sebagian masyarakat memenuhi kebutuhan air minum dengan memasak air laut untuk memisahkan uap air dan kandungan garamnya. Air tawar dari Danau Tiberias di timur laut Nazaret di bagian utara sudah tidak bisa lagi mereka nikmati seperti sebelum-sebelumnya.

Pemuda yang telah kehilangan 5 orang sahabatnya karena serangan Israel itu mengatakan, keluarganya dan keluarga-keluarga lain hanya bisa menikmati aliran listrik selama 2 jam per hari. Bahkan di rumah sakit sering kali dilaksanakan operasi pada pasien hanya dengan bantuan pencahayaan senter dari gawai.

BACA JUGA: Jatim Darurat Banjir, ACT-MRI Buka Posko dan Lakukan Pendataan

Sedangkan pendidikan untuk anak-anak sangat terbatas karena mereka tidak memiliki alat tulis dan tas, alih-alih seragam dan sepatu layak. Demikian juga para pemuda Khan Younis yang menganggur karena banyak pabrik tutup terhambat blokade Israel di setiap titik jalan. 

"Jarak perjalanan yang bisa dicapai selama 10 jam, bisa ditempuh selama sehari karena banyaknya pemeriksaan," kata Uday.

Mandiri Ratu Warang Agung dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) Banyuwangi mengatakan Uday merupakan satu dari 15 pemuda Palestina yang didatangkan untuk menghimpun bantuan kemanusiaan untuk saudara-saudara mereka sendiri. Uday yang kebagian keliling Jawa Timur selama 3 minggu mengikuti acara-acara di Lumajang, Pasuruan, Malang, Blitar, Sidoarjo, Surabaya, Bangkalan, Sampang, Gresik, dan terakhir Banyuwangi.

Selain itu pihaknya berharap warga Palestina dan Indonesia yang selama ini memiliki hubungan bilateral erat bisa lebih saling mengenal.

BACA JUGA: MSR-ACT Bantu Bocah Penderita Tumor Kaki Asal Lampung

"Mereka dibagi ke provinsi-provinsi dan bertemu langsung dengan masyarakat Indonesia agar tergugah untuk menyampaikan kepedulian. Karena penyerangan Israel terhadap Palestina ini bukan masalah setahun dua tahun saja," kata Warang Agung.

Dari data ACT yang dibagikannya, sepanjang tahun 2018, 312 warga Palestina meninggal dunia dan 31 ribu terluka karena serangan. Di tahun yang sama 6.489 orang juga ditangkap otoritas Israel, 1.063 di antara anak-anak dan 140 wanita.

Penduduk Palestina saat ini sebanyak 4,95 juta jiwa, yang separuhnya sangat membutuhkan bantuan dari luar untuk bertahan hidup. Sebanyak 1,4 juta orang hidup di pengungsian, 1,7 juta alami krisis pangan, 1,9 juta alami krisis air bersih, dan 1,2 juta orang memerlukan pelayanan kesehatan.

Sementara ACT menyalurkan bantuan dari warga Indonesia untuk sekitar 900 ribu warga Palestina setiap tahun. Bantuan sampai di tangan mereka dalam bentuk bahan makanan, air bersih, perlengkapan sekolah, jaket, bahan bakar, dan dukungan pada pelayanan kesehatan.

BACA JUGA: ACT Berikan Bantuan Pendidikan Terhadap Rohingya

Data terbaru dari Tim Negara Kemanusiaan (Humanitarian Country Team - HCT) sampai Jumat 15 Februari, di tahun 2019, telah meninggal dunia 251 orang terkait serangan Israel. Sebanyak 30 persen di antaranya berada di Gaza, dan 27,5 persen di wilayah Khan Younis dimana Uday dan keluarganya tinggal.

Sementara 14.850 orang lainnya dilaporkan luka. Ribuan korban itu bagian dari gelombang demonstrasi di dekat pagar-pagar yang dibangun Israel, yang meningkat akhir-akhir ini setelah 11 tahun diberlakukan blokade.

Tidak hanya orang-orang Palestina yang frontal maju ke depan yang menjadi korban, namun juga paramedis yang tengah memberikan pelayanan kesehatan di lapangan. Setidaknya 3 orang paramedis meninggal dunia dan 105 terluka karena peluru tajam, belum termasuk ratusan paramedis yang terkena bentuk-bentuk serangan lainnya.

Baca Juga

loading...