JATIMNET.COM, Surabaya - Provinsi Jawa Timur membidik pasar produk halal untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) Jawa Timur telah menganggarkan Rp 60 milliar guna memfasilitasi UMKM mendapat sertifikasi halal.

"Iya kami menjadikan semua produk UKM bersertifikasi halal. Target kami memang produk makanan dan minuman bersertifikasi halal," ujar Kepala Dinkop UMKM Jawa Timur, Mas Purnomo Hadi, Sabtu 9 Februari 2019.

Sektor makanan dan minuman, diakuinya, masih mendominasi produk UMKM di Jawa Timur. Dari 12,1 juta usaha kecil menengah di Jatim, 60 persennya adalah makanan dan minuman. Kemudian diikuti fashion sebesar 30 persen. Sisanya perhiasan, manik-manik dan kerajinan tangan.

BACA JUGA: Pembangunan Tol Gerus Pendapatan UKM Kota Probolinggo

Meski jumlahnya mendominasi, tetapi tidak dipungkiri, banyak pengusaha UKM sektor makanan dan minuman yang masih kesulitan mendapatkan sertifikasi halal. "Mereka menilai sertifikasinya lama dan mahal," tuturnya.

Sertifikasi halal bagi UKM masih menjadi momok. Data Forum Industri Kecil Menengah (IKM) Jawa Timur menyebutkan bahwa UKM yang memiliki sertifikasi halal baru 40 persen.

Biaya yang dikeluarkan antara Rp 3-5 juta sekali urus. Dengan masa berlaku 2 tahun.

BACA JUGA: BUMN-UKM Great Sale Ditarget Raup Transaksi Ratusan Miliar

Tarif sebesar itu dan masa berlaku yang terbatas dinilai terlalu mahal bagi UKM. "Kami fasilitasi dan dampingi agar mereka benar-benar bisa mendapatkan sertifikasi yang dapat memenuhi standar seperti BPOM dan halal. Itu kami fasilitasi. Namun hanya terbatas," ungkap Mas Purnomo.

Pemprov, disebutkannya, menyediakan anggaran Rp 60 milliar setiap tahun guna memberima pelatihan, pendampingan vokasional, promosi dan pengurusan sertifikasi.

Pengambil manfaatnya adalah UKM yang baru berkembang. "Kalau sudah besar biar cari sendiri, biar gak jagakne (tidak mengandalkan) dari pemerintah saja," ungkapnya.

BACA JUGA: UKM Diharapkan Menjadi Garda Terdepan Ekonomi

Pemprov Jawa Timur memang sedang membidik pasar ekspor makanan halal. Selain negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand, Mas Purnomo menyebutkan bahwa saat ini yang tengah dibidik adalah Timur Tengah.

Belum terlalu banyak produk UKM ke negara Arab. Presentasenya juga tak begitu besar. "Saya belum tahu pastinya berapa persen. Sebagian besar masih dibawa oleh tamu," tuturnya.

Kendati demikian, bukan berarti Dinkop UKM Jawa Timur berdiam diri. Berbagai upaya seperti melakukan kerjasama bisnis to bisnis, membawa UKM ke pameran di luar negeri hingga mendatangkan pembeli terus dilakukan.