JATIMNET.COM, Zhengzhou - Ketua Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Beijing Oei Edy Susanto mengatakan sosialisasi Pemilu 2019 gencar dilakukan kepada seluruh masyarakat Indonesia di Cina.

"Kami proaktif menggelar sosialisasi kepada seluruh masyarakat  Indonesia di Tiongkok, baik dengan bertatap muka secara langsung, maupun melalui media dalam jaringan," ujar Edy Susanto, Selasa, 6 November 2018.

Edy mengatakan pemahaman WNI di daratan Cina terkait Pemilu 2019 masih rendah. Untuk itulah program sosialisasi Pemilu 2019 menitikberatkan pada proses pendaftaran pemilih.

Program sosialisasi melalui tatap muka dengan para WNI yang tersebar di  Beijing, Tianjin, Chongqing, Wuhan (Provinsi Hubei), Shijiazhuang (Provinsi Hebei), Zhengzhou (Provinsi Henan), dan Changsha (Provinsi Hunan).

Selain itu, sosialisasi juga akan dilakukan PPLN Beijing pada November ini di Dalian, Shenyang (keduanya di Provinsi Liaoning), Changchun (Provinsi Jilin), dan Harbin (Provinsi Heilongjiang).

Di Cina daratan terdapat tiga PPLN, yakni Beijing, Shanghai, dan Guangzhou. Namun PPLN Beijing memiliki jangkauan terluas, yakni 23 provinsi/kota ditambah Mongolia sesuai dengan wilayah kerja Kedutaan Besar RI di Beijing.

Meskipun  wilayahnya  luas, jumlah pemilih potensial yang  terdaftar pada Pemilu 2019 di wilayah kerja PPLN Beijing relatif lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah kerja PPLN Shanghai dan PPLN Guangzhou.

"Karena terbatasnya anggaran, kami belum bisa menjangkau seluruh WNI yang tersebar di 23 provinsi/kota di Tiongkok dan Mongolia," kata Edy.

Pihaknya, kata Edy, akan terus menggelar sosialisasi daring dengan menggunakan media "webinar" yang difasilitasi oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT), seperti  yang pernah dilakukan pada pertengahan Oktober 2018 yang tingkat penyebaran audiensinya lebih merata, termasuk menjangkau WNI di Provinsi Xinjiang di barat laut dan Provinsi Yunnan di barat daya.

Pemungutan suara Pemilu 2019 di luar negeri dilakukan dalam tiga alternatif pelaksanaan, yakni dengan mendatangi tempat pemungutan suara (TPS), didatangi petugas KPPS yang membawa kotak suara keliling (drop box), dan melalui pos surat.

Ihwal kurangnya pemahaman WNI di Cina terkait dengan Pemilu 2019 juga diakui Ketua PPIT Cabang Zhengzhou, Dzaki Sholihin. "Rata-rata kami pemilih pemula, sehingga belum punya pengalaman tentang pemilu," katanya.

Demikian juga dengan para pelajar asal Indonesia di Changsha, Provinsi Hunan, yang tidak mendapatkan pemahaman cukup tentang pemilihan presiden dan wakil presiden serta anggota  legislatif yang akan dilakasanakan serentak pada April 2019.

"Mungkin tidak hanya kami, kebanyakan pelajar Indonesia di sini baru ikut pemilu pada tahun depan," kata Ketua PPIT Cabang Changsha, Cindy Utamy Ramos. Meskipun  demikian,  PPIT  Zhengzhou  dan  PPIT  Changsha  telah  mendaftarkan  seluruh  anggotanya  sebagai  pemilih tetap untuk Pemilu 2019. (ant)