Pembatasan Fitur WhatsApp Pengaruhi Transaksi Penjual Daring

Baehaqi Almutoif

Kamis, 23 Mei 2019 - 16:13

JATIMNET.COM, Surabaya - Pembatasan fitur pada WhatsApp yang dilakukan pemerintah membuat banyak pihak kelimpungan. Termasuk para pelaku jual beli dalam jaringan (daring), atau marketplace.

Sejak diluncurkan pertama kali pada 24 Februari 2009, aplikasi perpesanan ini sangat populer di Indonesia. Tidak hanya menghubungkan antar teman dan kerabat, melainkan juga pembeli dengan penjual.

Kojek, pria asli Surabaya yang menjual pakaian melalui salah satu marketplace mengaku terimbas dengan pembatasan fitur Whatsapp.

BACA JUGA: Pemerintah Batasi Fitur Foto dan Video Medsos untuk Sementara

"Pedagang online yang memasang barang dagangan di marketplace seperti saya ini sangat terganggu. Karena biasanya tawar menawar lewat Whatsapp," ujar Kojek dihubungi Jatimnet.com, Kamis 23 Mei 2019.

Sejak pemberlakuan pembatasan penggunaan WhatsApp, Rabu 22 Mei 2019 kemarin hingga Kamis 23 Mei 2019 ini, ia mengaku belum ada pesan masuk yang menanyakan barang dagangannya. Padahal dalam sehari Kojek biasanya selalu disibukkan 5-9 calon pembeli yang menghubunginya.

Hal senada juga disampaikan Misbahul Amin. Ia terang-terangan menyebut pembatasan mempengaruhi penjualan secara daring. Meski hari ini untuk berkirim pesan sudah kembali normal, dan hanya pembatasan foto tetap masih menyisakan masalah. "Biasanya pembeli meminta detail gambar. Dengan Whatsapp terganggu, susah jadinya," kata Amin.

Seperti diberitakan, pemerintah menerapkan sejumlah pembatasan sementara dan bertahap terhadap penyebaran foto serta video di media sosial dan sistem perpesanan.

BACA JUGA: Whatsapp Bikin Fitur untuk Cegah Berita Hoax Viral

Hal ini dilakukan karena banyaknya gambar dan video bermuatan negatif yang disebarkan untuk semakin memperkeruh suasana.

"Kami semua akan mengalami pelambatan kalau download atau upload video kemudian juga foto, karena viralnya yang negatif besarnya, mudhorot-nya ada di sana, tapi sekali lagi ini sementara secara bertahap," kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam konferensi, Selasa 22 Mei 2019.

Rudiantara mengatakan, para penyebar konten negatif ini modusnya biasanya dilakukan posting di media sosial, facebook, instagram, dalam bentuk video, dalam bentuk meme, dalam bentuk foto, kemudian di ' scren capture ' untuk diviralkan di sistem perpesanan, seperti Whatsapp.

Baca Juga

loading...