Kamis, 30 July 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Pasar Makin Modern. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Pasar tradisional terus menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan perkembangan zaman. Jika dahulu transaksi identik dengan uang tunai dan uang kembalian, kini semakin banyak pedagang yang menyediakan pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Perubahan ini membuat aktivitas belanja menjadi lebih praktis tanpa menghilangkan ciri khas pasar sebagai ruang interaksi antara penjual dan pembeli.
Transformasi tersebut terjadi di saat peran pasar rakyat masih sangat besar bagi perekonomian nasional. Berdasarkan Direktori Pasar Rakyat 2024 dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki 17.443 pasar rakyat, sedangkan Jawa Timur menempati posisi pertama dengan 2.574 pasar rakyat.
Jumlah tersebut menunjukkan pasar tradisional masih menjadi salah satu jalur distribusi utama berbagai kebutuhan pokok masyarakat.
Digitalisasi Hadir hingga Lapak Pedagang
Beberapa tahun terakhir, pembayaran digital semakin mudah ditemukan di pasar tradisional. Pedagang sayur, penjual bumbu, hingga kios sembako mulai menampilkan kode QRIS di lapaknya.
Bagi pembeli, perubahan ini memberikan kemudahan karena tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar. Proses pembayaran juga berlangsung lebih cepat, terutama ketika nominal transaksi sesuai dengan harga yang tertera.
Bank Indonesia mencatat perkembangan QRIS berlangsung sangat pesat. Hingga akhir 2024, jumlah pengguna QRIS telah melampaui 55 juta, sementara jumlah merchant mencapai lebih dari 35 juta, dengan sekitar 92 persen di antaranya merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Angka tersebut menunjukkan digitalisasi telah menjangkau pelaku usaha berskala kecil, termasuk pedagang di pasar tradisional.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa teknologi pembayaran semakin mudah diakses oleh masyarakat luas tanpa harus mengubah pola
usaha yang telah berjalan selama bertahun-tahun.
Kemudahan Bertransaksi Meningkatkan Kenyamanan
Pembayaran digital memberi keuntungan bagi kedua belah pihak. Pembeli dapat menyelesaikan transaksi hanya dalam hitungan detik, sedangkan pedagang tidak lagi direpotkan dengan persoalan uang kembalian.
Pencatatan transaksi juga menjadi lebih rapi karena setiap pembayaran tercatat secara otomatis. Hal ini membantu sebagian pedagang mengelola pemasukan harian dengan lebih mudah.
Di sejumlah pasar Surabaya seperti Pasar Wonokromo, Pasar Keputran, maupun Pasar Genteng, penggunaan QRIS mulai menjadi pemandangan yang semakin umum. Kehadiran teknologi tersebut berjalan berdampingan dengan aktivitas tawar-menawar yang tetap menjadi bagian dari budaya pasar.
Perubahan ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak harus menghilangkan hubungan personal antara penjual dan pembeli.
Pasar Tetap Menjadi Rumah bagi UMKM
Sebagian besar pedagang di pasar tradisional merupakan pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Data
Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan sektor UMKM memberikan kontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.
Ketika pedagang mulai memanfaatkan pembayaran digital, peluang untuk menjangkau lebih banyak konsumen ikut meningkat. Pembeli yang terbiasa menggunakan dompet digital merasa lebih nyaman bertransaksi karena metode pembayaran telah sesuai dengan kebiasaan mereka.
Digitalisasi juga membuka kesempatan bagi pedagang untuk mengikuti perkembangan sistem keuangan nasional tanpa harus meninggalkan model usaha tradisional yang telah mereka jalankan.
Perubahan tersebut menjadi contoh bahwa inovasi dapat diterapkan secara bertahap sesuai kebutuhan masyarakat.
Identitas Pasar Tidak Pernah Hilang
Meski metode pembayaran berubah, pengalaman berbelanja di pasar tetap terasa sama. Pembeli masih memilih sendiri bahan makanan, berbincang dengan pedagang, hingga menawar harga ketika membeli dalam jumlah tertentu.
Suasana khas pasar yang ramai sejak pagi, aroma rempah, suara pedagang menawarkan dagangan, serta hubungan akrab dengan pelanggan tetap menjadi daya tarik yang tidak tergantikan.
Teknologi hanya menjadi alat yang mempermudah transaksi. Nilai utama pasar tradisional tetap berada pada kedekatan sosial, kepercayaan, dan keberagaman produk lokal yang terus dipertahankan.
Hal itulah yang membuat pasar rakyat tetap bertahan sekaligus berkembang mengikuti perubahan perilaku masyarakat.
Pasar tradisional membuktikan bahwa modernisasi tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Kehadiran pembayaran digital justru memperkuat daya saing pasar dengan memberikan kemudahan bagi pedagang maupun pembeli.
Di Surabaya, perpaduan antara budaya tawar-menawar dan teknologi pembayaran menjadi gambaran bahwa pasar rakyat mampu berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai pusat ekonomi dan kehidupan masyarakat.
