Logo

Pemprov Jatim Telusuri Penyebab Utama Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto

Reporter:,Editor:

Senin, 12 January 2026 01:00 UTC

Pemprov Jatim Telusuri Penyebab Utama Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak. Foto: Dok/Jatimnet

JATIMNET.COM, Mojokerto – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) sedang melakukan investigasi epidemiologi terhadap menu soto ayam yang diduga menjadi penyebab keracunan massal di Kabupaten Mojokerto.

Hidangan tersebut dibagikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di Kecamatan Kutorejo, Mojokerto, ke sejumlah penerima manfaat, Jumat, 9 Januari 2026.

Beberapa saat setelah mengonsumsi menu tersebut, ratusan orang mengalami gangguan kesehatan. Gejalanya seperti, pusing, mual, muntah, dan diare.

BACA: Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto, Anggota DPRD Jatim Minta Evaluasi Total SPPG

Hingga Minggu kemarin, 11 Januari 2026, korban yang tercatat sebanyak 261 orang. Mereka terdiri dari siswa hingga orang tua siswa dan telah mendapatkan penanganan medis di beberapa fasilitas kesehatan (faskes) di Mojokerto.

Penyebab dari kejadian diduga bersumber dari SPPG. Maka, pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim melakukan penelusuran yang difokuskan pada rantai pasok bahan pangan hingga prosedur pengolahan.

Dalam upaya ini, Pemprov Jatim menemukan fakta yang tidak lazim. Korban tetap mengalami keracunan meski hanya mengonsumsi bagian tertentu dari menu, seperti daging ayam atau telurnya saja.

“Kami menemukan pola bahwa korban tetap terdampak meskipun hanya mengonsumsi bagian tertentu. Ini menjadi data krusial untuk menemukan akar permasalahan,” kata Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak saat meninjau korban keracunan massal yang dirawat di Pondok Pesantren Ma’had An Nur dan RSUD Prof. dr. Seoekandar, Kabupaten Mojokerto, Minggu, 11 Januari 2026.

BACA: Korban Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto Bertambah, 112 Anak Masih Dirawat

Dari peninjauan itu diketahui sebanyak 140 orang telah dinyatakan pulih dan dipulangkan. Sementara, 121 pasien lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah faskes di Mojokerto.

Saat ini, Dinkes Jatim masih menguji sejumlah hipotesis teknis, termasuk evaluasi bahan baku yang dipersiapkan sejak H-1, proses pengemasan, serta kemungkinan kontaminasi pada cangkang telur yang disimpan dalam satu wadah dengan bahan lain.

Insiden ini menjadi momentum bagi Pemprov Jatim untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan mutu dalam program MBG.