Pasang Surut Parpol Peserta Pemilu Sejak 1955

Nani Mashita

Selasa, 26 Maret 2019 - 18:41

JATIMNET.COM, Surabaya –Indonesia bakal menggelar pesta demokrasi lima tahunan yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019. Masyarakat yang memiliki hak suara bakal manjadi penentu siapa saja wakil mereka menjadi legislator di tingkat kota/kabupaten, provinsi, dan pusat, serta Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Pemilu kali ini juga berbarengan dengan pemilihan calon presiden dan wakil presiden.

Data yang dihimpun Jatimnet.com dari berbagai sumber, Pemilu 17 April 2019 merupakan yang ke-12 sejak permilu pertama kali di gelar pada 1955. Jumlah partai politik yang mengikuti pemilu mengalami pasang surut. Ada yang pernah diikuti 172 parpol, tiga parpol, atau pun 48 parpol. Berikut sejarah pasang surut parpol peserta pemilu di Indonesia. 

1. Pemilu 1955

Pemilihan umum tahun 1955 dilaksanakan sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 29 September 1955 untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan pada tanggal 15 Desember 1955 untuk memilih anggota konstituante.

Pemilu pertama di Indonesia diselenggarakan atas dasar Undang-Undang nomor 7 tahun 1953 dan diikuti oleh 172 partai politik. Empat partai terbesar adalah PNI, Partai Masyumi, Partai Nahdlatul Ulama dan Partai Komunis Indonesia. 

BACA JUGA: GP Ansor Ajak Masyarakat Perangi Hoaks Jelang Pemilu

2. Pemilu 1971

Pemilu 1971 diselenggarakan pada 5 Juli 1971 dan diikuti oleh 10 partai politik. Dalam pemilu ini, Golkar memenangkan kursi mayoritas di parlemen sebanyak 236 kursi, disusul Partai NU 58 kursi dan PNI 20 kursi.

3. Pemilu 1977-1997

Di masa Orde Baru, dilaksanakan lima kali pemilihan yaitu tahun 1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997.  Selama lima kali pemilu di bawah Rezim Orde Baru, pemilu hanya diikuti oleh tiga partai politk yaitu Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Golongan Karya (Golkar). 

Selama periode ini, presiden dipilih dan diangkat oleh MPR. Golkar selalu memenangkan suara mayoritas dalam pemilihan legislatif. Setiap kali Golkar memenangkan pemilu, Soeharto kembali diangkat menjadi presiden dengan wakil presiden yang berbeda-beda.

Pemilu 1997 diselenggarakan pada 29 Mei untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) tingkat I dan tingkat II se-Indonesia dengan masa jabatan 1997-2002. Setelah itu, Soeharto yang sudah berusia 75 tahun diangkat lagi menjadi Presiden RI. 

BACA JUGA: Golput dari Pemilu ke Pemilu

Di tahun ini, Indonesia mulai memasuki masa krisis moneter yang berlanjut dengan terjadinya kerusuhan massal.  Di tahun 1998 sejumlah insiden berdarah mewarnai pemerintahan Soeharto, mulai dari penculikan aktivis penentang Soeharto, pemerkosaan perempuan Cina hingga peristiwa penembakan di Kampus Trisakti. Soeharto akhirnya berhasil dipaksa lengser 21 Mei 1998.

4. Pemilu 1999

Ini adalah pemilu pertama pasca runtuhnya Orde Baru. Partisipasi pemilih di tahun ini juga sangat tinggi yaitu 94,63 persen atau golput hanya 5,37 persen saja. Di bawah pemerintahan BJ Habibie, pemilihan legislatif diikuti oleh 48 partai politik diselenggarakan pada 7 Juni 1999.

PDI Perjuangan, partai baru yang dipimpin Megawati Soekarnoputri, memenangkan kursi parlemen di Senayan dengan 153 kursi. Disusul Partai Golkar dengan 120 kursi dan yang ketiga adalah Partai Persatuan Pembangunan dengan 58 kursi.

Tapi di tahun ini, pemilihan presiden masih dipilih oleh MPR. Saat itu ada dua kandidat yang dimunculkan yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri. Setelah melalui lobi panjang, MPR akhirnya melantik Gus Dur sebagai Presiden RI, dengan Megawati sebagai wakil presiden. 

BACA JUGA: Peran Pers di Pemilu 2019 Meredup

Di tengah perjalanan memerintah, Gus Dur dilengserkan oleh MPR dengan menggunakan skandal Buloggate. Hanya dua tahun memerintah, Gus Dur resmi lengser keprabon pada tanggal 23 Juli 2001 dan digantikan oleh Megawati Soekarnoputri. 

5. Pemilu 2004

Pemilu 2004 menjadi tonggak pesta demokrasi Indonesia yang baru. Di tahun ini, untuk pertama kalinya ada kuota minimal calon legislatif perempuan sebesar 30 persen. Selain itu, untuk pertama kalinya pemilihan presiden dipilih secara langsung. Di tahun ini pula, tidak ada Fraksi TNI/ABRI di parlemen.

Tercatat ada 150 partai politik yang mendaftar ikut memperebutkan kursi parlemen. Tapi pada akhirnya Pileg 2004 yang diselenggarakan pada 5 April 2004 hanya diikuti 24 partai politik.

Hasilnya, Partai Golkar menguasai parlemen dengan 128 kursi. Di posisi kedua adalah PDIP sebanyak 109 kursi dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mendapatkan 52 kursi. 

BACA JUGA: Khofifah Waspadai Konflik Sosial di Pemilu 2019 Mencuat

Setelah pileg, rakyat Indonesia menggunakan hak suaranya lagi untuk memilih presiden dan wakil presiden secara langsung pada 5 Juli 2004 yang berlangsung dua putaran. Pilpres akhirnya dimenangkan Soesilo Bambang Yudhoyono –Jusuf Kalla dan menandai periode pertama kekuasaan SBY.  

6. Pemilu 2009

Tahun 2009, rakyat Indonesia menyelenggarakan pemilu ketiga di era reformasi dengan sistem suara terbanyak. Ini artinya, calon legislatif yang mendapatkan suara terbanyak, meski bukan tokoh partai, bisa melaju ke Senayan. Aturan ini tertuang dalam UU 10 tahun 2008.

Pemilu 2009 diikuti oleh 38 partai politik nasional, sebagai imbas kemudahan syarat kepengurusan parpol di daerah. Di Aceh, tercatat ada enam parpol lokal yang berpartisipasi.

Meski begitu, tiga pemenang legislatif masih belum berubah dibandingkan dengan Pemilu 2004 lalu. Di pemilu yang diselenggaraan 9 April 2009, suara Demokrat masih unggul di Senayan dengan 150 kursi, disusul Golkar dengan 107 kursi dan PDIP dengan 95 kursi.

BACA JUGA: Kementerian Kominfo Identifikasi Ratusan Hoaks Jelang Pemilu

Selain memilih anggota legislatif, rakyat juga memberikan suara untuk memilih presiden dan wakil presiden pada 8 Juli 2009. Pasangan SBY-Boediono akhirnya memenangkan Pilpres 2009 dan menjadikan SBY menjabat untuk kedua kalinya.

7. Pemilu 2014

Pesta demokrasi tahun ini berdasarkan pada UU 8 /2012 dan menjadi pemilu ketiga di era reformasi. Di pemilu ini, ada kenaikan soal ambang batas parlemen dari 2,5 persen menjadi 3,5 persen. Coblosan Pileg diselenggarakan pada 9 April 2014.

Pemilu 2014 diikuti oleh 12 partai politik dan tiga partai lokal. Pemilu Legislatif 2014 dimenangkan oleh PDIP mendapatkan kursi mayoritas dengan 109 kursi, disusul Golkar dengan 91 kursi dan Gerindra 73 kursi.

BACA JUGA: Debat Pilpres Keempat Tanpa Undangan Menteri

Sedangkan Pemilihan Presiden diselenggarakan pada 9 Juli 2014 dan diikuti oleh dua pasangan calon yaitu Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Radjasa. Pada akhirnya, pasangan Jokowi-JK terpilih sebagai Presiden-Wakil Presiden RI 2014-2019. 

8. Pemilu 2019

Penyelenggaraannya berdasarkan UU 17 tahun 2017 dengan ambang batas parlemen tahun ini kembali naik menjadi 4 persen. Pemilu 2019 diikuti oleh 20 partai politik, empat di antaranya adalah partai lokal yang bertarung di Aceh.

Adapun peserta Pemilihan Presiden 2019 yaitu Joko Widodo–Maruf Amin dan Prabowo Subianto–Sandiaga Salahuddin Uno.

 

Baca Juga

loading...