JATIMNET.COM, Surabaya - Nilai tukar rupiah sempat menguat berada di angka Rp 14.082 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Senin 7 Januari 2019 sore.

Posisi tersebut menguat 1,31 persen saat ditutup pekan lalu, Jumat 4 Januari 2019 di Rp 14.270 per dolar AS. Paling perkasa dibanding negara di kawasan Asia lainnya. Diikuti Ringgit Malaysia yang menguat 0,54 persen, Won Korea Selatan 0,51 persen, Renminbi Cina 0,28 persen, Yen Jepang 0,27 persen, Dolar Singapura 0,17 persen dan Peso Filipina 0,03 persen. 

Menguatnya rupiah hari ini disebut Ekonom Universitas Surabaya Firman Rosjadi Djoemadi masih belum stabil. Pasalnya, pada pukul 11.43 berhasil berada di level Rp 13.990, namun terkoreksi menjadi Rp 14.082 pada sore hari.

BACA JUGA: Pelemahan Rupiah Tidak Ganggu Bisnis Travel Umrah

Ada beberapa faktor yang membuat rupiah masih naik turun, di antaranya permintaan valas cenderung turun untuk bayar utang. Kemudian belum pastinya kinerja ekspor dan impor luar negeri selama setahun lalu dibanding tahun sebelumnya. Terakhir adalah kebijakan bank sentral AS yang lebih berhati-hati.

“Beberapa waktu lalu bank sentral AS dikabarkan bakal menaikkan suku bunga. Sehingga dolar ditarik ke AS. Tapi gubernur bank sentral sepertinya lebih berhati-hati,” ujar Firman saat dikonfirmasi Senin 7 Januari 2019.

Ia memrediksi kondisi ini akan terus terjadi hingga akhir Januari. Pasar juga bakal melihat prospek dagang Indonesia mengecil atau tidak. Itu baru bisa dilihat ketika laporan kinerja ekspor impor selama 2018 keluar. “Yang kemarin kan masih sampai November. Selama setahun belum keluar,” tuturnya.

BACA JUGA: Rupiah Mulai Menguat Disebabkan Undervalued

Selanjutnya pertumbuhan ekonomi, bagaimana lajunya di awal tahun. Jika cukup menggembirakan berpengaruh kepada rupiah. Di samping juga anggaran pemerintah defisitnya harus semakin menipis pada 2019 ini.

“Itu nanti bisa mendorong rupiah stabil. Seharusnya memang sudah bisa stabil di akhir Januari. Tapi di angka berapa itu yang belum pasti,” kata Firman.

Namun terlepas dari itu, dirinya menyampaikan bahwa menguat pada hari ini disebabkan kuatnya arus modal yang masuk. Perubahan yang cukup banyak dibanding pekan lalu ada pengaruh dari aspek psikis.

“Pasar masih menaruh ekspektasi yang berlebih atau sangat besar. Baik itu di perdagangan ekspor impor atau yang lainnya,” kata Firman.